Sastra

Muhasabah

Oleh: Ickur

Si Fadli memang anak yang aktif. Hampir tiap hajatan di kampung dia ada. Di Madrasah apa lagi, dia akrab sama semua temannya yang sekelas maupun adik kelasnya. Dia tahun ini sudah kelas enam MI. Padahal bukan Fadli yang jadi juara kelas, juara kelasnya adalah Rara. Rara menangnya pada pelajaran umum, tapi gak bisa saingi Fadli pada pelajaran agama.

Di Madrasah ini, laki-laki dan perempuan berada dalam satu ruang kelas, bercampur. Sebenarnya kepala madrasah ingin memisah antara kelas laki-laki dan kelas perempuan, tapi siswanya sedikit, cuma delapan orang untuk kelas enam dan jumlah seluruh siswa cuma lima puluh dua orang, gurunya pun sedikit cuma lima orang, enam orang sama Kepala Madrasah.

Fadli diuntungkan oleh sistem pembelajaran di Madrasah. Masuk pagi pukul tujuh lima belas, dimulai dengan do’a bersama di Masjid Madrasah. “Do’anya panjang minta ampun” kata Fadli saat mengenang pertama kali menjadi siswa di Madrasah itu. Dari do’a belajar sampai do’a-do’a sehari-hari semua dibaca ditambah Muqaddimah yang dikutip di awal kitab al Hikam, sampai Asmaul Husna. Betul-betul masa-masa yang berat bagi Fadli.

Setelah selesai membaca do’a bersama, mereka masing-masing menuju kelas, berbaris di depan kelas kemudian membaca Pancasila, Rukun Islam dan Rukun Iman. Ini dilakukan tiap hari sebelum mulai palajaran pertama. Dan pada saat Fadli duduk di kelas empat, sebelum masuk kelas harus ditambah bacaan sepuluh nama malaikat dan dua puluh lima nama Nabi dan Rasul.

Terkait

Tapi si Fadli, meskipun bukan juara kelas tapi dia mempunyai kemampuan menghafal yang sangat bagus. Bacaan do’a bersama yang tiap pagi dibaca di Masjid Madrasah dihafalnya dengan tidak sengaja. Hanya dalam waktu satu semester saja Fadli telah menghafal semua bacaan do’a bersama, Pancasila, Rukun Islam dan Rukun Iman. Ditambah sebelum pulang, sekitar pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, semua siswa Madrasah harus berkumpul lagi di Masjid Madrasah untuk shalat dhuha.

Sebelum shalat dhuha dimulai, sembari menunggu siswa berwudhu, siswa yang mendapat tugas membaca wirid dan dzikir melaksanakan tugasnya. Siswa membaca Shalawat Nariyah, Syi’ir Ibadallah, dan Sifat Dua Puluh. Setelah itu mereka shalat berjama’ah dengan seluruh bacaan shalat dibaca dengan suara nyaring secara bersama-sama.

Setelah shalat dhuha, siswa membaca wirid setelah shalat, wirid panjang seperti yang biasa dibaca di masjid kampung pada saat selesai shalat subuh berjama’ah. Karena kebiasan ini, Fadli bisa hafal bacaan shalat, dzikir dan wirid setelah shalat, lagi-lagi tanpa sengaja untuk menghafalnya. Dan hal ini juga yang membuat Fadli rajin untuk ikut shalat bejamaah di Masjid, karena dia bisa mengikuti wirid panjang yang dibaca oleh Imam Masjid setelah shalat. Apalagi pada malam Jum’at, usai shalat isya di Masjid, Fadli ikut jama’ah umtuk baca Yasin dan tahlil di rumah jama’ah masjid yang mendapat giliran menjadi tuan rumah.

Fadli sangat antusis ikut Yasinan dan Tahlilan karena setelah acara selesai akan dilanjut dengan “sedekah” makanan dari tuan rumah.

“Sudah dapat pahala, dapat makanan lagi” kata Fadli dalam hatinya.

Fadli sangat antusias ikut kegiatan keagamaan di kampungnya karena saat itulah dia bisa menunjukkan kepada orang-orang ilmu yang telah dia dapat di Madrasah, dapat pahala, dan tentu saja dapat makanan, biasanya masih ditambah dengan pulang ke rumah membawa berkatan.

###

Suatu hari Fadli mengajak Joni, tetengganya yang bersekolah di Sekolah Dasar Negeri untuk ikut acara yasinan di rumah Pak Imam yang tidak jauh dari rumah Fadli. Pak Imam ini namanya lengkapnya Imam Mujahid, dia Imam di Masjid kampung yang namanya Masjid Al Imam. Masjid ini dibangun dengan biaya pembangunan semuanya dari bapak Pak Imam saat Pak Imam baru saja dilahirkan.

Fadli menemui Joni si rumahnya, tapi Joni tidak mau ikut Fadli ke acara Yasinan.

“Ayahku ngelarang” kata Joni.

“Loh, kok dilarang, kan kita dapat pahala kalo baca yasin” kata Fadli.

“Ayahku bilang orang yang sudah meninggal itu amalannya sudah terputus”. Kata Joni menyampaikan alasannya

“Ya iyalah. Kan, sudah meninggal. Gak bisa beramal lagi!” kata Fadli membalas.

“Jadi, sia-sia kita bacain yasin, kirimin do’a”. Kata Joni menjawab Fadli.

“Kata ayahku, kalo orang sudah meninggal amalannya sudah terputus kecuali dia punya amal jariyyah, ilmunya bermanfaat, dan anaknya yang shaleh mendo’akannya”. Lanjut Joni menirukan kata-kata ayahnya.

“Iya sama, guruku di Madrasah juga bilang gitu. Tapi, Apa ayahmu juga bilang kalo surah Yasin dan do’a yang kita baca gak dikasih pahala dari Allah?”. Kata Fadli diakhiri pertanyaan.

“Yang bikin acara yasinan dan tahililan itu Pak Imam. Untuk mendo’akan orang tuanya yang sudah meninggal. Masjid kampung ini amal jariyyah orang tuanya Pak Imam loh, ilmu orang tuanya pak Imam juga bermanfaat karena berhasil mendidik pak Imam, dan orang tua pak Imam punya anak yang shaleh, yang jadi Imam Masjid di kampung ini. Berarti amal orang tua Pak Imam gak terputus”. Kata Fadli berpanjang lebar.

Sebagai anak yang belajar di Madrasah, jelas Fadli tidak mau kalah sama anak yang belajar si sekolah umum. Mulailah muncul sikap usilnya.

“Kalo yasinan dan kirim do’a untuk orang tua Pak Imam sia-sia aja, ntar aku bilang ke orang-orang yang ikut yasinan supaya kita do’akan Joni cepat mati, kalo mati nanti masuk neraka, dan disiksa selama-lamanya”. Kata Fadli.

###

Fadli sudah hafal Juz Amma saat duduk di kelas lima. Kalau yang ini, Fadli bisa hafal melalui pejuangan dan kerja keras. Pak Ardi, guru Madrasah yang mengajar Al Qur’an Hadits dan Bahasa Arab sangat telaten dalam membimbing siswanya menghafal Juz Amma. Program satu ayat per hari, ayat yang sudah dihafalkan hari ini harus diulangi lagi besok hari sebamyak dua puluh kali, setelah itu baru ditambah menghafal satu ayat berikutnya.

Pak Ardi tidak akan melanjutkan hafalan kalau ada pelafalan huruf, hukum bacaan dan panjang pendeknya yang keliru, pasti akan diperbaiki dan diulang-ulangi.

“Kalo kalian kubiarkan dengan pelafalan huruf yang keliru, itu akan terbawa sampai kalian besar. Banyak di luar sana yang bacaan Al Qur’annya keliru tapi berani mimpin shalat’ kata Pak Ardi.

Seketika Fadli teringat Pak Imam.

“Mungkin Pak Ardi menyindir pak imam kali ya(?)” Kata Fadli dalam hati.

Fadli memang sering mendengar penyebutan huruf yang kurang tepat dan penjang pendek bacaannya keliru ketika Pak Imam memimpin shalat berjama’ah di Masjid. Tapi dia tidak berani menegur, takut kena marah. Padahal Pak Imam orangnya sangat ramah, murah senyum, dan belum sekali pun Fadli melihat Pak Imam marah.

Sejak rajin shalat berjamaah di Masjid, Fadli jadi hafal bacaan surah pendek setelah Surah Al Fatihah yang dipilih oleh Pak Imam. Kalau Maghrib, yang dibacanya pasti surah An Nashr di raka’at pertama, kemudian pada raka’at kedua membaca surah Al Ikhlash. Saat shalat isya, di raka’at pertama membaca surah Al Kafirun dan pada raka’at kedua membaca surah Al Ikhlas. Serta pada saat shalat subuh, pada raka’at pertama membaca surah Al A’la kemudian di raka’at kedua membaca Ad Dhuha.

Yang menarik bagi Fadli adalah cerita Pak Ardi. Jika giliran pak Imam yang jadi Khatib pada hari Jum’at, materi khutbahnya itu-itu saja yang diulang-ulangi selama puluhan tahun. Fadli sampai hafal isi khutbah yang disampaikan oleh Pak Imam saking seringnya didengar. “Muhasabah” atau introspeksi diri dan “baik sangka jauh lebih baik daripada buruk sangka, meskipun buruk sangka itu benar dan baik sangka itu salah”.

Suatu hari, usai shalat Jum’at, Pak Ardi mendekati Pak Imam. Tinggal mereka berdua saja yang ada di Masjid.

“Pak Imam, kenapa dari dulu yang disampaikan itu-itu aja saat khutbah? Jama’ah bisa bosan mendengarnya”. Tanya Pak Ardi.

“Jama’ah bukan bisa bosan mendengar, tapi memang sudah bosan’. Jawab Pak Imam.

“Kenapa gak diganti aja ke pembahasan lain?’ tanya Pak Ardi lagi.

“Ya , karena yang kutau itu-itu aja. Lagian orang cuma mendenganya sampai-sampai mereka bosan” kata Pak Imam.

“Kata almarhum bapakku, jangan pernah bosan menyampaikan kebaikan kepada orang lain, sampai orang lain itu mengamalkan kebaikan yang telah kamu sampaikan” lanjut Pak Imam.

“Yang aku liat, orang-orang belum mengamalkan apa yang telah kusampaiakan selama bertahun-tahun, buktinya ghibah masih merajalela di kampung ini. Buruk sangka masih menguasai hati dan pikiran kita.”

“Mungkin terlalu naif kalo aku mengatakan ‘kita’, biarlah aku ralat kata-kataku tadi. Buruk sangka masih menguasai hati dan pikiranku. Padahal aku sendiri yang menyampaikan pentingnya muhasabah dan baik sangka.” Lanjut Pak imam sembari menundukkan kepala.

###

Di kampung itulah Fadli manjalani masa kecilnya dengan berbagai dinamika kehidupan. Dia menjadikan dua figur utama sebagai panutannya, Pak Ardi sosok intelektual yang pada masa itu dianggap sebagai ahli dalam ilmu-ilmu Agama, dan Pak Imam sebagai figur yang tawadhu atau rendah hati, meskipun ketinggian ilmunya tidak menyamai Pak Ardi, tapi Fadli bisa merasakan kemuliaan hati dari Pak Imam. Itu terlihat dari cara Pak Imam bertutur kata dan cara memperlakukan orang lain dengan sangat santun.

Fadli mengharap Kedua hal ini; Ilmu dan tawadhu kelak menyatu dalam dirinya. Meskipun berilmu tinggi, tetapi tetap harus rendah hati.*

Selengkapnya...
Back to top button