DPRD Bontang

Insentif Nakes Telat Jadi Sorotan DPRD Bontang

TIMUR MEDIA – Pembayaran insentif tenaga kesehatan di Kota Bontang, Kalimantan Timur mengalami keterlambatan. Persoalan ini menjadi pembahasan DPRD Kota Bontang dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang.

Menurut anggota DPRD Kota Bontang, Sumaryono, keterlambatan insentif Tenaga Kesehatan merupakan masalah yang harus segera mendapatkan jalan keluar. Sumaryono menilai jika pembayaran nakes adlah berkaitan dengan keejahteraan nakes itu sendiri.

Terkait insentif nakes yang tertunggak, Sumaryono berharap pihak RSUD dapat terus
mendorong pemerintah Kota Bontang agar proses pencairan dapat segera dilakukan.

Kondisi tersebut terjadi karena perubahan regulasi mulai dari Kementerian Keuangan hingga Kementerian Kesehatan.

“Harus diperhatikan lagi Nakes kita, khawatirnya nanti terjadi gejolak dan nakes mogok
kerja jika adanya keterlambatan kesejahteraan. Dinkes harus bener-benar membayar
insentif sesuai arahan dan prosedur agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,”
ungkap Sumaryono.

Karena itu, Sumaryono meminta agar pemerintah segera kesejahteraan nakes diperhatikan, terlebih di masa pandemi saat ini. Pasalnya, kerja tenaga kesehatan (nakes) tidak bisa dianggap remeh.

Konsekuaensi adanya keterlambatan pembayaran insentif bagi tenaga kesehatan di Kota Bontang ini berkaitan dengan rencana penambahan tenaga kesehatan yang sedang diajukan, Menurut Sumaryono, baik pihak RSUD Taman Husada Bontang maupun Dinas Kesehatan Bontang perlu mengukur dan memastikan kemampuan penggajian saat akan menambah tenaga medis.

Sehingga, persoalan keterlambatan maupun ketidakmampuan penggajian dapat teratasi sejak dalam perencanaan dan tidak sampai terkendala lagi.

“Jangan sampai penambahan nakes ini menjadi kendala. Takutnya setelah pandemi berakhir sehingga tenaga akan over tapi ternyata pihak RSUD sudah ada kesepakatan sistem kerja karena ada penambahan ruangan tapi tidak ada penambahan tenaga,” ujar Sumaryono. (ADV)

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button