Mozaik

Islam Korea: Senyum Damai Para Muallaf

Penulis: Ickur
(Ketua LAKPESDAM NU Balikpapan)

Entah kenapa aku tertarik menyaksikan tayangan para VLOGGER KOREA, aku tulis dengan huruf besar supaya jelas bahwa yang aku tonton specially saat bulan Ramadan kemarin adalah kreasi konten para Muallaf Korea, bukan Drama Korea atau lebih akrab dengan sebutan Drakor.

Drama Korea ini justru tambah ramai karena “katanya(?)” diharamkan oleh Ustadz Masyhur di negeri ini, sebut saja namanya UAS.

Sebelum lanjut, aku perjelas dulu yang dimaksud Korea di sini adalah Korea Selatan (Korsel). Kalau Korea Utara (Korut) pembahasannya jadi ngeri, serba tertutup, dan satu lagi yang membuat Korut layaknya monster menakutkan, mereka adalah Komunis. Korut berprinsip bahwa SEMUA MANUSIA SAMA DERAJATNYA DI HADAPAN NUKLIR.

Kembali ke topik…
Awalnya Chanel Youtube-ku terarah ke beberapa chanel orang-orang Korea yang fasih berbahasa Indonesia seperti Korea Reomit milik Jang Hansol, Bung Korea dan SunnydahyeIn, mereka ini benar-benar fasih karena pernah tinggal lama di Indonesia. Ada juga Bandung Oppa, seorang alumni Jurusan Bahasa Indonesia di salah satu Universitas di Korsel, tapi kurang fasih, mungkin karena kurang terlatih bercakap dengan penutur asli Bahasa Indonesia.

Para Youtubers Korea yang fasih berbahasa Indonesia tersebut bukanlah muallaf sebagaimana yang akan kita bahas, tapi Chanel youtube mereka telah mengarahkan aku ke chanel youtube para Muallaf Korea, terutama, Korea Reomit yang saat Ramadan kemarin membuat beberapa konten tantangan berpuasa dan buka puasa bareng orang Indonesia yang bekerja di Korsel, juga SunnydahyeIn yang tertantang bersama suaminya untuk ikut berpuasa selama Ramadan tahun 2020.

Youtubers Korea yang kemudian memilih mengucapkan dua kalimat syahadat dan penyatakan diri sebagai Muslim/muslimah adalah Daud Kim, Rasheed Oh dan saudaranya Shaeed Oh, serta seorang perempuan bernama Zahra Queen.

“ketika saya berkunjung ke negara Islam (mungkin maksudnya negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam), saya bertemu dengan banyak muslim dan mereka banyak mengubah pikiran saya. Saya memiliki gambaran yang buruk tentang Islam karena media. Saya sepenuhnya berubah setelah bertemu mereka. Perilaku mereka dalam hidup, hati mereka yang damai dan menghargai, saya sangat terkesan”. Kata Daud Kim di salah satu konten Youtubenya.

Seperti efek domino, Rasheed Oh seorang Subsciber Daud Kim juga masuk Islam. Menyusul Shaeed Oh saudaranya. Dua orang bersaudara ini mengaku terinspirasi karena konten Youtube Daud Kim. Rasheed Oh mengaku tertarik pada Islam karena dia ingin hidup damai dan menjadi orang yang bisa berprilaku santun serta berkata sopan, penjelasan tersebut dia temukan ketika membaca Al Qur’an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Korea.

Berbeda dengan ketiga Daud Kim dan kawan-kawan yang setelah menjadi muslim tetap berpenampilan K-Pop layaknya artis Drakor, Zahra Queen yang jauh lebih dulu menjadi muslimah, kini berpenampilan layaknya gaya muslimah urban. Zahra sempat depresi dan harus minum pil anti depresi tiap hari. Saat menjadi Volunteer, Zahra bertemu dengan orang-orang Islam, Dia kaget karena teman-teman muslimnya tetap bisa tersenyum walau tanpa duit, sesuatu yang berbeda sama sekali dengan prinsip hidup yang dijalani orang-orang korsel yang meterialistis dan kompetitif.

Apa yang bisa kita lihat dari para muallaf Korea ini adalah pandangan mereka sebelumnya terhadap Islam. Islam yang terbentuk dalam benak mereka adalah Islam dalam wajah buruk, baik yang dibentuk oleh pemberitaan media maupun imbas dari tindakan kelompok yang mengatas namakan Islam dengan perilaku biadab yang jauh dari nilai Islam.

Perilaku buas, kejam dan dipenuhi kekacauan dari kelompok Islam intoleran secara massif diberitakan oleh media menutup fakta bahwa Islam adalah Agama yang membawa kedamaian untuk seluruh alam.

Untungnya, Islam yang penuh kedamaian dan senyum ramah inilah yang ditemukan oleh para Youtbubers muallaf dari Korea, mengetuk hati mereka, menjernihkan pikiran dan akhirnya mereka pun menerima hidayah dari Allah azza wa jalla.

Meskipun mereka adalah minoritas, dipandang aneh oleh orang-orang di sekitarnya, serta harus menempuh perjalanan jauh untuk dapat melaksanakan Shalat berjama’ah, tapi gairah mereka terus menggeliat untuk melaksanakan ajaran Islam yang kini mereka anut. Senyum damai dari mereka, para Muallaf Korea.*

 

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button