Kaltim

Banjir Kaltim Diduga Imbas Eksploitasi Alih Fungsi Lahan

TimurMedia.com:

TIMURMEDIA.COM – Tiga kota di Kalimantan Timur terendam banjir selama sepekan terakhir atau sejak perayaan hari pertama Idul Fitri, 5/6/2019.

Hujan sehari penuh di Banua Etam, julukan Kaltim; merendam Samarinda, Bontang serta sebagian Kutai Kartanegara dengan ketinggian air maksimal 130 sentimeter.

Lembaga Swadaya Masyaraka Jaringan Advokasi Tambang menduga banjir ini dampak dari diobralnya izin pertambangan kota/kabupaten di Kaltim.

Jatam Kaltim mengingatkan, konsekuensi negatif eksploitasi tambang bagi keberlangsungan lingkungan.

“10 tahun lalu sudah kami ingatkan, ada konsekuensi bencana lingkungan yang akan diterima warga,” tegas Dinamisator Jatam Kaltim, Pradharma Rupang, seperti dilansir Beritatagar, Rabu 12/6/2019.

Dalam publikasi Jatam dijelaskan, 12,7 juta hektare atau 72 persen area Kaltim beralih fungsi menjadi area tambang dan kebun kelapa sawit. Sedangkan sektor pertanian hanya seluas 69 ribu hektare atau 1 persen dari total wilayahnya.

Sehubungan itu, Pradharma mendesak Pemprov Kaltim secepatnya merumuskan peraturan daerah pemulihan pascatambang. Aturan ini nantinya untuk mendesak perusahaan melaksanakan kewajiban reklamasi dan pemulihan lingkungan.

Selama bertahun-tahun, Jatam Kaltim bersuara lantang menentang industri tambang di kota/kabupaten. Mereka mencatat ada 1.404 izin, 632 lubang bekas tambang dan 34 korban tewas di sana.

“Korban tewas baru saja terjadi pada bulan puasa di Samarinda. Siswi sekolah dasar ini tenggelam di lubang bekas galian PT Insani Bara Perkasa,” papar Pradharma.

Demikian pula bencana kali ini pun jadi imbas kerusakan lingkungan Kaltim. Bahkan banjir kali ini relatif lebih besar karena melanda 3 kota dalam kurun bersamaan.

“Ada perubahan fungsi area tangkapan air di Kaltim menjadi tambang. Kawasan itu dulunya perbukitan, rawa-rawa, dan hulu sungai,” ungkap Pradharma.

Kerusakan lingkungan terparah terjadi di Samarinda dengan 71 persen wilayah beralih fungsi menjadi tambang. Pemkot Samarinda meninggalkan warisan 76 izin dan 300 lubang galian tambang.

“Banjir akhirnya terjadi di Sungai Pinang, Samarinda Utara, Samarinda Ulu, dan Samarinda Kota,” papar Pradharma.

Banjir semakin parah ketika hujan lebat terjadi di Tenggarong Seberang, wilayah yang berbatasan langsung dengan Samarinda. Di wilayah ini terdapat 43 izin tambang, khususnya di Muara Badak dan Marang Kayu Kukar.

“Banjir di Kukar terjadi di kawasan yang berbatasan dengan Samarinda. Air berasal dari kawasan yang tidak mampu menyerap air,” lanjut Pradharma.

Kabupaten Kukar turut menyumbang 625 izin tambang seluas 2 juta hektare. Jatam mencatat Kukar dan Samarinda sebagai daerah dengan kerusakan lingkungan terparah akibat tambang.

Sedangkan Bontang, baru pertama kali ini mengalami banjir besar. Meski demikian, Bontang pun menerbitkan 7 izin tambang –dua diantaranya untuk perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara.

Sedangkan dua perusahaan lain pemegang kontrak karya adalah PT Indominco Mandiri dan PT Tambang Damai.

“Dua perusahaan PKP2B ini memiliki area izin konsesi puluhan ribu hektare. Bila sekarang Bontang juga terkena banjir dipastikan akibat keberadaan tambang di sekitar wilayah mereka,” ujar Pradharma.

Tuduhan Jatam berdasarkan sebaran banjir yang di sekitar area tambang. Banjir terjadi di wilayah muara Bontang dan beberapa desa di Taman Nasional Kutai. “Karena ada aktivitas tambang juga di kawasan konservasi ini,” tuturnya.

Jatam sudah lama mengusulkan perumusan perda ini agar bisa ditindaklanjuti provinsi. Namun, usulan ini langsung memperoleh penolakan dari DPRD Kaltim.

“Perwakilan legeslatif banyak tersandera kepentingan perusahaan tambang. Mereka malah membuat perda minerba yang hanya duplikasi Undang Undang Minerba,” sesalnya.

Bencana ini akhirnya mengundang simpati perusahaan perusahaan dengan turut mengirimkan bantuan. PT Pertamina, misalnya, langsung mengirimkan bantuan sembako dan gas elpiji untuk dapur umum warga.

“Kami akan berikan bantuan tahap awal yaitu kebutuhan bersifat mendesak,” kata Region Manager Communication & CSR Pertamina Kalimantan, Heppy Wulansari.

Selain itu, Pertamina juga memperhatikan distribusi BBM dan gas elpiji selama terjadi banjir. Pertamina memprioritaskan daerah-daerah paling terdampak bencana di Kaltim.

“Pertamina juga memantau perkembangan lapangan koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Jika memang dibutuhkan bantuan lagi, kami akan dukung,” ujar Heppy.

Sejak Idul Fitri hingga Selasa 11/6/2019, banjir masih dirasakan warga.

“Masih banjir hingga sekarang ini. Banjir besar di Samarinda,” keluh warga Samarinda, Yovanda.

Kota Samarinda sudah biasa dengan bencana banjir setiap kali hujan datang. Air yang merendam ratusan rumah di ibu kota provinsi Kaltim ini berasal dari Sungai Mahakam.

Yovanda menyebut, banjir kali ini memang tidak menjangkau kompleks rumahnya di area perbukitan. Namun secara tidak langsung, genangan air mengunci aktivitasnya saat momentum Lebaran kali ini.

“Saya tidak bisa kemana-mana karena sepanjang jalan banjir. Tidak ada angkutan kota yang beroperasi, demikian pula transportasi daring. Terpaksa kemarin membatalkan penerbangan dari Bandara APT Pranoto yang terkepung banjir,” paparnya.

Nasib Yovanda sedikit lebih baik dibandingkan warga Samarinda lainnya yang rumahnya tergenang banjir. Malangnya lagi, mereka tidak bisa mengungsi ke dataran lebih tinggi. Mereka khawatir keamanan harta benda di rumah.

“Khawatir ada penjarahan harta benda di rumah, permasalahan ini kerap terjadi di Samarinda,” ungkapnya.

Sementara itu, warga Bontang yang berjarak 128 kilometer dari Samarinda pun tertimpa masalah sama. Tingginya curah hujan menenggelamkan puluhan rumah warga.

Bahkan ketinggian air mencapai dada pria dewasa terjadi di Kelurahan Telihan, Kecamatan Bontang Barat. “Sama saja dengan Samarinda, banjir di Bontang sejak Lebaran hari pertama,” ungkap Budi Gesit.

Alih-alih merayakan hari kemenangan, mereka berbondong-bondong mengungsi ke daerah aman. Warga ditempatkan di sarana fasilitas umum sebagai lokasi pengungsian.

“Mengungsi di masjid, sekolah, atau perkantoran yang tidak terendam banjir,” papar Budi yang perumahannya sebenarnya bebas dari genangan air.

Penulis: Andi Rahmat/ Editor: Bashir

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Most Popular

To Top