Tausiyah dari Raja Charles dan Bill Clinton yang Patut Didengarkan

Tausiyah dari Raja Charles dan Bill Clinton yang Patut Didengarkan
Ustaz ngasih tausiyah, memang itu tugasnya. Kali ini ada ustaz dadakan, tapi kelas dunia. Raja Inggris, Charles III, dan eks presiden Amerika, Bill Clinton. Tausiyahnya singkat tapi suaranya menggema ke seluruh penjuru dunia. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Pada 20 Oktober 2026, dua tokoh dunia ini kompak mengutip ajaran Islam. Seolah-olah langit sudah mengirim surat edaran: manusia, tolong akhlaknya diperbaiki sebelum kiamat keburu kehilangan kesabaran!
Di Kastil Windsor, Inggris, Raja Charles berbicara di hadapan sekitar 160 tamu, termasuk Sultan Haitham bin Tariq dari Oman. Dengan tenang, ia mengutip hadis Nabi Muhammad Saw dalam bahasa Arab. “Jika engkau datang kepada penduduk Oman, mereka tidak akan mencaci maki engkau dan tidak pula memukuli engkau.” Hadis yang dirujuknya tercatat dalam Sahih Muslim nomor 2544.
Nuan bayangkan, Raja Inggris membacakan hadis Nabi! Ini bukan sinetron religi, bukan pula Charles mendadak ingin ikut lomba dai nasional. Ia sedang menyinggung keramahan masyarakat Oman, sejarah toleransi negara itu, perannya sebagai penengah konflik Timur Tengah, serta upaya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Kunjungan Sultan Oman ke Inggris itu merupakan pertama dalam 44 tahun.
Pesannya menampar dengan sarung tangan sutra. Kebesaran bangsa bukan cuma diukur dari luas wilayah, kecanggihan senjata, atau kemegahan istana. Akhlak juga menentukan harga diri sebuah bangsa.
Sementara itu, di Florida, Amerika Serikat, Bill Clinton ikut bikin dunia melongo. Dalam acara lintas agama “Multiple Faiths, One Florida” di Koinonia Worship Center, Hollywood, ia mendukung calon gubernur Demokrat David Jolly.
Clinton berkata, “I’m tired of people denigrating Muslims for being Muslims.” Artinya, ia muak melihat umat Islam dihina hanya karena mereka Muslim.
Mantan Presiden Amerika itu kemudian mengutip Surah Al-Hujurat ayat 13, berdasarkan ingatannya tentang putrinya, Chelsea, yang membaca Alquran dari awal sampai akhir saat berusia 15 tahun. Ayat tersebut mengajarkan, manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling membenci.
Clinton juga mengakui setiap agama memiliki bad actors, orang-orang bertindak buruk. Ia lelah melihat perang agama dan perang budaya.
Luar biasa! Seorang mantan presiden negara adidaya mengutip Alquran di gereja untuk membela umat Islam. Kalau kejadian ini berlangsung di grup WA ormas, mungkin sudah ada menuduh Clinton salah masuk grup pengajian.
Namun, justru di situlah ironi besarnya. Raja Charles mengingatkan hadis tentang keramahan. Clinton mengingatkan ayat tentang persaudaraan manusia. Keduanya tidak perlu mengaku sebagai ulama untuk memahami pesan sederhana kadang justru lolos dari kepala orang merasa paling saleh.
Ada orang hafal banyak ayat, tetapi tetangganya berbeda agama dipandang seperti ancaman keamanan nasional. Ada rajin bicara surga, tetapi mulutnya membuat kehidupan orang lain terasa seperti neraka. Kalau kesalehan punya aplikasi, mungkin sebagian orang sudah mengunduhnya, tetapi lupa menekan tombol install untuk akhlak.
Charles dan Clinton memang bukan ustaz. Mereka juga tidak sedang membuka pesantren kilat. Namun, pada hari sama, keduanya mengingatkan dunia tentang toleransi, keramahan, dan pentingnya saling mengenal.
Mungkin Tuhan sedang mengirim sindiran melalui jalur diplomatik. Sebab, kalau nasihat dari sesama manusia sudah tidak mempan, terpaksa dikirim lewat Raja Inggris dan mantan Presiden Amerika.
So, sebelum sibuk mengoreksi iman orang lain, periksa dulu akhlak sendiri. Jangan sampai Raja Charles lebih fasih mengingatkan keramahan dalam hadis, sementara kita sibuk memelihara kebencian. Jangan sampai Bill Clinton lebih lantang mengingatkan pesan Alquran, sementara kita menjadikan perbedaan sebagai alasan bermusuhan.
Sebab, yang paling ironis bukan ketika orang berbeda agama mengingatkan ajaran Islam. Yang lebih ironis adalah ketika orang mengaku paling memahami Islam justru lupa mempraktikkannya.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani