Takbir Idulfitri Hanya Boleh di Masjid dan Musala Saja

“Takbir Idulfitri Hanya Boleh di Masjid dan Musala Saja”

Bali itu unik. Pulau yang biasanya ribut oleh suara motor turis, deburan ombak, dan musik beach club tiba-tiba bisa berubah menjadi planet meditasi setiap datang Hari Raya Nyepi. Pada hari itu Bali seperti tombol “mute” raksasa ditekan oleh semesta. Jalan kosong. Lampu redup. Bandara tutup. Aktivitas dihentikan. Bahkan suara keras pun dianggap mengganggu keseimbangan spiritual. Masalahnya di hari itu, pas malam takbiran Idulfitri. Nikmati narasinya sambil imagine seruput Koptagul, bli!

Turis yang biasanya selfie di pantai mendadak berubah menjadi pertapa hotel. Mau Hindu, Muslim, Kristen, Buddha, atau backpacker dari Eropa yang kebingungan mencari kopi, semua ikut aturan. Bali saat Nyepi seperti museum hidup. Indah, sakral, dan sunyi sampai bunyi sendok jatuh pun terasa seperti konser metal.

Masalahnya, tahun 2026 kosmos seperti sedang menulis skenario komedi toleransi. Pada 19 Maret 2026, Nyepi bertepatan dengan malam Idulfitri 1447 H. Malam yang bagi umat Islam identik dengan tradisi takbiran. Tradisi yang, mari kita jujur saja, biasanya tidak dikenal sebagai kegiatan senyap. Takbiran identik dengan gema takbir, beduk ditabuh, kadang pawai keliling, kadang sound system yang volumenya bisa membuat ayam tetangga ikut berzikir.

Bayangkan, bli! Dua tradisi ini bertemu. Nyepi ingin hening seperti pura di tepi tebing Pura Uluwatu saat matahari tenggelam. Takbiran biasanya semeriah malam tahun baru di Pantai Kuta saat turis Australia sedang bahagia. Kalau tidak diatur, ini bisa menjadi duet budaya paling membingungkan di Nusantara.

Untungnya negeri ini masih punya tradisi dialog. Pemerintah pusat melalui Kemenag, pemerintah daerah Bali, serta tokoh agama dari Parisada Hindu Dharma Indonesia, MUI, NU, Muhammadiyah, dan FKUB duduk bersama. Duduknya bukan sekadar minum kopi Bali sambil menikmati senja, tetapi rapat serius agar pulau ini tidak berubah menjadi arena debat nasional.

Hasilnya adalah kesepakatan yang cukup elegan. Takbiran tetap boleh dilaksanakan. Tidak ada larangan total. Umat Islam boleh melaksanakan takbiran di masjid atau musala terdekat. Datangnya berjalan kaki. Tidak ada takbir keliling. Tidak ada pawai. Tidak ada sound system luar ruangan yang biasanya bisa membuat burung di sawah Tegallalang Rice Terrace ikut kaget.

Waktunya pun dibatasi. Takbiran dimulai sekitar pukul 18.00 WITA dan paling lambat selesai pukul 21.00 WITA atau menyesuaikan aturan lokal. Bahkan beberapa imbauan menyarankan lebih sederhana lagi, bisa dilakukan di rumah untuk menghormati Nyepi sepenuhnya.

Sebelum kesepakatan ini final, drama sempat memanas di medan perang paling gaduh abad ke-21, yakni di media sosial. Awal Maret 2026, ketika Menag, Nasaruddin Umar melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto, takbiran tetap boleh tetapi tanpa sound system dan dibatasi waktu, warganet langsung berubah menjadi pakar toleransi dadakan.

Video viral bermunculan. Ada yang khawatir keheningan Nyepi terganggu. Ada yang protes ibadah jangan dibatasi. Meme beterbangan seperti layang-layang di langit Bali.

Sekitar 10–13 Maret 2026 polemik makin panas ketika Prajaniti Hindu Indonesia wilayah Bali menyampaikan keberatan terhadap seruan bersama FKUB. Mereka menilai ada masalah prosedural. Media sosial kembali ramai seperti pasar malam digital.

Untungnya warga lokal jauh lebih santai. Muslim Bali sebenarnya sudah lama hidup berdampingan dengan tradisi Nyepi. Bahkan ada cerita lama, jika Nyepi bertepatan dengan Jumat, umat Islam berjalan kaki ke masjid untuk salat Jumat jika jaraknya dekat. Tidak ada drama nasional. Tidak ada talk show politik.

Akhirnya kesepakatan tetap berdiri kokoh seperti pura di atas karang. Takbiran boleh, tetapi sederhana. Nyepi tetap hening.

Pelajaran besarnya sederhana. Kadang toleransi bukan soal siapa paling keras berteriak di internet. Kadang toleransi justru lahir ketika semua orang bersedia menurunkan sedikit volumenya. Bali kembali membuktikan, kerukunan bisa tetap hidup, bahkan di tengah dua tradisi besar yang hampir bertabrakan.

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page