Tak Sekadar Merekam, Mahasiswa PBI Untara Belajar Menemukan Cerita

JAKARTA — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tangerang Raya (PBI Untara) mengikuti praktik liputan video jurnalistik naratif di kawasan Kota Tua, Jakarta, Minggu (26/7/2026).
Praktik lapangan Mata Kuliah Jurnalisme II itu tidak hanya mengajarkan mahasiswa mengambil gambar di kawasan wisata. Mereka juga diminta mencari cerita dari orang-orang, aktivitas masyarakat, bangunan bersejarah, serta perubahan yang berlangsung di ruang kota.
Mahasiswa menyebar ke sejumlah titik di kawasan Kota Tua. Mereka mengamati kegiatan pedagang, seniman jalanan, pengunjung, dan kehidupan masyarakat di sekitar lokasi sebelum menentukan sudut liputan dan narasumber yang akan diwawancarai.
Kegiatan tersebut turut didampingi Dekan FKIP Untara, Fidiatul Adiyan, dan Ketua Program Studi PBI Untara, Vicky Hidantikarnillah.
Fidiatul mengatakan pembelajaran di luar kelas memberi kesempatan kepada mahasiswa menghadapi situasi yang tidak selalu mereka temukan saat mempelajari teori.
“Mahasiswa perlu punya ruang belajar di luar kelas karena situasi di lapangan tidak selalu sama dengan yang mereka pelajari dalam teori. Di Kota Tua, mereka belajar berkomunikasi dengan masyarakat, membaca situasi, bekerja dalam kelompok, lalu mengolah temuannya menjadi karya jurnalistik,” kata Fidiatul dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi timurmedia.com.
Menurut dia, kemampuan berbahasa saja belum cukup bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris. Mereka juga perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.
“Bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, kemampuan berbahasa saja tidak cukup. Mereka juga perlu berpikir kritis dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab,” ujarnya.
Sementara itu, dosen pengampu Mata Kuliah Jurnalisme II, Jufriansyah, mengatakan mahasiswa tidak cukup hanya merekam gambar. Mereka juga harus mampu menemukan cerita dari orang, peristiwa, dan situasi yang ditemui di lapangan.
“Liputan video jurnalistik naratif bukan hanya soal merekam tempat yang dikunjungi. Mahasiswa perlu menemukan cerita dari orang-orangnya, peristiwa yang terjadi, perubahan yang mereka lihat, persoalan sosial, atau ingatan sejarah yang masih hidup,” kata Jufriansyah.

Menurut dia, kualitas liputan tidak hanya ditentukan oleh gambar yang menarik. Kepekaan saat mengamati dan kemampuan menyusun hasil temuan cerita justru akan menjadi bagian terpenting.
Dalam praktik tersebut, mahasiswa diminta mencari hubungan antara gambar, keterangan narasumber, dan situasi yang mereka temukan. Bangunan bersejarah, pedagang, seniman jalanan, pengunjung, ataupun perubahan fungsi ruang dapat menjadi pintu masuk sebuah liputan.
Setiap informasi yang diperoleh juga harus diperiksa sebelum dimasukkan ke dalam video. Mahasiswa diwajibkan mencatat identitas narasumber dan meminta persetujuan sebelum melakukan wawancara atau mengambil gambar dari jarak dekat.
“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa video jurnalistik tetap harus berpijak pada fakta. Unsur naratif digunakan agar fakta lebih dekat dan mudah dipahami penonton, bukan untuk merekayasa kenyataan,” ujar Jufriansyah.
Mahasiswa juga diminta membedakan fakta, kesan, dan opini. Mereka tidak diperbolehkan menambahkan peristiwa atau informasi hanya untuk membuat cerita terlihat lebih menarik.
Setelah liputan lapangan selesai, setiap kelompok akan menyeleksi rekaman, menyusun alur, menulis narasi, serta mengolah gambar dan suara menjadi video jurnalistik naratif.
Karya tersebut akan dinilai dari ketajaman sudut pandang, akurasi informasi, relevansi narasumber, serta hubungan antara visual dan cerita. (Tim Redaksi Timur Media)