Syahruddin M Noor Ajak Warga PPU Tingkatkan Literasi Digital untuk Tangkal Penipuan Online

Timur Media, Penajam – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Syahruddin M Noor, mengingatkan masyarakat agar semakin waspada terhadap maraknya penipuan digital yang kian canggih. Ia menilai, rendahnya literasi digital dan literasi keuangan masih menjadi pintu masuk utama kejahatan siber di daerah.
Menurut Syahruddin, masih banyak warga yang belum mampu memilah informasi di dunia maya dengan benar. Hal inilah yang membuat masyarakat mudah tergoda bujuk rayu pelaku penipuan digital dengan berbagai modus.
“Dalam arti kata, masih banyak masyarakat yang belum memahami dan belum mampu mengolah informasi yang beredar dan diterimanya di dunia digital dengan baik,” kata Syahruddin.
Ia menjelaskan, memiliki literasi digital dan literasi keuangan yang memadai adalah kunci untuk terhindar dari penipuan berkedok investasi, undian berhadiah, maupun pinjaman online ilegal.
“Harus disadari saat ini telah bermunculan beragam modus penipuan digital. Bahkan dalam aksi penipuannya semakin canggih. Jadi intinya, janganlah mudah percaya, atau tergoda serta terjebak. Cari tahu informasi dan kebenarannya terlebih dahulu,” tegasnya.
Syahruddin juga mengapresiasi upaya pemerintah, perbankan, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang terus mengingatkan masyarakat untuk waspada. Namun, ia menekankan bahwa sosialisasi masih perlu ditingkatkan agar menjangkau masyarakat di pelosok.
Ia mencontohkan, masih banyak warga yang terjebak pinjaman online ilegal karena kurang memahami perbedaan penyedia pinjaman resmi dengan yang abal-abal.
“Banyak masyarakat belum mengetahui mana sumber pembiayaan yang memiliki izin dari pemerintah. Akhirnya terjebak pada pinjaman online dengan bunga mencekik,” jelasnya.
Ke depan, ia mendorong agar upaya edukasi dilakukan dengan pendekatan yang lebih sederhana dan praktis. Menurutnya, bahasa yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan bahasa daerah agar lebih mudah dicerna.
“Iya, tidak ada salahnya dalam mengkomunikasikan kerangka mitigasi literasi digital dan literasi keuangan kepada masyarakat, hendaknya diperhatikan penggunaan bahasa yang mudah dicerna dan dipahami masyarakat. Seperti menggunakan bahasa daerah setempat,” pungkasnya. (ADV)