Serah Terima Fasum, Ujian Tata Kelola Pembangunan Kota

Timur Media, Balikpapan – Di Kelurahan Sepinggan Baru, pembangunan tak selalu soal bangunan baru. Kadang, yang lebih mendesak justru memastikan apa yang sudah dibangun benar-benar sampai ke tangan warga.
Wahyullah Bandung mendorong kegiatan berbasis masyarakat di kawasan itu dengan satu fokus yang terdengar teknis, tapi dampaknya nyata: mempercepat penyerahan fasilitas umum dan fasilitas sosial dari pengembang kepada pemerintah kota. Sepinggan Baru, yang sebagian besar wilayahnya berupa perumahan hasil pengembangan swasta, selama ini menikmati manfaat kerja-kerja perencanaan, pengawasan dan Legislasi. Namun tanpa serah terima resmi, jalan, drainase, ruang terbuka hijau, hingga taman bermain anak kerap berhenti sebagai aset “menggantung”.
Sebagai anggota Dewan, Wahyullah menempatkan isu itu di jantung kerjanya. Ia mendorong agar fasum dan fasos segera diserahkan ke Dinas Perumahan dan Permukiman. Dengan begitu, kawasan perumahan bisa masuk dalam skema anggaran perbaikan dan pembangunan lintas dinas—mulai dari Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, hingga Lingkungan Hidup. Bagi warga, proses administratif ini menentukan apakah jalan berlubang diperbaiki, drainase dibenahi, atau ruang hijau benar-benar terawat.
Ketua RT setempat, Mustari, menyebut persoalan itu dirasakan langsung warga. “Selama statusnya belum jelas, kami serba terbatas. Mau diperbaiki swadaya, skalanya besar. Mau menunggu pemerintah, belum bisa dianggarkan,” katanya. Menurut Mustari, dorongan agar fasum dan fasos segera diserahterimakan memberi harapan baru. “Kalau sudah resmi jadi aset pemerintah, kami tahu ke mana harus mengadu dan apa yang bisa diperjuangkan,” ujarnya.
Balikpapan sendiri dikenal sebagai kota yang ramah terhadap investasi properti. Namun, menurut Wahyullah, keramahan itu perlu diimbangi ketegasan tata kelola. Upaya membenahi Sepinggan Baru diharapkan menjadi contoh: bahwa pembangunan infrastruktur kota bukan semata soal pertumbuhan, melainkan tentang memastikan dampaknya kembali ke masyarakat. Di situlah pembangunan berhenti menjadi statistik, dan mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari warga.
red.