Selamat Hari Guru untuk 2,6 Juta Guru Honorer

Selamat Hari Guru untuk 2,6 Juta Guru Honorer

Kalau ngomongin guru honorer, gimana ya, seperti ngiris bawang merah. Gaji seadanya, dipandang sebelah mata. Sementara banyak sekolah kekurangan guru. Mumpung hari ini, Hari Guru Nasional, yok kita suarakan nasib guru honorer, siapa tahu nasib mereka bisa diperhatikan presiden. Koptagul jangan lupa,wak!

Hari ini, 25 November 2025, Indonesia kembali merayakan Hari Guru Nasional dengan segala khidmat ala tarbiyah formal. Ada upacara bendera yang rapi, pembacaan puisi yang syahdu, pejabat foto bareng murid SD, semuanya seperti halaqah akbar tentang “memuliakan pendidik”. Seperti biasa pula, ada 2,6 juta guru honorer yang ikut merayakan, dengan gaji yang masih kalah dari driver ojol pemula yang baru tiga hari turun ke jalan. Inilah tarbiyah kehidupan versi republik, sabar yang terus diuji tanpa modul penghargaan.

Ikam bayangin! Setiap tahun kampus-kampus kita mewisuda 100–150 ribu calon guru, pakai toga megah, sambutan rektor yang berbuih, “Kalian adalah murabbi bangsa!” Tapi begitu melangkah keluar gerbang, mereka disambut pamflet lowongan yang bunyinya mirip catatan kaki kitab kuning. “Dicari guru honorer. Gaji 300–500 ribu. Dibayar tiga bulanan. Jika BOS telat, kuatkan hati dan bersabarlah, wahai penuntut pahala.” Pahlawan tanpa tanda jasa berubah menjadi murabbi yang ilmunya dihargai setara pulsa seminggu.

Di pojok-pojok negeri ini, ada guru honorer yang tiap pagi mengajar 30 murid dengan hati lapang, pulang naik angkot, makan mie instan yang level gizinya lebih rendah dari semangatnya, lalu membuka HP hanya untuk disapa notif pinjol, “Selamat, limit Anda naik jadi 5 juta!” Seakan-akan sistem berkata, “Ini rezekimu, wahai pendidik, ambillah, dan cicil lah tiap bulan sebagai latihan kesabaran.” Tarbiyah ekonomi betul.

Katanya kekurangan guru cuma 374 ribu, tapi guru honorer ada 2,6 juta. Ini logika apa? Ilmu tarbiyah mana yang mengajarkan, murabbi cadangan harus dipelihara sebanyak ini tanpa kepastian masa depan? Pemerintah tampaknya sedang menjalankan kurikulum “Ujian Kesabaran Level Tinggi” tahan lapar, tahan marah, tahan cicilan. Hadiahnya? Tahun 2026 insentif naik jadi 400 ribu. Naik 100 ribu, cukup buat beli beras tujuh kilo atau bayar listrik 400 watt selama 12 menit. Ini bukan kebijakan, ini seperti latihan menguji keikhlasan di tengah padang pasir.

Di Jakarta, pejabat-pejabat sibuk foto dengan spanduk “Guru Penggerak Indonesia Maju”, seolah para guru itu malaikat tarbiyah yang tak pernah lelah. Padahal, guru penggerak yang sebenarnya itu tiap hari “nggerak” motor tua dari rumah ke sekolah, bensinnya ngutang, remnya berdoa. Jika mogok di tengah jalan? Ya didorong. Itulah murabbi sejati, menggerakkan ilmu sambil menggerakkan kendaraan yang nyaris menyerah.

Hari Guru Nasional ini kita semua diarahkan untuk terharu dengan lagu “Terima Kasih Guruku”. Padahal bagi guru honorer, lagu yang paling pas ya “Gaji Kapan Turun” versi dangdut koplo. Lebih jujur, lebih pedagogis, lebih mendidik perasaan siapa pun yang mendengarnya.

So, selamat Hari Guru untuk 2,6 juta guru honorer, para murabbi yang gajinya masih kalah dari uang jajan anak SMP Jakarta. Semoga tahun depan kalian tak hanya mendapat bunga, sertifikat, atau foto bareng pejabat, tetapi juga gaji yang membuat hati lapang tanpa harus menjadi influencer TikTok “Unboxing Gaji Honorer 450 Ribu”.

Karena kalau tidak, bayangkan tarbiyah besar yang akan terjadi, 2,6 juta guru honorer serentak mogok. Sekolah tutup, anak-anak libur mendadak, orang tua panik, negara gemetar. Barulah semua sadar, murabbi yang selama ini dianggap “tanpa tanda jasa” justru memegang kunci kestabilan bangsa.

Selamat Hari Guru, wahai pendidik yang ikhlas sampai ke tulang sumsum. Ikhlas mengajar, ikhlas menunggu gaji, ikhlas memakai pinjol. Ikhlas level malaikat, tapi hidup masih level ujiannya neraka.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page