Rocky Gerung Dilantik Bersama 25 Watimpres

Rocky Gerung Dilantik Bersama 25 Watimpres, Negeri Ini Harus Berubah

Saya ingat ucapan menohok Mas Botok di hadapan para pakar. “Sekarang, korupsi bertambah atau berkurang?” Tak ada berani jawab, selain pura-pura pintar. Nah, sekarang orang paling pintar di negeri ini, orang paling berotak waras, Rocky Gerung bersama 25 sudah dilantik menjadi Watimpres. Apakah 26 pesohor itu membawa perubahan pada negeri ini? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Presiden Prabowo Subianto baru saja melantik 26 orang Dewa Pertimbangan Presiden (Watimpres) di Istana Negara. Isinya manusia-manusia level dewa. Berpendidikan tinggi, kaya, pengalaman segudang, ahli ini-ahli itu. Bahkan, ada Rocky Gerung, filsuf yang satu kalimatnya kadang membuat otak manusia biasa seperti komputer jadul, loading sampai kiamat.

Gajinya Rp76,5 juta per bulan. Fasilitas setara menteri seperti kendaraan dinas, rumah dinas, perjalanan dalam dan luar negeri, dan kemewahan lain semuanya dibayar dari pajak rakyat. Rakyat bayar listrik saja kadang harus menatap meteran seperti menatap bom waktu.

Tugas para dewa ini memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden, baik diminta maupun tidak diminta, secara perorangan atau kolektif. Tetapi jangan sampai bocor. Rahasia negara. Rakyat membayar mahal untuk nasihat rakyat sendiri tidak boleh tahu. Indah sekali.

Pertanyaannya, apakah 26 manusia super ini mampu membuat negeri sedikit lebih sehat? Tidak perlu sembuh total. Turun sedikit saja sudah syukur.

Sebab menurut Corruption Perceptions Index 2025 Transparency International, skor Indonesia anjlok menjadi 34 dari 100, turun tiga poin dari tahun sebelumnya. Peringkat 109 dari sekitar 180 negara. Kita sejajar dengan Laos, Aljazair, Nepal, dan Sierra Leone.

Rata-rata global 42. Asia Pasifik 45. Singapura 84, Malaysia 52, Timor Leste 44, Vietnam 41. Lalu, Indonesia: 34. Kalau ini rapor sekolah, mungkin wali murid sudah dipanggil. Bedanya, ini rapor satu negara.

Maka publik boleh bertanya, 26 dewa ini nanti mau menaikkan angka 34 menjadi berapa? Atau cukup duduk di ruangan dingin membahas “pertimbangan strategis”, sementara mafia tanah, mafia anggaran, mafia impor, mafia tambang, dan mafia hukum tetap bekerja lembur?

Masalah Indonesia memang bukan cuma korupsi, judi online, dan narkoba. Pendidikan belum merata. Banyak daerah masih kekurangan guru, fasilitas, dan akses pendidikan berkualitas. Kemiskinan dan ketimpangan membuat pertumbuhan tidak dirasakan merata. Pengangguran dan minimnya pekerjaan berkualitas membuat banyak lulusan bekerja pas-pasan atau tidak sesuai keahlian.

Penegakan hukum masih dibayangi persepsi tajam ke bawah, tumpul ke atas. Lingkungan dihantam deforestasi, pencemaran sungai, tambang ilegal, dan sampah plastik. Stunting dan masalah gizi mengancam perkembangan fisik serta kognitif anak. Hoaks dan rendahnya literasi digital membuat masyarakat gampang dipecah. Birokrasi lambat dan berbelit.

Sekarang kita punya 26 orang pintar bergaji Rp76,5 juta sebulan untuk memberikan nasihat. Kita tunggu keajaiban. Apakah skor CPI naik dari 34? Apakah tiga akar masalah mendadak sembuh? Atau Indonesia tetap sama, hanya jumlah orang mendapat fasilitas mahal bertambah 26?

Sebab kalau 26 orang hebat itu digaji tinggi, tetapi negeri ini tidak mengalami perubahan berarti, rasanya sia-sia mereka dibayar dengan pajak rakyat. Rakyat tidak membutuhkan sekadar daftar nama orang pintar. Rakyat membutuhkan negeri sedikit lebih baik.

Sebab nasihat boleh rahasia negara. Tetapi perubahan harus terlihat di depan mata rakyat. Kalau tidak, Rp76,5 juta per orang setiap bulan cuma berubah menjadi angka di slip gaji, sementara rakyat tetap menjadi pihak membayar.

“Kata Rocky, dulu ia di luar, sekarang sudah di dalam. Tetap sama, tetap kritis, katanya. Benar ke tadak tu, Bang?”

“Tinggal kita tunggu saja sambil ngopi, wak” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page