Puasa dan Warna Toleransi Kita

Oleh, Adhi
(Komunitas Disorientasi)

Ini bulan baik, kata temanku. Bahkan, lanjut dia, bulan ini bisa jadi satu-satunya alasan untuk berhenti berselisih, berhenti mengedepankan naluri dan mulai bicara dengan nurani. Karena kadang menjadi follower naluri itu berbahaya, bisa bikin kita dekat dengan tirani, sambungnya yang terhenti sejenak menikmati semburan asap dan menyeruput kopi pahitnya.

Ngomongin kopi pahit, saya jadi ingat temanku yang lain saat menyambanginya di kantor Bawaslu beberapa hari lalu. Waktu itu dia sodorkan kopi racikan di ruangannya. Saat kuseruput waduh rasanya amat pahit. Sama pahitnya dengan pengalamanku bersama kamu, iya kamu!

Dia terkekeh dan sesumbar bilang bahwa kopi tanpa sebutir gula adalah falsafah kopi sebenarnya. Belum layak dikatakan pecandu kopi bila ada tambahan lain selain air panas.
“Ini kopi bang bukan kolak,” sindirnya sambil meneteskan susu sachet ke cangkir kopi punyaku.
“Saya bukan pecandu, saya penikmat bang,”
“Dan rasa nikmat kopi baru terasa kalau ada manis-manisnya. Iya manis, kayak perasaanku buat dia, iya dia!” sanggahku asal-asal menjawab.

Menurutku, sahabat Bawaslu ku ini emang rada nyentrik orangnya. Selain soal kopi tanpa gula tadi, dia juga mengharamkan ruang kerjanya ada kopi sachetan, botolan atau bahkan kotakan. Apapun mereknya. Rokok juga demikian, ia baru merasa nikmat jika produksi asap perusak paru-paru nomor wahid itu hasil dari melinting sendiri. Ya Tuhan, kopi diracik sendiri dan rokok dilinting sendiri. Berada di ruangannya berasa dunia berkhianat dengan modernisasinya. Saya langsung membayangkan Neil Amstrong, manusia pertama yang mendarat di Bulan mungkin bakal kecewa akan pencapaiannya. Elon Musk, si bos tajir pemilik Twitter yang berhayal memindahkan manusia ke Mars juga bakal sadar bahwa dirinya sedang halu.

Baiklah, kita tinggalkan ulah sahabatku yang anti mainstream itu dan kembali kesoal bulan baik tadi. Besok, tepat tanggal 23 bulan 3 tahun 2023 warga muslim bakal menjalani ibadah puasa pertamanya tahun ini. Ritual ibadah yang pahalanya berlipat-lipat dan pengampunan dosanya juga tak kalah berlipat. Bulan ini bisa dibilang tak sekedar baik, tak sekedar suci atau tak sekedar bikin masyarakat muslim senangnya bukan kepalang.

Untuk pertama kali sejak tiga tahun terakhir puasa sudah dapat dilakukan dengan normal. Menengok periode tahun 2020-2022 lalu, ibadah suci ini dijalani dengan beragam aturan dan protokol ketat karena wabah Covid-19. Tak boleh ramai-ramai tarawih, bukber dan shalat Ied yang pernah dianjurkan untuk tidak dilakukan. Semua salah Covid-19, bukan pemerintah. Hehe.

Karena puasa kali ini sudah normal. Saya tertarik untuk melihat hal-hal normal lain apakah bakal terjadi sepanjang ibadah sebulan penuh ini. Semisal, apakah bakal ada lagi polisi swasta yang menggerebek tempat-tempat makan yang berani buka di siang hari. Atau tempat hiburan yang sejatinya memang sudah disuruh tutup oleh pemerintah bakal bernasib sama. Diraziah pakaian bersurban. Padahal itu tugas satpol PP bukan. Walau sebenarnya niatnya itu baik, tetapi kita harus bersepakat bahwa cara tak baik tidak dibenarkan meskipun ingin memungut hasil yang baik. Apalagi memang itu bukan tugasnya. Ini mirip seperti ucapanku kepada salah satu junior yang minta pendapat soal kaderisasi yang tak berjalan baik, berbeda seperti tahun sebelumnya. Kubilang padanya, waktu kalian berebut kepemimpinan caranya tidak baik, jadi wajar saja perjalannya jadi tidak baik juga.

“Kalau mencuci pakaian dengan air kotor, hasilnya jadi ikutan kotor,” kataku.

Soal puasa dan toleransi, saya sepakat ceramah imam masjid tempatku mengikuti ibadah tarawih malam pertama ini. Ia berdiri di mimbar masjid dan berseru kepada hadirin jamaah tarawih. Bahwa kita berada di lingkungan yang tidak semua orang muslim. Sehingga kegiatan-kegiatan yang bernilai ibadah itu juga tetap mengedepankan toleransi antar umat.
“Anak-anakku, kalau bangunin sahur jangan teriak-teriak di jalan yang bikin orang lansia, orang sakit, orang non muslim malah terganggu karena mereka sedang istirahat,” kata imam masjid.
“Yang mau tadarus Al-Quran juga kalau memakai pengeras suara sampai jam 10 malam saja. Silahkan diteruskan mengajinya itu baik dan pahalanya juga besar. Tapi di luar sana ada saudara-saudara kita yang non muslim perlu istirahat,” tandasnya.

Soal toleransi saya jadi ingat Priska Baru Segu waktu tampil mengisi stand up comedy di youtube Somasi milik Deddy Corbuzier. Dalam komedinya, Priska yang Khatolik itu bilang begini. “Saya ke Gereja, berdoa minta kekuatan dan keikhlasan mengucapkan selamat lebaran kepada orang-orang yang tidak mengucapkan selamat natal kepada saya,”

Saya ingin mengurai banyak soal ini tetapi mata sedang manja minta diberi haknya. Mungkin nanti kita bahas di part selanjutnya. Yang pasti apapun aktualisasinya, semoga puasa kali ini memberi banyak kebahagian untuk kita semua. Karena bisa saja sejatinya bulan Ramadhan bukan saja soal berlomba-lomba memulung ibadah. Puasa bisa juga menjadi ladang untuk menguji seberapa toleransi kita. Baik itu toleransi antara muslim dan non muslim dan juga toleransi dengan umat muslim itu sendiri. Selamat berpuasa.


Selengkapnya...

Terkait

Back to top button