Prabowo Ngumpul Bersama 3.000 Pemimpin Dunia, Pentingkah WEF di Davos?.

Prabowo Ngumpul Bersama 3.000 Pemimpin Dunia, Pentingkah WEF di Davos?
Saya ingin mengajak followers saya ke luar negeri lagi. Kali ini ke Davos Swiss, tepatnya di kanton Graubünden di bagian timur negara tersebut. Di sini akan berkumpul 3.000 pemimpin dunia dari 130 negara. Termasuk Prabowo hadir. Mereka hadir dalam acara tahunan, World Economic Forum.(WEF). Apa pentingnya pertemuan kelas dunia ini? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Setiap Januari, Davos kembali berubah wujud. Dari kota kecil bersalju yang lebih sering mendengar lonceng sapi dari pidato presiden, ia menjelma jadi altar tempat dunia menyembah masa depannya sendiri. Salju turun rapi, hotel penuh, dan harga kopi terasa seperti cicilan rumah subsidi. Di sanalah WEF digelar, ritual tahunan para pemilik pengaruh global.
Presiden Prabowo Subianto pun masuk ke panggung itu. Ia tiba di Bandara Internasional Zurich menggunakan pesawat Garuda Indonesia-1, turun dengan kopiah hitam dan jas panjang hitam, kombinasi busana yang seperti ingin berkata, ini bukan liburan musim dingin, ini urusan negara. Dari bandara, jalurnya jelas, menuju Davos, menuju meja dunia, menuju ruang di mana negara-negara saling menilai seperti investor menilai proposal bisnis.
Tahun ini, WEF mengusung tema A Spirit of Dialogue. Kedengarannya lembut, hampir seperti judul buku pengembangan diri. Tapi tema ini justru lahir karena dunia sedang keras kepala. Perang belum reda, ekonomi global batuk kronis, teknologi melaju seperti kuda liar tanpa kekang etika, dan negara-negara besar saling pandang dengan alis terangkat. Davos lalu berperan sebagai ruang konseling global, tempat semua diajak bicara sebelum mulai saling lempar sanksi.
WEF sendiri bukan barang baru. Ia lahir tahun 1971 dari gagasan Klaus Schwab, awalnya cuma forum manajemen Eropa. Tapi sejarah punya selera humor. Forum kecil itu tumbuh jadi ruang temu kekuasaan dunia, tempat presiden duduk sejajar dengan CEO, tempat kebijakan belum ditandatangani tapi sudah disepakati, tempat masa depan sering ditentukan bukan lewat palu sidang, tapi lewat obrolan sambil ngopi. Tahun 1987, namanya resmi jadi World Economic Forum, dan sejak itu Davos bukan lagi kota, melainkan simbol.
Forum ini dihadiri hampir 3.000 pemimpin lintas sektor dari 130 negara. Bukan cuma kepala negara, tapi juga bankir, pemilik modal, pemikir, dan penentu arah teknologi. Bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump termasuk di dalam daftar hadirin. Ini bukan G20 yang penuh protokol, bukan PBB yang sarat pidato normatif. Ini Davos, tempat uang, kekuasaan, dan narasi duduk satu meja, tanpa perlu penerjemah kepentingan.
Di sanalah Presiden Prabowo dijadwalkan menyampaikan pidato khusus di hadapan para pemimpin dunia. Pidato ini bukan sekadar formalitas. Ini sinyal. Dunia selalu waspada pada negara yang baru berganti kepemimpinan. Investor itu makhluk sensitif. Sedikit aroma ketidakpastian, mereka menghilang seperti es batu jatuh ke lantai sauna. Davos adalah panggung untuk berkata, “Indonesia stabil. Indonesia ada. Indonesia tahu arah.”
Banyak yang masih bertanya dengan nada setengah sinis, “Bukankah sudah ada G7, G20, ASEAN?” Ada. Tapi itu semua seperti rapat resmi dengan notulen tebal. Davos adalah ruang mesin. Di G20 keputusan dikunci, di Davos keputusan dibentuk. Di sinilah arah ekonomi global dipanaskan sebelum disajikan ke publik. Siapa yang absen, biasanya hanya jadi bahan pembicaraan, bukan penentu.
Tentu saja, Davos tidak steril dari kritik. Ia dituding elitis, terlalu ramah pada korporasi besar, terlalu jauh dari suara rakyat kecil. Ada istilah Davos Man, elite global yang bicara ketimpangan sambil tidur di hotel dengan tarif yang bisa membiayai UMKM setahun. Kritik itu sah. Tapi dunia tidak menunggu keadilan sempurna. Jika negara berkembang memilih tidak hadir, mereka tetap dibahas, bedanya, tanpa hak bantah.
Tema A Spirit of Dialogue sejatinya adalah tanda dunia sedang kelelahan bertengkar. Davos mencoba jadi ruang di mana semua masih mau duduk sebelum meja dibalik oleh konflik, krisis, atau teknologi yang kebablasan. Di antara salju, jas tebal, dan kopi panas, masa depan dunia sedang ditawar-menawar.
Davos memang dingin. Tapi di sanalah kepentingan dipanaskan. Di zaman ketika nasib negara sering ditentukan oleh percakapan singkat di lorong hotel, hadir bukan pilihan gaya, tapi keharusan posisi. Yang tidak datang, biasanya hanya jadi catatan kaki, kecil, dingin, dan mudah terhapus oleh salju sejarah.
“Kapan kita bisa ngopi di Davos, Bang.”
“Nunggu jadi CEO kelas dunia baru bisa, wak. Atau, nebeng bawakan tas presiden ke sana.” Ups
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar