PKK PPU Dukung Gerakan Nasional Revolusi Mental

Timur Media, Penajam – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) secara resmi meluncurkan Program Sekolah Laboratorium Pancasila (SLP) pada acara Festival Harmoni Budaya Nusantara (FHBN) 2024. Acara peresmian tersebut berlangsung meriah dengan pemukulan petep, alat musik tradisional khas Penajam Paser Utara (PPU), oleh pejabat dari Kemenko PMK, Kemendikbudristek, serta Penjabat (Pj) Bupati PPU, Makmur Marbun.
Program Sekolah Laboratorium Pancasila (SLP) ini mencerminkan komitmen Kemenko PMK untuk menyukseskan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 12 Tahun 2016. SLP ditargetkan untuk diterapkan di sekolah-sekolah yang tersebar di berbagai daerah, khususnya di wilayah kepulauan dan pesisir, termasuk di Kabupaten PPU.
Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) PPU, Linda Romauli Siregar, yang turut menghadiri acara tersebut, menyatakan kegembiraannya atas peluncuran program ini. Ia juga menjelaskan bahwa sebenarnya Pj Bupati PPU, Makmur Marbun, telah melakukan soft launching SLP di PPU pada awal tahun 2024.
“Kami sangat senang bahwa program ini kini diresmikan secara nasional. Di PPU, program ini sudah berjalan dengan baik, dan para siswa terus berkembang seiring evaluasi yang kami lakukan,” ungkap Linda.
Linda Romauli juga menyebutkan bahwa dari 30 sekolah di PPU yang menjalankan program SLP, semua telah melaksanakan program dengan sangat baik.
“Anak-anak menunjukkan perkembangan karakter yang positif, mereka semakin peka dan peduli terhadap sesama. Ini adalah bagian dari revolusi mental yang kami harapkan,” tambahnya.
Program SLP di Kabupaten PPU tidak hanya berfokus pada pengembangan karakter, tetapi juga mendorong aksi sosial di kalangan siswa. Linda Romauli menjelaskan bahwa para pelajar SLP, mulai dari satgas junior hingga senior, terlibat aktif dalam kegiatan bakti sosial.
“Hari ini, anak-anak mengadakan bakti sosial di sekolah masing-masing sebagai bentuk empati terhadap masyarakat kurang mampu,” jelas Linda.
Selain itu, program ini juga turut mendukung upaya penurunan angka stunting di Kabupaten PPU. Linda mengungkapkan bahwa siswa-siswa yang mengikuti SLP aktif dalam mengirimkan makanan bergizi tinggi kepada anak-anak yang mengalami masalah berat badan, sebagai bagian dari intervensi stunting yang menjadi salah satu fokus daerah.
“Program ini sangat relevan dengan kondisi kabupaten kami, di mana kasus stunting masih tinggi,” tuturnya. (ADV)