Pertama Kali Indonesia Berperang Melawan Binatang

Pertama Kali Indonesia Berperang Melawan Binatang
Di saat Iran sedang berperang dengan Amerika-Israel, rupanya di negeri kita juga ada perang. Cuma, bukan melawan tentara asing, tapi melawan binatang. “Ah yang benar, bang?” Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Lupakan dulu kisah heroik perang gerilya, bambu runcing, atau taktik klasik ala akademi militer. Pada 17 April 2026, sejarah Indonesia mengambil belokan tajam. Bukan ke arah kejayaan, tapi ke arah yang bikin dahi berkerut sambil ketawa getir. Jakarta, ibu kota penuh drama itu, resmi membuka front perang baru. Bukan melawan negara lain, bukan melawan separatis, bukan melawan koruptor, apalagi preman, tapi melawan makhluk bermuka datar yang hobinya nempel di kaca akuarium, ikan sapu-sapu, alias Ordo Loricariidae. Ini bukan sekadar operasi, ini adalah epos absurd berbalut lumpur, Operasi Penumpasan Ordo Loricariidae.
Di tengah kekacauan ini, Gubernur Pramono Anung mendadak naik kelas jadi panglima perang. Dengan wajah serius (dan mungkin sedikit lelah batin), ia mengerahkan sekitar 1.000 personel gabungan. Pasukan Orange yang biasanya bersahabat dengan sampah kini jadi infanteri lumpur, intelijen Dinas KPKP yang harus “menganalisis” ikan, hingga divisi alat berat Dinas Lingkungan Hidup dengan eskavator long arm, alat proyek yang kini berubah fungsi jadi simbol supremasi manusia atas makhluk bersisik.
Medan tempurnya bukan lautan luas, tapi lumpur hitam pekat yang aromanya bisa menggoyang iman. Para personel harus terjun langsung, bukan dengan strategi canggih, tapi dengan keberanian dan hidung baja. Hasilnya? Sebanyak 68.880 ekor “musuh negara” berhasil ditangkap. Makhluk yang diam-diam sudah menguasai sekitar 60 persen perairan Jakarta. Ini bukan invasi frontal, ini kudeta senyap dengan senjata utama, reproduksi brutal dan daya tahan absurd.
Seperti semua perang besar, ada titik klimaks. Jakarta Selatan mencatat sejarahnya sendiri. Setu Babakan berubah dari kawasan budaya jadi medan tempur epik, “Pearl Harbor versi lokal.” Dalam satu hari, 5,3 ton ikan sapu-sapu dipaksa menyerah tanpa syarat. Total rampasan perang mencapai 6,98 ton. Hampir 7 ton. Kalau ditumpuk, mungkin cukup buat bikin Monas versi mimpi buruk, monumen dari bangkai ikan yang menatap balik dengan penuh ironi.
Yang bikin makin nyeleneh, negara harus menerapkan sistem bounty. Warga dan petugas dibayar Rp5.000 hingga Rp25.000 per kilogram ikan. Ini bukan lagi operasi biasa, ini perburuan ala koboi. Bedanya targetnya bukan penjahat, tapi ikan yang hobi menggerogoti tanggul seperti camilan. Negara secara resmi membayar rakyatnya untuk berburu ikan demi mempertahankan kedaulatan air.
Masalahnya, musuh ini bukan sekadar bandel. Mereka juga “agen kimia berjalan.” Kandungan logam beratnya mencapai 0,3 mg. Artinya, siapa pun yang nekat mengolahnya jadi makanan bukan dapat kekuatan super, tapi tiket cepat menuju keracunan level dewa. Ini bukan sumber protein, ini jebakan biologis dengan wajah polos.
Strategi pemusnahannya pun tanpa kompromi. Setiap ikan yang tertangkap langsung dieksekusi. Dipatahkan, dimusnahkan, lalu dikubur massal. Bukan karena dramatis, tapi karena praktis, bau busuknya saja sudah cukup jadi ancaman. Tentu, untuk mencegah kreativitas liar warga yang mungkin tergoda menjadikannya lauk alternatif.
Inilah perang paling jujur sekaligus paling konyol. Tidak ada pidato megah, hanya fakta, ikan dengan kulit keras dan kemampuan berkembang biak ekstrem bisa membuat pemerintah pusing dan menghabiskan miliaran rupiah. Jakarta kini tidak hanya melawan banjir dan macet, tapi juga menghadapi kiamat ikan.
Di tengah absurditas ini, harapan tetap bertumpu pada Pasukan Orange. Mereka yang rela menceburkan diri ke kali demi menjaga kedaulatan air. Ini bukan perang yang kita pilih, tapi jelas perang yang harus dimenangkan. Kalau kalah, “maok taroh di mane tu muke, wak!” ups.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar