Permainan Cantik Kiyai Imaduddin Utsman; Rapuhnya Pertahanan Bani Alawi

Permainan Cantik Kiyai Imaduddin Utsman; Rapuhnya Pertahanan Bani Alawi
Oleh: Ickur
(Komunitas Disorientasi)

Suatu ketika saya kesasar ke channel youtube yang menampilkan Habib Jindan menjelaskan tentang makam Sayyid Ahmad bin Isa al Muhajir, dan pada kesempatan lain ada orang Indonesia yang tinggal di Yaman memposting video di Instagram menunjukkan makam Sayyid Ahmad bin Isa ada di negara itu, negara leluhur Bani Alawi. Orang yang memposting video makam Sayyid Ahmad tersebut menjelaskan (juga Habib Jindan) bahwa bukti hijrahnya Sayyid Ahmad bin Isa ke Hadramaut adalah dengan adanya makam tersebut.

Tapi Kiyai Imaduddin Utsman memang kaya inspirasi dan selalu mampu menemukan celah kelemahan argumentasi lawan, setelah itu melakukan serangan balik dengan menerbitkan tulisan berjudul BENARKAH AHMAD BIN ISA DI MAKAMKAN DI HUSAISAH HADRAMAUT?.

Berangkat dari tanda tanya di akhir kalimat itu, Kiyai Imad melacak ‘kebenaran” makam yang dipercaya secara turun temurun sebagai makam Sayyid Ahmad bin Isa dengan dua pertanyaan susulan. Pertama, apakah makam itu sudah dikenal sejak wafatnya Ahmad bin Isa?. Kedua, Bukti manuskrip apa yang bisa memberi kesaksian bahwa benar Ahmad bin Isa dimakamkan di Husaisah?.

Saya melihat pada paragraf kedua dari tulisan tersebut, Kiyai Imad agaknya terlalu terburu-buru membuat kesimpulan dengan mengatakan “Sebuah makam di suatu tempat, tidak bisa menjadi bukti historis akan eksistensi seorang tokoh yang diklaim dimakamkan di tempat itu, tanpa ada bukti pendukung berupa catatan tentang itu”. Validasi kebenaran yang diajukan oleh Kiyai Imad hanya disandarkan pada bukti pendukung berupa catatan. Padahal menurut saya, bisa saja bukti pendukung didapatkan dari adanya tradisi lisan yang diwariskan secara turun temurun. Tapi jika Bani Alawi dan para pendukungnya menggunakan argumentasi ini, bisa menjadi senjata yang menghantam balik. Karena ketika menggunakan argumen tradisi lisan, misalnya Bani Alawi terpojok karena tidak mampu mengajukan bukti pendukung berupa catatan sejarah, konsekuensinya adalah menerima juga validasi kebenaran nasab dengan menggunakan tradisi lisan yang diwariskan secara turun temurun.

Sebelumnya harus dilihat dulu, apakah tradisi Hadramaut dalam mewariskan sejarah adalah dengan catatan atau tradisi lisan?. Kalau menggunakan tradisi tulisan berarti kesimpulan yang diambil oleh Kiyai Imad sudah benar.

Terlepas dari poin kritik saya atas tulisan Kiyai Imad tersebut, Bani Alawi tetap harus menjawab tulisan Kiyai Imad ini dengan argumentasi intelektual. Tulisan berbalas tulisan. Ajukan bukti-bukti pendukung yang kuat bahwa makam yang “diklaim” itu adalah benar-benar makam Sayyid Ahmad bin Isa. Lebih elegan lagi kalau mampu membuktikan dengan mengajukan catatan yang merekam sejarah mengenai makam Sayyid Ahmad bin Isa dalam kurung waktu yang sama atau jarak waktu yang tidak terlampau jauh dari wafatnya Sayyid Ahmad.

Dengam mengutip Al Jundi, yang disebut sebagai “sejarawan yang rajin mencatat nama-nama makam yang diziarahi dan dianggap berkah”, Kiyai Imad mengatakan bahwa makam Sayyid Ahmad bim Isa belum dikenal orang selama 387 tahun sejak wafatnya. Selanjutnya Kiyai Imad mengatakan bahwa Berita awal tentang makam Sayyid Ahmad bin Isa adalah dari Ba Makhramah dalam kitabnya “Qaladat al-Nahr Fi Wafayyat A’yan al-Dahr” sekitar 602 tahun dari tahun wafatnya. Dimana nasab Bani Alawi mulai dibuat dan disambungkan dengan nasab Sayyid Ahmad bin Isa melalui Ubaidillah.

Klimaks dari tulisan Kiyai Imad ini ada pada kesimpulan akhir bahwa isbat makam Sayyid Ahmad bin Isa bukan berdasarkan naskah tapi berdasarkan “petunjuk berupa cahaya yang bersinar dari tempat itu, maka diyakinilah tempat itu sebagai makamnya” yang oleh Kiyai Imad disebut sebagai syatahat dan ijtihad-intuisi. Keduanya adalah metode yang sangat subjektif karena berasal dari pengalaman pribadi seseorang, bukan kesaksian kolektif masyarakat sekitar.

Ini adalah tugas baru dari Bani Alawi untuk mengajukam sanggahan demi sanggahan atas rentetan teori yang menunjukkan bahwa nasab Bani Alawi tidak bersambung kepada Rasulullah. Belum lagi satu teori terbantah dengan argumentasi dan bukti yang valid, muncul lagi teori baru yang makin menguatkan argumentasi pihak yang meyakini bahwa nasab Bani Alawi tidak tersambung kepada Rasulullah. Di lain pihak Bani Alawi dan para muhibbin yang mendukungnya semakin terpojok, kalah cepat dalam memberikan jawaban intelektual, dan harus semakin berhati-hati mengeluarkan argumentasi karena sangat mungkin akan menjadi celah dan berbalik menyerang diri sendiri.

Ibarat permainan sepakbola, penguasaan bola dengan menampilkan permainan cantik membuahkan gol demi gol dipertunjukkan oleh Kiyai Imaduddin Utsman, sedangkan Bani Alawi harus memperbaiki rapuhnya pertahanan terlebih dahulu supaya tidak kebobolan lebih banyak gol, selanjutnya menata lini tengah dan melakukan serangan balik untuk menyamakan kedudukan dan membalikkan jalannya permainan. Bisakah?.*

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button