Pemerataan Pendidikan Jadi Pekerjaan Rumah di Kaltim

TIMURMEDIA, SAMARINDA – Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Fuad Fakhruddin, menjelaskan rata-rata durasi bersekolah masyarakat Benua Etam yang baru mencapai 10,2 tahun menjadi perhatian serius para legislator daerah.

Ia menilai capaian ini menunjukkan masih adanya tantangan besar dalam pemerataan akses pendidikan. Terutama bagi masyarakat dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

“kebijakan pendidikan gratis dari Pemprov Kaltim melalui program GratisPol sudah tepat, namun persoalan utama justru terletak pada tingginya biaya hidup, bukan biaya sekolah seperti SPP atau UKT (Uang Kuliah Tunggal, Red.),” ucapnya.

“Banyak anak muda tidak bisa melanjutkan pendidikan bukan karena biaya sekolah, tapi karena mereka tak sanggup membiayai kebutuhan sehari-hari, seperti makan, transportasi, dan kos,” timpal Fuad Fakhruddin.

Politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini mengusulkan agar perusahaan besar yang beroperasi di Kaltim turut mendukung sektor pendidikan, khususnya biaya hidup siswa dan mahasiswa, melalui beasiswa atau bantuan sosial.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Bantuan perusahaan akan sangat berarti bagi anak-anak yang ingin sekolah tapi terhambat biaya hidup,” ujarnya.

Fuad Fakhruddin juga menekankan pentingnya menjaga kualitas pendidikan. Peningkatan kompetensi guru dan dosen serta perbaikan fasilitas pendidikan menjadi fokus agar program gratis benar-benar efektif.

“Gratis bukan berarti asal-asalan. Kalau guru dan fasilitasnya tidak berkualitas, program bisa kehilangan makna. Kualitas harus jadi prioritas,” ungkapnya. (tm/adv)

 

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page