Pembajakan Sejarah Mataram: Kritik Tajam terhadap Baalawisasi oleh Para Habaib

Pembajakan Sejarah Mataram: Kritik Tajam terhadap Baalawisasi oleh Para Habaib

Oleh: Ickur

Tulisan ini merupakan hasil telaah singkat (kalau tidak bisa dikatakan terburu-buru) atas tulisan Peter Carey yang berjudul “Syekh Habib Luthfi bin Yahya and the Hijacking of Mataram History” Yang menjadi salah satu tulisan pengantar dalam buku Menachem Ali yang berjudul “Filologi Judeo – Arab; Polemik Nasab dalam Tradisi Islam dan Kristen”.

Fenomena “Baalawisasi” sejarah Indonesia, khususnya era Kerajaan Mataram Islam (1584–1755) dan kelanjutan di Yogyakarta, merupakan bentuk distorsi sistematis yang mengkhianati fakta sejarah demi kepentingan narasi nasab dan pengaruh kelompok tertentu. Praktik ini paling kentara dalam klaim-klaim atas ribuan makam leluhur Mataram oleh kalangan habaib, terutama yang dipimpin Habib Luthfi bin Yahya. Kritik ini bukan sekadar opini, melainkan didasarkan pada analisis kritis sejarawan terkemuka seperti Prof. Peter Carey dari Oxford University.

1. Pembajakan Massal Makam Mataram

Habib Luthfi dan kelompoknya dituduh mengambil alih lebih dari 3.000 makam era Mataram Islam dan mengubah identitasnya menjadi makam orang-orang Arab Yamani (Ba’alawi). Contoh paling mencolok adalah makam KRT Sumodiningrat di Jejeran, Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Makam ini secara resmi diklaim sebagai makam “Habib Toha/Ahmad bin Yahya” atau variannya.

Padahal, makam tersebut telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Bantul, dengan bukti sejarah yang kuat dari Keraton Yogyakarta. Klaim ini ditolak secara resmi oleh Tepas Dharah Dalem Keraton Yogyakarta.

2. KRT Sumodiningrat: Tokoh Sejarah yang Sahih dan Terdokumentasi

Kanjeng Raden Tumenggung Sumodiningrat (1760–1812) adalah tokoh nyata Keraton Yogyakarta. Ia menjabat sebagai orang kepercayaan Sultan Hamengku Buwono II, Patih Jero, panglima tentara, dan menantu sultan. Ia gugur heroik pada 20 Juni 1812 saat Perang Sepehi (Geger Sepehi) melawan pasukan Inggris di bawah Raffles. Kematiannya didokumentasikan dalam catatan resmi Belanda/Inggris (Java Government Gazette, 4 Juli 1812) dan berbagai Babad Mataram seperti Babad Sepehi dan Babad Panular. Ia dimakamkan di Jejeran oleh pengikutnya pada malam harinya.

Identitasnya sebagai keturunan Jawa-Mataram (trah Kiai Kriyan) tercatat jelas dalam silsilah Keraton. Klaim bahwa ia adalah “Habib Hasan bin Thoha bin Yahya” sepenuhnya bertentangan dengan sumber primer.

3. Habib Thoha/Ahmad bin Yahya: Tokoh Fiktif?

Menurut Prof. Peter Carey, tidak ada dokumentasi sejarah kontemporer yang kredibel tentang sosok “Habib Thoha bin Yahya” atau varian namanya dalam konteks peristiwa 1812. Carey menyebut klaim ini “sepenuhnya fiktif” hingga ada bukti riset akademik yang valid. Narasi manaqib yang beredar pun penuh kontradiksi internal, termasuk kesalahan kronologi (misalnya, kematian pada Juni 1811, padahal pasukan Inggris baru mendarat Agustus 1811).

Ini bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan fabrikasi sejarah yang disulap menjadi “tradisi ziarah” untuk mendukung narasi superioritas nasab Ba’alawi.

4. Ironi: Mengapa Harus Mengarang Silsilah?

Carey dengan tajam mempertanyakan mengapa Habib Luthfi perlu “mengarang” silsilah palsu, padahal ia memiliki leluhur nyata yang prestisius: Habib Utsman bin Yahya (1822–1913), Mufti Besar Batavia, yang pro-Belanda dan dianugerahi Orde Singa Belanda. Ia berperan sebagai adviseur kehormatan kolonial dan dekat dengan Snouck Hurgronje.

Jalur Raden Syarif Saleh Bustaman (Raden Saleh), pelukis terkemuka Indonesia yang anti-kolonial dalam beberapa karyanya (seperti Penangkapan Diponegoro).

Fokus pada tokoh-tokoh sahih ini justru akan memperkuat kredibilitas, bukan malah merusaknya dengan distorsi sejarah Mataram.

5. Dampak yang Lebih Luas: Pengkhianatan terhadap Trah Leluhur

Praktik Baalawisasi ini adalah “pembajakan sejarah nasional” dan “pengkhianatan terhadap trah leluhur Mataram Islam”, seperti yang ditegaskan Carey. Dengan mengklaim makam-makam Jawa sebagai milik Arab Yamani, kelompok ini menghapus identitas asli bangsa, mereduksi sejarah Mataram menjadi narasi impor, dan melemahkan rasa kebangsaan. Ini bukan dakwah, melainkan kolonisasi memori kolektif.

Fenomena ini terjadi secara masif, bukan kasus tunggal. Ribuan makam lain berpotensi mengalami nasib serupa, di mana fakta sejarah dikalahkan oleh cerita manaqib dan kepentingan kelompok.

Kesimpulan: Kembalikan Sejarah pada Fakta Sejarah bukan milik satu kelompok untuk dibajak demi memperkuat klaim nasab atau pengaruh sosial-ekonomi (ziarah, wakaf, dll.). Prof. Peter Carey, dengan otoritasnya sebagai sejarawan Mataram dan Jawa yang mendalam, telah memberikan peringatan keras. Sudah saatnya intelektual, keraton, pemerintah, dan masyarakat luas membela fakta sejarah dari distorsi Baalawisasi ini.

Sumodiningrat adalah Sumodiningrat — pahlawan Jawa-Mataram yang gugur melawan penjajah. Bukan Habib fiktif. Sejarah harus dikembalikan kepada pemiliknya yang sah: trah leluhur bangsa Indonesia. Menolak pembajakan ini adalah bentuk penghormatan terhadap kebenaran dan keadilan historis.

Sepinggan – Balikpapan Selatan

8 Mei 2026

Menanti senja di sebuah Warkop

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page