NTT Diguncang Gempa, Kalimantan Dilanda Bencana Asap

NTT Diguncang Gempa, Kalimantan Dilanda Bencana Asap

Wak, ini serius. Bencana datang. Korban berjatuhan. Saatnya kita berbelasungkawa pada korban. Support dan doa untuk para relawan. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Indonesia sedang seperti rumah besar yang kehilangan atap. Di timur, bumi mengguncang Nusa Tenggara Timur. Di Kalimantan, langit perlahan berubah kelabu. Yang satu menangis karena tanah bergerak. Yang lain menangis karena udara tak lagi layak dihirup.

Sabtu, 15 Agustus 2026, gempa magnitudo 7,7 mengguncang NTT. Dalam hitungan detik, dunia ribuan keluarga berubah. Rumah yang kemarin menjadi tempat berteduh, mendadak menjadi puing. Sekolah yang biasanya dipenuhi suara anak-anak berubah menjadi tempat sunyi.

Data BNPB terus bergerak seiring proses pendataan. Korban meninggal, luka-luka, rumah rusak, dan warga mengungsi menjadi angka yang setiap hari diperbarui. Tetapi di balik setiap angka ada manusia. Ada ibu kehilangan anak. Ada anak kehilangan ayah. Ada keluarga malamnya tidak lagi tidur di rumah sendiri.

Gempa tidak pernah meminta izin. Ia tidak membaca KTP, tidak mengenal pangkat, jabatan, partai, atau saldo rekening. Sekali bumi bergerak, manusia mendadak sadar, kekuasaan setinggi apa pun ternyata tidak mampu menyuruh tanah untuk diam.

Belum selesai Indonesia mengusap air mata NTT, Kalimantan mulai ?sesak.

Hingga 20 Agustus, BNPB mendeteksi 1.487 titik panas di Kalimantan. Kalimantan Tengah menyumbang 767 titik, Kalimantan Barat 560, Kalimantan Selatan 74, Kalimantan Timur 74, dan Kalimantan Utara tiga titik.

Di sejumlah wilayah, asap mulai menguasai langit. Jarak pandang terganggu. Petugas pemadam berjibaku. Sebagian titik sulit ditembus melalui jalur darat sehingga dukungan udara diperlukan.

Di sinilah kita kembali melihat wajah Indonesia yang lain.

Saat sebagian orang sibuk berdebat di ruang berpendingin, sibuk menghitung elektabilitas, sibuk merancang kalimat pencitraan, ada manusia justru bekerja dalam panas, lumpur, asap, dan gelap.

Saat sebagian pejabat mungkin sedang tidur nyenyak, para relawan masih menyusuri lokasi bencana.

Saat sebagian kita nyaman menggulirkan layar ponsel, mereka mengangkat korban, memadamkan api, membawa makanan, mengantar obat, mendirikan tenda, mencari orang hilang, bahkan mempertaruhkan nyawa.

Mereka bekerja ketika yang lain tidur. Mereka berkeringat ketika yang lain berpidato tentang kepedulian.

Mereka berada di lokasi ketika sebagian orang cukup berada di depan kamera.

Untuk para relawan, petugas BPBD, Basarnas, pemadam kebakaran, TNI, Polri, tenaga medis, masyarakat lokal, dan semua tangan yang bekerja dalam diam, terima kasih.

Semoga Tuhan menjaga setiap langkah kalian. Semoga api tidak menyentuh tubuh kalian. Semoga bangunan yang rapuh tidak runtuh ketika kalian berada di dalamnya. Semoga asap tidak merusak paru-paru kalian. Semoga kalian pulang dengan selamat kepada keluarga yang menunggu.

Ironis memang. Negara punya gedung megah, anggaran triliunan, rapat berlapis-lapis, dan pidato kadang lebih panjang dari daftar kebutuhan korban.

Tetapi ketika bencana datang, yang paling cepat bergerak sering kali justru manusia biasa. Mereka tidak membawa jabatan. Mereka membawa hati.

NTT sedang mengubur luka. Kalimantan sedang menghirup asap.

Di tengah semua itu, para relawan berdiri seperti lilin kecil di tengah malam panjang. Mungkin mereka tidak masuk berita setiap hari. Tetapi tanpa mereka, banyak korban mungkin lebih lama menunggu pertolongan.

Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka. Sebab ketika Indonesia sedang berduka, merekalah memilih datang, sementara yang lain memilih tidur.

Sejarah seharusnya mencatat, pahlawan tidak selalu memakai seragam megah. Kadang mereka hanya memakai rompi relawan, sepatu berlumpur, wajah penuh asap, dan hati yang tidak tega meninggalkan sesama.

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page