Musuh

Musuh
Kita rupanya tidak kekurangan alasan untuk marah. Beda pilihan politik, kita bertengkar. Beda agama, kita curiga. Beda pendapat, kita blokir. Bahkan orang yang tidak melakukan apa-apa pun bisa menjadi musuh hanya karena memakai atribut kelompok yang salah. Kita hidup dalam masyarakat yang gemar mencari lawan. Musuh membuat hidup lebih sederhana. Semua masalah bisa ditimpakan kepadanya. Harga naik karena mereka. Negara kacau karena mereka. Kita kalah karena mereka. Dengan begitu, kita tak perlu repot memeriksa kesalahan sendiri.
Yang lebih ganjil, permusuhan sering dimulai dari sesuatu yang sepele: sebuah komentar, potongan video, unggahan anonim. Kita marah kepada orang yang bahkan tidak kita kenal. Media sosial memberi kita kemewahan itu: membenci tanpa perlu bertemu. Masalahnya mungkin bukan pada banyaknya perbedaan. Kita memang berbeda sejak lahir. Masalahnya adalah ketidakmampuan menerima bahwa orang lain boleh berbeda tanpa harus kita kalahkan.
Di balik kemarahan itu sering tersembunyi sesuatu yang lebih rapuh: harga diri. Orang yang yakin pada dirinya tidak membutuhkan musuh untuk merasa berharga. Ia bisa dikritik tanpa merasa dihina. Ia bisa kalah tanpa merasa menjadi pecundang. Ia bisa melihat orang lain berhasil tanpa merasa dirinya gagal. Sebaliknya, mereka yang harga dirinya bergantung pada kemenangan akan selalu membutuhkan pembanding. Dan ketika pembanding itu lebih unggul, yang muncul bukan kekaguman, melainkan kegelisahan. Dari situlah kebencian mudah tumbuh.
Barangkali benihnya sudah ditanam sejak kecil. Kita membesarkan anak dengan pertanyaan siapa yang paling pintar, siapa yang mendapat nilai tertinggi, siapa yang menang. Kita mengajarkan kompetisi sebelum mengajarkan cara menerima kekalahan. Lalu ketika dewasa, kita heran mengapa mereka sulit kalah dalam pemilihan, sulit menerima kritik, dan sulit mengakui bahwa orang lain mungkin benar. Kita mendidik pemenang, tetapi lupa mendidik manusia.
Padahal demokrasi membutuhkan manusia yang mampu berbeda tanpa saling menghapus. Konflik bukan penyakit. Yang berbahaya adalah ketika perbedaan membuat kita kehilangan kemampuan melihat manusia di seberang meja. Mungkin karena itu pertanyaan yang lebih penting bukan “mengapa mereka begitu?” Melainkan: mengapa kita begitu takut kepada mereka? Takut kalah. Takut dianggap salah. Takut tidak penting. Takut melihat orang lain lebih berhasil.
Pada akhirnya, musuh yang paling gigih mungkin bukan orang di seberang kita. Ia ada di dalam diri: kesombongan yang ingin selalu benar dan rasa tidak aman yang membutuhkan seseorang untuk disalahkan. Kita sibuk mencari musuh di luar. Padahal bisa jadi, selama ini, kita sedang berperang dengan diri sendiri.
Foto AI hanya ilustrasi
Red.