Mudyat Noor Targetkan Rumah Adat Paser Rampung Sebelum 2030, Progres Baru 30 Persen

Timur Media, Penajam – Pembangunan Rumah Adat Kuta Rekan Tatau di Kelurahan Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kembali menjadi perhatian Pemerintah Daerah. Proyek yang mulai dikerjakan sejak 2018 itu kini baru mencapai sekitar 30 persen atau sebatas pembangunan teras dan sebagian struktur dasar bangunan.
Rumah adat yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih dua hektare dan memiliki ukuran bangunan sekitar 40×90 meter ini sebenarnya telah berfungsi sebagai pusat berbagai kegiatan masyarakat. Meski pembangunannya belum tuntas, lokasi tersebut telah ramai digunakan untuk latihan sanggar seni, kegiatan adat, pertemuan masyarakat, hingga aktivitas sekolah.
Selain menjadi ruang publik bagi warga, Rumah Adat Kuta Rekan Tatau juga sering menjadi salah satu tujuan kunjungan tamu dari luar daerah. Potensi ini membuat pemerintah daerah semakin serius mempercepat penyelesaiannya agar dapat dimanfaatkan secara optimal.
Melihat perkembangan yang relatif lambat sejak 2018, Mudyat Noor menetapkan target pribadi, Rumah Adat Paser itu harus rampung sebelum masa jabatannya berakhir pada tahun 2030. Ia mengakui pembangunan berjalan lambat, namun menegaskan akan mengambil langkah konkret untuk mempercepat progresnya.
“Progres baru 30 persen. Ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Saya menargetkan pembangunan rumah adat ini selesai sebelum tahun 2030. Ini komitmen saya untuk masyarakat,” tegas Mudyat Noor.
Menurutnya, Rumah Adat Kuta Rekan Tatau bukan sekadar ruang tradisi, tetapi harus berkembang menjadi ikon kebudayaan sekaligus destinasi wisata budaya yang menarik bagi pengunjung. Ia mendorong agar seluruh perencanaan konstruksi, pengembangan kawasan, hingga permodalan dipastikan berjalan setiap tahun.
“Rumah adat ini harus menjadi wajah budaya kita. Tidak cukup hanya menjadi tempat kegiatan, tapi harus bisa menarik wisatawan dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Mudyat Noor menyampaikan bahwa konsep pengembangan rumah adat akan diarahkan pada pendekatan Fun and Business, yaitu perpaduan antara pelestarian budaya dan peluang ekonomi kreatif. Dengan konsep ini, kawasan rumah adat diharapkan bisa menjadi pusat pameran budaya, pertunjukan seni, hingga area UMKM yang menawarkan produk lokal.
“Kita ingin rumah adat ini hidup, dinamis, dan memberikan manfaat. Tidak sekadar bangunan besar, tetapi tempat masyarakat berkreasi dan berusaha. Ini akan menjadi landmark baru PPU,” ungkapnya.
Mudyat Noor menegaskan bahwa percepatan pembangunan memerlukan dukungan lintas organisasi perangkat daerah. Ia meminta setiap tahun ada porsi anggaran yang dialokasikan agar progres konstruksi terus berjalan, termasuk pematangan lahan, arsitektur bangunan utama, hingga fasilitas penunjang.
“Komitmen kita jelas: pekerjaan harus berlanjut setiap tahun. Tidak boleh stagnan lagi,” ujarnya. (ADV/No)