Messi Mengamuk, Cetak Tiga Gol, Aljazair Ayam Sayur

Messi Mengamuk, Cetak Tiga Gol, Aljazair Ayam Sayur

Piala Dunia 2026 baru mulai, tapi Lionel Messi sudah bertingkah seperti dosen killer yang langsung kasih ujian di pertemuan pertama. Belum sempat Aljazair duduk manis, belum sempat nyeduh kopi, belum sempat update status “Bismillah menang”, eh tahu-tahu pulang membawa oleh-oleh tiga gol tanpa balas.

Argentina sukses menggebuk Aljazair 3-0 di Arrowhead Stadium, Kansas City. Dalangnya siapa lagi kalau bukan Lionel Messi. Tiga gol. Hattrick. Umur sudah bukan kategori pemuda, tapi kaki kirinya masih bekerja seperti mesin pencetak uang negara sebelum ketemu koruptor.

Awalnya Aljazair sempat bikin pendukung Argentina keringat dingin. Menit ke-8, Fares Chaibi berhasil menjebol gawang Emiliano Martinez. Fans Aljazair langsung meloncat-loncat seperti tim sukses yang baru dapat hasil survei pesanan.

Sayangnya, VAR berkata lain. Offside. Gol dibatalkan.

Mendadak suasana berubah. Wajah para pendukung Aljazair mirip pejabat yang baru tahu KPK datang ke kantor membawa map tebal. Ada yang pegang kepala, ada yang melongo, ada yang menatap langit sambil mencari sinyal keadilan.

Di pinggir lapangan, Lionel Scaloni melihat gejala berbahaya itu. Ia tak mau Argentina bernasib seperti proyek pemerintah yang mangkrak setelah seremoni gunting pita. Instruksinya sederhana.

“Hajar.”

Perintah itu rupanya diterjemahkan Messi sebagai izin resmi membuka gudang senjata. Menit ke-17, Rodrigo De Paul mengirim assist. Messi menerima bola dengan santai, seolah sedang memilih cabai di pasar. Sekali sentuh, sekali tembak.

Gol. Luca Zidane cuma bisa melihat bola lewat seperti rakyat melihat janji kampanye setelah pemilu selesai. Skor 1-0.

Saat itu juga warga Argentina yang sedang dihajar krisis ekonomi mendadak lupa semua masalah. Inflasi hilang. Harga kebutuhan pokok lenyap dari pikiran. Messi mencetak gol, itu sudah cukup untuk membuat satu negara melakukan terapi massal.

Babak pertama berakhir dengan keunggulan Argentina. Masuk ruang ganti, pelatih Aljazair Vladimir Petkovic memberikan tausiyah. “Kalian Rubah Gurun! Masa kalah sama tim yang kerjaannya joget tango?” Tausiyah itu terdengar hebat. Mirip pidato politik menjelang pemilu. Masalahnya, pidato tidak selalu menghasilkan gol.

Di ruang sebelah, Scaloni menghadap Messi. “Ini mungkin Piala Dunia terakhirmu. Keluarkan semua jurus.” Messi menjawab pendek. “Siap, bos” Kalimat yang dampaknya bagi Aljazair kurang lebih seperti surat pemanggilan auditor bagi bendahara yang hobi kreatif.

Babak kedua dimulai. Fans Argentina sudah santai. Ada yang ngopi. Ada yang selfie. Ada yang mungkin sudah mencari tiket final. Argentina memasukkan tiga pemain baru. Hasilnya, menit ke-60, Messi mencetak gol kedua.

Pertahanan Aljazair mulai terlihat seperti koalisi partai menjelang pembagian kursi kabinet. Banyak orang di dalamnya, tapi tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang menjaga area masing-masing.

Aljazair mencoba merespons dengan mengganti tiga pemain. Sayangnya, efeknya tidak jauh berbeda dengan reshuffle menteri yang wajahnya cuma pindah kursi.

Masalah lama tetap ada. Messi tetap berkeliaran. Gol ketiga pun lahir. Hattrick. Selesai.

Padahal Aljazair menguasai sekitar 54 persen permainan. Statistik itu mengingatkan kita pada sejumlah pejabat yang menguasai mikrofon berjam-jam tetapi hasil kerjanya tetap kalah oleh orang yang cuma bicara lima menit.

Argentina tidak peduli penguasaan bola. Mereka peduli papan skor. Papan skor menunjukkan angka paling menyakitkan dalam sepak bola: 3-0.

Hasil ini membuat Argentina langsung memimpin Grup J, sementara Austria dan Yordania belum sempat bermain. Tim Tango sudah lebih dulu mengirim surat edaran ke seluruh peserta grup, “Mohon maaf, puncak klasemen sedang dipakai. Terima kasih atas pengertiannya.”

Selama Messi masih menari dengan Jurus Goyang Tango tingkat dewa seperti ini, negara mana pun yang berhadapan dengannya sebaiknya membawa dua hal, strategi bertahan dan surat keterangan kuat mental. Karena malam itu, Rubah Gurun bukan kalah sepak bola. Mereka seperti jadi korban sidak Messi yang datang membawa palu, stempel, dan izin resmi untuk mengacak-acak segalanya.

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page