Menjaga Warisan, Menyongsong IKN (Catatan Wahyullah)

Menjaga Warisan, Menyongsong IKN (Catatan Wahyullah)
BALIKPAPAN, – Di Tenggarong, Kutai Kartanegara, bangunan bercat putih itu berdiri anggun meski termakan usia. Istana Sultan Mulawarman, karya arsitek Belanda Estourgie pada awal abad ke-20, menjadi saksi sejarah kejayaan masa lalu. Bangunan yang dulu dibangun sebagai bagian dari hadiah eksplorasi migas, kini menjelma museum dengan kondisi yang kian memprihatinkan.
“Istana itu bukan sekadar bangunan. Ia penanda bahwa daerah ini tumbuh dengan sumber daya alam,” tutur Wahyullah Bandung, pemerhati manajemen perkotaan, kepada Timur Media.
Namun, sejarah tak selalu sejalan dengan masa depan. Kalimantan Timur kini bersiap menghadapi era baru: hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN). Proyek ambisius ini diharapkan membawa berkah bagi warga Kaltim, sekaligus menjadi momentum untuk melepaskan ketergantungan dari migas.
Wahyullah menilai peluang itu terbuka. Undang-Undang IKN memberi ruang bagi keterlibatan warga Kalimantan dalam proyek pembangunan. Tetapi, kesiapan sumber daya manusia menjadi ujian.
Arsitek lulusan berbagai negara kini terlibat dalam merancang wajah IKN. Namun, Wahyullah mencatat, banyak pula arsitek Indonesia ikut berperan. Desain yang dihasilkan mengusung kearifan lokal: rumah panggung, atap panel surya, hingga konsep kota rendah karbon. “Inilah simbol kota masa depan yang berkelanjutan,” katanya.
Tetapi ada pekerjaan rumah besar: konsistensi. Menurut Wahyullah, kelemahan kota-kota di Indonesia sering kali terletak pada pelaksanaan. Rencana di atas kertas kerap berbeda dengan kenyataan di lapangan. Banjir yang melanda perumahan, misalnya, lebih sering karena bangunan berdiri di jalur air ketimbang semata-mata bencana alam.
Bagi Wahyullah, pembangunan IKN harus menjadi pelajaran. Kota modern, ujarnya, bukan lagi soal jalur kendaraan bermotor, tetapi ruang untuk manusia. Jalur sepeda, transportasi rendah karbon, dan tata ruang ramah lingkungan perlu menjadi prioritas.
Ia pun menekankan perlunya redefinisi visi dan misi kota-kota penyangga IKN, agar tidak hanya jadi pelengkap ibu kota baru, melainkan mampu berperan sebagai simpul pertumbuhan. “Balikpapan, Samarinda, dan Kutai Kartanegara harus menemukan peran barunya. Bila tidak, warga lokal akan tertinggal, hanya jadi penonton di tengah panggung besar pembangunan,” ujar Wahyullah.
Ia juga mengingatkan pentingnya kepemimpinan yang reflektif. Kepala daerah di Kalimantan Timur harus duduk bersama merumuskan visi jangka panjang, tanpa ego sektoral. “Kalau tidak, akan ada jurang. IKN gemerlap, tapi kota-kota penyangganya tertinggal,” ucapnya.