Menghindari Spanyol
Gol yang Mahal: Saat Aljazair Diduga Memilih Menghindari Spanyol

DALLAS — Riyad Mahrez berlari ke sudut lapangan. Tangannya terkepal. Wajahnya memancarkan ledakan emosi. Gol pada menit ke-93 itu tampaknya menjadi penentu kemenangan Aljazair atas Austria dalam laga terakhir fase grup Piala Dunia 2026.
Skor berubah menjadi 3-2. Para pendukung Aljazair bersorak. Namun hanya beberapa detik kemudian, suasana berubah ganjil.
Alih-alih ikut larut dalam euforia, sejumlah pemain Aljazair justru terlihat panik. Beberapa mengangkat tangan, berteriak kepada rekan-rekannya, bahkan memberi isyarat yang membingungkan. Di tengah perayaan gol kemenangan, yang muncul justru kegelisahan.
Ada apa? Jawabannya ternyata bukan soal taktik, melainkan matematika klasemen.
Gol Mahrez yang semula dianggap penyelamat justru berpotensi menjadi bumerang. Kemenangan atas Austria akan mengangkat Aljazair ke posisi runner-up grup. Hadiahnya terdengar menggiurkan: tiket ke babak 32 besar. Namun di balik itu tersimpan ancaman yang tidak diinginkan siapa pun—berhadapan dengan juara Eropa, Spanyol.
Di turnamen sebesar Piala Dunia, terkadang kemenangan tidak selalu membuka jalan yang lebih mudah. Justru sebaliknya.
Ketika hitung-hitungan klasemen mulai dipahami para pemain di lapangan, ekspresi Mahrez dikabarkan berubah. Selebrasi yang semula penuh sukacita berganti ketegangan. Waktu yang tersisa beberapa menit mendadak menjadi sangat berharga.
Lalu terjadilah momen yang kini menjadi bahan perdebatan. Pada menit-menit akhir, lini pertahanan Aljazair tampak kehilangan intensitas. Tekanan berkurang. Ruang terbuka. Austria yang terus menyerang mendapatkan peluang yang mereka butuhkan.
Menit ke-96. Gol. Skor berubah menjadi 3-3. Peluit panjang berbunyi tak lama kemudian. Pertandingan berakhir imbang. Dan bersamaan dengan itu, peta babak gugur berubah total.
Hasil seri membuat Aljazair tidak lagi finis sebagai runner-up grup. Mereka melaju melalui jalur peringkat ketiga terbaik. Secara kebetulan—atau mungkin memang tujuan yang diinginkan—jalur tersebut mempertemukan mereka dengan Swiss pada fase berikutnya.
Sebaliknya, Austria harus menerima nasib yang jauh lebih berat. Mereka menjadi tim yang mendapat giliran menghadapi Spanyol. Di media sosial, spekulasi langsung bermunculan. Apakah Aljazair benar-benar sengaja membiarkan Austria mencetak gol? Ataukah itu sekadar konsekuensi dari konsentrasi yang menurun di menit-menit akhir pertandingan yang penuh tekanan?
Tanpa pengakuan resmi, pertanyaan itu mungkin akan tetap menjadi misteri.
Namun satu hal pasti: Piala Dunia tidak hanya dimainkan dengan kaki, tetapi juga dengan kalkulator. Dan pada malam itu, sebuah gol kemenangan nyaris menjadi kesalahan terbesar Aljazair.
Di panggung sepak bola modern yang semakin kompleks, terkadang tim tidak hanya berusaha menang. Mereka juga berusaha memilih lawan.
Dan di antara dua pilihan itu, lahirlah salah satu drama paling aneh di Piala Dunia 2026.
Red.