Mengenang Zaha Hadid, Arsitek yang Dijuluki “Queen of Curve”

Mengenang Zaha Hadid, Arsitek yang Dijuluki “Queen of Curve”

Ini untuk pertama kali saya menulis dunia arsitektur. Pada arsitek boleh ngumpul sebentar di sini. Bukan arsitek perang apalagi arsitek demo, ya! Saya tertarik menulis, karena melihat sebuah mahakarya artitek jenius Zaha Hadid. “Kok bisa membuat bangunan begitu ya, isi otaknya apa sih.” Itu rasa kekaguman saya. Lebih jelasnya simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Di dunia yang hobi seragam, Zaha Hadid memilih bengkok. Saat banyak orang nyaman hidup di sudut siku-siku, ia justru menghapus sudut itu dari kamusnya. Dunia sastra punya JK Rowling yang membuat kita percaya pada sihir, sapu terbang, dan sekolah bernama Hogwarts. Dunia arsitektur punya Zaha Hadid, perempuan yang membuat manusia percaya, beton bisa mengalir, baja bisa menari, dan bangunan bisa tampak seperti sedang bergerak meski diam seribu tahun.

Zaha Hadid lahir di Baghdad, Irak, 31 Oktober 1950. Bukan dari Iran, meski namanya sering bikin orang salah duga. Baghdad saat itu kota kosmopolitan, tempat ide berseliweran sebelum dunia sibuk bertengkar soal siapa paling benar. Ia belajar matematika di American University of Beirut, lalu pindah ke London dan menempuh arsitektur di Architectural Association School. Kombinasi ini berbahaya, imajinasi liar ketemu angka dingin. Kalau orang lain melihat dinding, Zaha melihat kemungkinan. Kalau orang lain melihat garis lurus, ia melihat belokan tak masuk akal.

Julukan Queen of Curve bukan tempelan manja. Itu gelar perang. Zaha membenci kotak seperti seniman membenci sensor. Bangunan baginya bukan tumpukan bata yang patuh, tapi makhluk hidup yang mengalir, melipat, dan menolak diam. Di awal karier, desainnya sering ditolak. Terlalu gila, terlalu mahal, terlalu mustahil. Dunia saat itu belum siap. Tapi sejarah selalu punya kebiasaan menampar balik. Tahun 2004, Zaha Hadid menjadi perempuan pertama yang memenangkan Pritzker Architecture Prize, penghargaan paling sakral di dunia arsitektur. Sejak saat itu, mereka yang dulu menertawakan, mulai belajar mengeja namanya dengan hormat.

Karyanya berdiri di banyak kota, seperti tanda tangan raksasa di permukaan bumi. Heydar Aliyev Center di Baku menjelma gelombang putih tanpa sudut, seolah kain raksasa yang lupa cara diam. MAXXI Museum di Roma memaksa pengunjung berjalan berkelok, seakan berkata hidup tak pernah lurus, jadi jangan sok lurus. Guangzhou Opera House tampak seperti dua batu kosmik jatuh dari langit dan memutuskan menetap. Vitra Fire Station di Jerman, proyek besar pertamanya, penuh garis tajam futuristik yang dulu bikin banyak orang mengernyit. London Aquatics Centre menghadirkan atap seperti ombak laut yang membeku tepat sebelum pecah.

Penghargaan pun datang berderet. Selain Pritzker 2004, Zaha meraih Stirling Prize pada 2010 dan 2011. Tahun 2016, ia menerima RIBA Gold Medal, lagi-lagi sebagai perempuan pertama. Dunia arsitektur yang lama didominasi laki-laki butuh waktu panjang untuk mengakui bahwa bakat tak punya gender, hanya punya keberanian.

Inspirasi Zaha datang dari avant-garde Rusia seperti Kazimir Malevich, dari matematika, dari alam, dari teknologi digital parametrik, dan dari keberaniannya sendiri menolak simetri klasik. Ia memeluk deconstructivism, membiarkan bangunan terasa bergerak, menantang cara kita memandang ruang. Banyak yang mengkritik, mahal, rumit, kadang terlalu estetis. Tapi inovasi selalu dituduh berlebihan sebelum akhirnya dijiplak massal.

Di titik ini, izinkan sedikit analogi sepak bola. Ketika Barcelona menumbangkan Real Madrid 3-2 di final Piala Super Spanyol 2026 di Jeddah, dengan Raphinha mencetak dua gol dan Lewandowski menambah satu, sementara Madrid hanya membalas lewat Vinicius Junior dan Gonzalo Garcia, itu bukan sekadar skor. Itu perayaan keberanian menyerang, bermain terbuka, dan menolak parkir bus. Zaha Hadid melakukan hal yang sama di arsitektur. Ia menyerang pakem, menekan tradisi, dan menang dengan gaya. Tidak semua orang suka, tapi semua orang ingat.

Zaha Hadid wafat pada 31 Maret 2016 di Miami pada usia 65 tahun. Namun idenya menolak mati. Zaha Hadid Architects tetap aktif, mengerjakan proyek di Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Di kampus-kampus arsitektur, namanya dibedah, diperdebatkan, ditiru. Ia mengubah bangunan dari sekadar fungsi menjadi pengalaman, dari konstruksi menjadi pernyataan budaya.

Mengenang Zaha Hadid bukan sekadar mengingat seorang arsitek, tapi merayakan keberanian untuk berbeda. Ia membuktikan, dunia tidak berubah oleh mereka yang rapi dan patuh, melainkan oleh mereka yang berani bengkok ketika semua orang memilih lurus. Dari sanalah masa depan, pelan-pelan, dibangun.

Sumber foto: images.adsttc.com, res.cloudinary.com

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page