Mengenal Negeri yang Melahirkan Banyak Jenius Islam (1)

Mengenal Negeri yang Melahirkan Banyak Jenius Islam (1)
Di masa kejayaan Islam dulu banyak melahirkan ilmuwan hebat. Pikiran kalian pasti ilmuwan itu banyak berasal dari Timur Tengah. Ternyata, negeri penghasil para jenius Islam zaman itu, berasal dari Uzbekistan. Negeri yang dicukur Porgugal 5-0 di Piala Dunia. Oh iya, Prancis baru saja mencukur Norwegia 4-1, lalu Irak dibantai Senegal 5-0. Mari kita ungkap negeri Uzbekistan yang oleh kanal One Path Networking dijuluki “Genius Land” negeri para jenius. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Ada sebuah ironi lucunya sudah berlangsung sangat lama. Ketika nama-nama ilmuwan Barat disebut, banyak orang langsung berdiri memberi tepuk tangan. Namun ketika nama Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Biruni, Imam Al-Bukhari, atau Imam Al-Maturidi disebut, sebagian malah mengernyitkan dahi seolah sedang mendengar nama pemain cadangan liga antarkampung.
Beginilah nasib sejarah ketika ditulis oleh para pemenang. Mereka sibuk memoles etalase sendiri, sementara lemari emas peradaban Islam dibiarkan berdebu.
Padahal, jauh sebelum Eropa menikmati masa Renaissance, dunia Islam sudah lebih dahulu menggelar pesta ilmu pengetahuan. Ketika sebagian bangsa masih sibuk mengasah pedang, para ulama Muslim justru sedang mengasah akal. Ketika sebagian kerajaan sibuk memperluas wilayah, para cendekiawan Islam memperluas cakrawala ilmu.
Salah satu panggung terbesar kejayaan itu bernama Uzbekistan.
Ya, negeri di jantung Asia Tengah ini bukan sekadar tujuan wisata dengan bangunan-bangunan biru memesona. Tanah ini pernah dijuluki “Genius Land of Islam”, sebuah negeri melahirkan para jenius hingga hari ini masih “bekerja” untuk umat manusia, meski mereka telah wafat ratusan tahun lalu.
Ironisnya, kita sering lebih bangga menghafal nama aplikasi terbaru dari mengenal orang yang meletakkan fondasi ilmu di balik teknologi tersebut.
Kalau hari ini dunia berbicara tentang algoritma, jangan lupa bapaknya adalah Al-Khawarizmi, seorang ilmuwan Muslim dari kawasan yang kini menjadi Uzbekistan. Bahkan istilah algorithm berasal dari pelafalan nama beliau dalam bahasa Latin. Tanpa jasanya, mungkin telepon pintar yang setiap hari kita usap seperti mengelus nasib itu tak akan pernah secanggih sekarang.
Lalu ada Ibnu Sina, dokter besar asal Bukhara. Karyanya, Al-Qanun fi al-Tibb, menjadi kitab kedokteran paling berpengaruh selama ratusan tahun di Timur maupun Barat. Saat sebagian dunia masih mengobati penyakit dengan takhayul, ilmuwan Muslim justru sudah menyusun metode medis yang sistematis.
Kemudian hadir Al-Biruni, ilmuwan yang menghitung jari-jari bumi dengan ketelitian luar biasa menggunakan peralatan yang sangat sederhana. Hasil perhitungannya membuat ilmuwan modern pun mengangguk kagum.
Di bidang akidah lahirlah Imam Al-Maturidi. Sementara dalam ilmu hadis muncul sosok yang namanya hampir selalu menghiasi rak kitab kaum Muslim di seluruh dunia. Beliau adalah Imam Al-Bukhari. Seorang anak dari Kota Bukhara sejak usia belasan tahun telah menghafal puluhan ribu hadis. Demi memastikan setiap sabda Rasulullah benar-benar autentik, beliau menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju Makkah, Madinah, Irak, Persia, hingga Mesir.
Hasilnya adalah Shahih Al-Bukhari, kitab hadis yang diakui sebagai kitab paling sahih setelah Al-Qur’an oleh mayoritas ulama.
Nuan bayangkan. Setiap hari, jutaan Muslim membaca hadis dari kitab beliau. Artinya, pahala ilmu itu terus mengalir tanpa henti. Inilah “investasi abadi” yang tak pernah mengenal inflasi.
Islam pertama kali memasuki kawasan ini pada abad ke-8 melalui panglima Qutaybah bin Muslim dari Dinasti Umayyah. Bukhara dan Samarkand kemudian berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Masjid, madrasah, perpustakaan, hingga observatorium berdiri megah, bukan untuk memamerkan kekuasaan, melainkan untuk memuliakan ilmu.
Di sanalah tampak sebuah pelajaran besar yang kadang terlupakan. Dalam Islam, ilmu bukan sekadar jalan mencari pekerjaan. Ilmu adalah jalan menuju Allah.
Karena itulah astronomi berkembang untuk menentukan waktu salat dan arah kiblat. Matematika berkembang untuk menghitung zakat dan pembagian warisan. Geografi berkembang demi memudahkan perjalanan ibadah. Sains tidak pernah diposisikan sebagai musuh agama, melainkan sebagai sahabat yang berjalan berdampingan dengan wahyu.
Betapa kontras jika dibandingkan dengan sebagian elite politik masa kini begitu bangga memamerkan proyek beton, tetapi sering lupa, membangun manusia jauh lebih penting dari membangun gedung. Jalan raya memang bisa menghubungkan kota, tetapi hanya ilmu yang mampu menghubungkan sebuah bangsa dengan masa depannya.
Uzbekistan membuktikan, kejayaan sebuah negeri tidak lahir dari banyaknya baliho pemimpin, melainkan dari banyaknya ulama, guru, ilmuwan, dan pelajar yang memenuhi masjid serta madrasah. Sejarah tidak pernah mencatat sebuah bangsa menjadi besar karena paling ramai berdebat di mimbar politik. Sebaliknya, sejarah selalu mengenang bangsa yang menjadikan ilmu sebagai mahkota peradabannya.
Maka, jika hari ini kita ingin mengembalikan kejayaan umat, resepnya sebenarnya sudah ditulis oleh sejarah Uzbekistan lebih dari seribu tahun lalu. Dekatkan ilmu dengan iman, muliakan para ulama, hormati para guru, dan jadikan Al-Qur’an sebagai kompas kehidupan.
Sebab ketika iman memimpin akal, lahirlah peradaban yang menerangi dunia. Uzbekistan adalah salah satu bukti paling megah, Islam tidak hanya melahirkan orang-orang saleh, tetapi juga melahirkan para jenius yang mengubah sejarah umat manusia.
Nantikan kelanjutannya esok ya, jauh lebih seru.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar