Mengenal Arijit Singh, Penyanyi Jujur yang Hanya Ingin Lagunya Saja Didengar

Mengenal Arijit Singh, Penyanyi Jujur yang Hanya Ingin Lagunya Saja Didengar
Penggemar Bolywood ngumpul di sini sebentar. Saya mau mengulas penyanyi India patut dicontoh. Jujur dan tidak mau popularitas, padahal ia top dunia. Ia hanya ingin lagunya saja didengar. Berbeda dengan penyanyi lain, banyak aji mumpung. Begitu terkenal, mulai merambah jadi artis film, model, ambasador, dll. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Di zaman ketika manusia berlomba menjadi terkenal, lahirlah ironi bernama Arijit Singh. Seorang lelaki dari kota kecil Murshidabad, Bengal Barat. Suaranya menembus miliaran gendang telinga, tapi tubuhnya tetap enggan masuk ke pusat pesta. Dunia berteriak memanggil namanya, algoritma sujud padanya, platform streaming menjadikannya dewa statistik. Tapi, ia justru memilih duduk tenang, seperti seorang pertapa yang kebetulan suaranya dipinjam Tuhan untuk menyanyikan patah hati umat manusia.
Nuan bayangkan! Miliaran putaran lagu, ratusan juta pendengar bulanan, konser di berbagai benua, penghargaan nasional setinggi langit, dan status sebagai salah satu penyanyi paling didengarkan di planet ini. Dalam logika dunia modern, seharusnya Arijit hidup di menara kaca, bermandikan lampu sorot, berjalan di karpet merah sambil melambaikan tangan pada kamera yang lapar validasi. Tapi tidak. Ia tetap tinggal jauh dari pusat gemerlap, berpakaian seperti orang yang hendak membeli teh susu di warung, naik motor, menunduk, dan pulang tanpa merasa perlu menjelaskan apa pun pada dunia. Sikap inilah yang membuat dunia semakin tergila-gila padanya.
Arijit tidak menjual sensasi. Ia menjual kejujuran, dan itu barang langka. Ketika industri musik sibuk membangun persona, ia membongkar persona itu sampai habis. Ketika banyak penyanyi berteriak agar didengar, Arijit justru bernyanyi seolah hanya ada satu pendengar di ruangan itu. Entah bagaimana, miliaran orang merasa lagu itu ditujukan khusus untuk mereka. Ia tidak sekadar menyanyi tentang cinta dan kehilangan, ia membuat pendengar merasa pernah hidup di dalam lirik itu, pernah patah di nada itu, pernah sembuh di akhir baitnya.
Secara teknis, ia bukan penyanyi yang berisik. Ia tidak memamerkan nada tinggi seperti atlet pamer otot. Ia justru memeluk luka, memanjangkan jeda, menekan emosi di tempat yang tepat, lalu melepaskannya perlahan sampai pendengar sadar, “Sial, lagu ini sedang menceritakan hidup saya.” Itulah kekuatan yang tidak bisa dipelajari dari kursus viral atau seminar branding. Itu hasil disiplin panjang, latihan klasik sejak kecil, kegagalan di panggung pencarian bakat, kerja sunyi sebagai pengolah musik di balik layar, dan kesabaran yang di dunia cepat seperti sekarang dianggap kuno.
Lalu datanglah “Tum Hi Ho”, sebuah lagu yang secara tidak adil mengubah peta musik populer India dan menjadikan Arijit bukan sekadar penyanyi, tapi bahasa emosional lintas negara. Sejak itu, suaranya menjelma paspor universal. Ia masuk ke pesta pernikahan, kamar kos, bus malam, ruang tunggu rumah sakit, bahkan ke kesunyian orang-orang yang tak tahu harus bercerita pada siapa. Ironinya, semakin suaranya hadir di mana-mana, semakin ia menarik diri dari panggung narsisme. Seolah ia berkata, dengan sopan tapi tegas, ambil lagunya, jangan ambil hidup saya.
Dunia hiburan yang rakus sensasi tentu kebingungan menghadapi tipe seperti ini. Tidak ada skandal besar, tidak ada drama murahan, tidak ada pamer kekayaan, tidak ada upaya keras membangun citra “ikon”. Yang ada hanya lagu demi lagu, konsisten, produktif, lintas bahasa, lintas generasi, seperti mesin emosi yang bekerja tanpa perlu banyak bicara. Di era ketika popularitas dikejar mati-matian, Arijit justru memperlakukan popularitas seperti tamu tak diundang, dipersilakan masuk secukupnya, lalu diminta pulang sebelum larut.
Jika suara bisa menjadi tempat pulang, maka Arijit Singh adalah alamatnya. Ia membuktikan, ketenaran tidak harus berisik. Kesederhanaan bisa hidup berdampingan dengan pencapaian global. Karya yang jujur akan selalu menemukan jalannya sendiri tanpa perlu diseret-seret ke panggung pencitraan. Ia seperti tamparan halus bagi generasi yang sibuk ingin terlihat, padahal belum tentu terdengar.
Maka benarlah, wak, Arijit Singh tidak membenci popularitas. Ia hanya menolak menyembahnya. Baginya, musik bukan tangga menuju sorotan, tapi jalan sunyi menuju hati manusia. Di dunia yang semakin ribut oleh orang-orang yang ingin dikenal, Arijit justru dikenang karena satu hal yang makin langka. Ia bernyanyi bukan untuk terkenal, tapi karena memang tidak bisa berhenti bernyanyi.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar