Mengenal Abu Nawas

Mengenal Abu Nawas, Cerdas dan Kritis Bikin Penguasa Serba Salah

Tulisan ke-39 Edisi Ramadan. Siapa tidak kenal dengan Abu Nawas. Bahkan, di negeri kita diabadikan dengan istilah “akal Abu Nawas” artinya licik, pintar, penuh akal bulus. Beliau hidup di masa khalifah Harun Ar-Rasyid yang telah saya bahas sebelumnya. Sekarang, kita berkenalan, siapa sebenarnya Abu Nawas ini? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Abu Nawas itu bukan sekadar tokoh cerita pengantar tidur yang bikin orang nyengir sambil garuk-garuk kepala. Ia itu paket komplit. Otak encer level dewa. Mulut tajam kayak sindiran netizen +62. Gaya hidup yang kalau di zaman sekarang mungkin sudah jadi headline, “Influencer Nyentrik Dekat Penguasa, Tapi Hobi Bikin Kontroversi.” Istilah “akal Abu Nawas” bukan muncul karena kebetulan, melainkan karena level kecerdikannya sudah seperti politisi yang bisa lolos dari debat panas tanpa keringat—bedanya, Abu Nawas ini jujur lucunya.

Mari kita tinggalkan sejenak gemerlap istana, tempat para pejabat sibuk rapat sambil cari aman, lalu masuk ke lorong sejarah untuk mengenal sosok yang justru lebih populer dari penguasanya sendiri, Abu Nawas, sang penyair jenaka yang bisa bikin orang ketawa sekaligus mikir, sesuatu yang jarang dimiliki elite zaman sekarang.

Nama aslinya panjang dan megah, Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami. Lahir di Ahvaz sekitar 747–762 M, dari ayah Arab (tentara) dan ibu Persia (penenun). Ayahnya wafat saat ia kecil, nasib pahit pembuka cerita tokoh besar. Ibunya lalu membawanya ke Basra, pusat ilmu dan budaya. Hidup keras? Jelas. Sampai-sampai ia dijual ke pedagang bernama Sa’ad al-Yashira. Zaman sekarang mungkin sudah viral,“Anak Jenius Dijual Karena Ekonomi, Negara Kemana?”

Namun otaknya tidak bisa dibatasi nasib. Ia tetap belajar, ngaji, dan nongkrong di majelis ilmu. Bakatnya tercium oleh penyair besar Walibah ibn al-Hubab. Kemudian, membebaskannya dan mengasahnya. Lalu lanjut ke level berikutnya, belajar ke Khalaf al-Ahmar di Kufah, bahkan disuruh hidup bareng Badui demi memperdalam bahasa Arab klasik. Ini seperti dikirim ke pedalaman untuk riset, bukan studi banding ke luar negeri sambil belanja.

Ketika sampai di Baghdad, pusat dunia saat itu, Abu Nawas langsung meledak. Puisinya beda dari arus utama. Kalau penyair lain sibuk nostalgia padang pasir, dia malah bicara soal kota, anggur, dan realitas sosial. Nyentrik? Iya. Laku keras? Jelas.

Akhirnya ia dekat dengan Harun Ar-Rasyid dan keluarga Barmak. Diangkat jadi penyair istana. Posisi yang kalau sekarang mungkin setara “penasihat budaya + entertainer + tukang satire resmi negara”. Bedanya, Abu Nawas tidak jadi penjilat kekuasaan. Ia tetap nyeleneh, bahkan kadang nyeletuk yang bikin penguasa keringat dingin.

Bandingkan dengan sekarang, banyak yang dekat penguasa, tapi lebih sering jadi paduan suara. Lagunya satu, “semua baik-baik saja.”

Cerita Kocak, Tamparan Halus

Kisah telur “beranak” jadi lima, lalu uang “mati mendadak” itu bukan sekadar lucu. Itu sindiran telak ke manusia rakus. Logikanya sederhana tapi mematikan. Kalau mau percaya keuntungan absurd, harus siap nerima kerugian absurd juga. Kalau dibawa ke hari ini? Banyak yang mau untung proyek, tapi pura-pura tuli saat risiko muncul.

Lomba berburu lawan Abu Jahil? Semua bawa hasil besar, dia bawa semut. Ribuan. Lalu menang. Ini bukan kecurangan, ini kecerdasan membaca aturan. Persis kayak sebagian elite sekarang yang lihai “menginterpretasi aturan” bedanya, Abu Nawas bikin orang ketawa, bukan geleng kepala.

Cerita semut masuk-keluar telinga Raja? Teknik hipnosis level kampung tapi efektif. Bukti solusi tidak selalu harus megah. Kadang yang sederhana justru paling mematikan. Sayangnya, zaman sekarang yang sederhana sering kalah sama yang ribet tapi penuh anggaran.

Jangan bayangkan Abu Nawas itu alim dari awal. Ia dikenal sebagai pemabuk, penulis puisi anggur (khamriyyat). Bahkan, ia menulis hal-hal yang dianggap melampaui norma. Ia dikritik keras, termasuk oleh ulama besar seperti Imam Syafi’i.

Ini bagian menarik. Ia bukan malaikat. Ia manusia penuh dosa, penuh kontradiksi. Justru di situlah letak kedalamannya.

Puncaknya ketika ia menyinggung penguasa lewat puisi “Kafilah Bani Mudhar”. Hasilnya? Masuk penjara. Tidak ada konferensi pers, tidak ada klarifikasi, tidak ada buzzer. Langsung kurungan.

Namun di balik jeruji itulah terjadi plot twist terbaik, ia bertobat. Menulis puisi religius penuh penyesalan, termasuk “Al-I’tiraf”. Baitnya menyayat, “Aku tak pantas masuk surga-Mu… tapi aku tak kuat menahan neraka-Mu…” Kalimat yang jauh lebih jujur dari banyak pidato moral yang sering terdengar megah tapi kosong.

Ia wafat sekitar 806–814 M di Baghdad. Penyebabnya? Versinya banyak. Diracun, disiksa, atau wafat biasa. Tidak ada klarifikasi resmi, tidak ada tim investigasi independen, tidak ada trending hashtag. Sejarah mencatat, lalu bergerak.

Ia dimakamkan di Syunizi dan meninggalkan warisan, Diwan Abu Nuwas dan ribuan cerita rakyat. Namanya bahkan jadi taman di Baghdad. Abadi.

Abu Nawas itu seperti cermin retak. Ia memantulkan realitas apa adanya. Jelek, lucu, pahit, sekaligus indah. Ia bisa duduk di istana tanpa kehilangan lidah tajamnya. Ia bisa jatuh dalam dosa, lalu bangkit dengan kesadaran.

Kalau hidup di zaman sekarang, mungkin ia sudah kena sensor, dibungkam, disiram air keras, atau minimal diserang buzzer. Sebab satu hal yang paling berbahaya bagi kekuasaan bukan oposisi, melainkan kecerdasan yang dibungkus humor.

Abu Nawas mengajarkan satu hal sederhana tapi mahal, kecerdikan tanpa keberanian itu cuma jadi hiburan. Namun kecerdikan yang berani? Itu bisa jadi ancaman, atau legenda.

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page