Mencari Pasar, Menjemput Harapan

Mencari Pasar, Menjemput Harapan

Sebanyak 119 peserta dari berbagai komunitas dan pelaku ekonomi kreatif menghadiri kegiatan reses anggota DPRD Balikpapan, Wahyullah Bandung, pada Sabtu, 4 Juli 2026. Forum yang mempertemukan pelaku dari 17 subsektor ekonomi kreatif itu menjadi ruang dialog untuk menyerap aspirasi sekaligus memetakan berbagai tantangan yang dihadapi sektor kreatif di Kota Minyak.

Di tengah upaya Balikpapan mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar sektor migas, Wahyullah menaruh perhatian pada pengembangan ekonomi kreatif. Baginya, sektor tersebut memiliki potensi besar, tetapi masih menghadapi persoalan mendasar, yakni pemasaran.

Perhatian itu terlihat dalam forum reses yang ia sebut sebagai ruang “belanja masalah”. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan wadah bagi DPRD untuk mendengar langsung berbagai kendala yang dihadapi pelaku ekonomi kreatif agar dapat diterjemahkan menjadi kebijakan.

“Dari semua masukan yang kami terima, ujungnya satu, yaitu marketing,” kata Wahyullah.

Menurut dia, ekonomi kreatif mencakup 17 subsektor, yakni aplikasi, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film, animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio. Masing-masing subsektor memiliki tantangan yang berbeda, tetapi hampir semuanya menghadapi persoalan yang sama, yakni memperluas pasar.

Wahyullah menilai pemerintah selama ini cukup aktif memberikan pelatihan kepada pelaku ekonomi kreatif. Namun, menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan keterampilan, melainkan mempertemukan produk dengan pembeli, distributor, investor, maupun pasar yang tepat melalui program business matching.

“Pemasaran secara konvensional sudah tidak cukup. Produk-produk lokal harus didorong masuk ke ekosistem digital agar mampu menjangkau pasar nasional bahkan internasional,” ujarnya.

Dalam pandangan Wahyullah, penguatan ekonomi kreatif juga membutuhkan infrastruktur yang mampu mempertemukan komunitas, pelaku usaha, pemerintah, akademisi, hingga dunia industri. Karena itu, ia menilai konsep Creative Hub-Waktunya Berkarya layak dihadirkan di Balikpapan.

Ia mencontohkan langkah Pemerintah Kota Makassar yang membangun lima Creative Hub sebagai pusat aktivitas komunitas kreatif. Menurutnya, fasilitas seperti itu tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga dapat berfungsi sebagai pusat inkubasi bisnis, promosi produk, penyelenggaraan business matching, hingga pengembangan jejaring usaha.

Bagi Wahyullah, pengembangan ekonomi kreatif tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas para pelaku. Pemerintah daerah juga perlu membangun ekosistem yang mendukung lahirnya kolaborasi, inovasi, dan akses pasar.

Di tengah upaya Balikpapan mencari sumber pertumbuhan baru, ekonomi kreatif menawarkan harapan yang lahir dari ide dan karya. Yang dibutuhkan para pelakunya bukan sekadar ruang untuk berkreasi, melainkan ekosistem yang membuka jalan ke pasar.

Sebab, ketika kreativitas menemukan ruang untuk tumbuh, yang berkembang bukan hanya sebuah usaha, tetapi juga masa depan kota.

Red.

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page