Komisi IV Belum Terima Aduan Eks Dokter Spesialis RS Haji Darjad

TIMURMEDIA, SAMARINDA – Kasus Rumah Sakit Haji Darhjad (RSHD) tak hanya soal tunggakan gaji karyawan dan eks karyawan saja. Sejumlah dokter spesialis yang pernah bekerja di sana, juga diduga belum dibayar hingga kini.
Sekretaris Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), M. Darlis Pattalongi, mengatakan pihaknya belum menerima aduan secara resmi dari para dokter spesialis tersebut. Pun dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltim. “Sampai saat ini tidak ada pengaduan yang masuk ke DPRD, khususnya ke Komisi IV,” ujarnya, saat ditemui di Gedung E, Komplek DPRD Kaltim.
“Saat ini yang datang mengadu adalah tenaga keperawatan, tenaga administrasi, termasuk tenaga-tenaga yang mengampu misalnya petugas kebersihan dan lain sebagainya,” timpal M. Darlis Pattalongi.
Bagi politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini, kabar tunggakan pembayaran dokter spesialis ini sudah didengar Komisi IV DPRD Kaltim saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang berlangsung Senin (29/4/2025) lalu. “Kalau pihak dari dokter, tidak ada pengaduan. Walaupun kami dengar juga. Makanya sementara kami fokus ke karyawan dan eks karyawan dulu,” bebernya.
TIMURMEDIA sempat mencoba mewawancarai sejumlah dokter spesialis yang pernah bekerja di sana. Hasilnya, sebagian besar dari mereka mengakui belum dibayar. Lantaran masalah ini, mereka kemudian memillih berhenti di RSHD dan melanjutkan prakik di tempat lain.
Sayangnya, tidak semua dokter spesialis tersebut berkenan diwawancarai lebih lanjut. Hanya segelintir diantaranya berkenan bercerita. Tentu dengan sejumlah syarat. Misalnya, seluruh identitas mereka tidak diungkap ke publik. Alasannya, agar tidak ada conflict of interest dengan tempat mereka bekerja saat ini. Selain itu, agar proses pelunasan pembayaran oleh manajemen RS Haji Darjad tidak terhambat dikemudian hari. Pun, detail-detail informasi lain yang bisa mengungkap identitas mereka.
Dr X –misalnya. Saat dihubungi media ini via chat WA, ia membenarkan kabar tak dibayarnya sejumlah dokter spesialis di RSHD. Dr X mengaku sempat tak menerima pembayaran selama beberapa bulan. “Sempet mmg lama ga dibayar,” tulisnya.
Perihal kinerja buruk manajemen RSHD mengenai tunggakan gaji dokter spesialis –sekaligus karyawan, dr X juga Kembali membenarkan. “Bener ini. Trllau banyak mmg spesialis yang dirugikan,” balasnya.
Meski menyebut telah mendapat haknya, pembayaran yang dilakukan manajemen RSHD sejatinya belum selesai. “Kalo aku alhamdulillah. Dibandingkan tmn2 lain berbulan2. Tp kayak ya sdhlah aku dah males,” lanjut pesan singkat dari dr X.
Menariknya, dr X menyatakan tak pernah disodorkan kontrak kerja secara tertulis oleh manajemen RSHD. “Tidak ada. Lisan aja,” jawabnya. “Dan dulu waktu masuk darjad sbnnrya sdh diingatkan temen kalo disitu manajemennya ga bagus. Jd kayak ya ini salahku juga. Knp masih mau gabung,” timpal dr X.
Media ini lalu sempat bertanya mengenai pengalaman dr X bekerja di RSHD. Baginya, banyak hal tidak baik berjalan di sana. Mulai dari pengelolaan, transparansi, kebijakan, dan lainnya. “Semua,” singkat dr X. (tm/adv)