Kaltim Belum Bisa Lepas dari Batu Bara dan Migas

TIMURMEDIA – Ketergantungan terhadap migas serta batu bara nyatanya menjadi tantangan bagi Kaltim dalam membangun ekonomi yang lebih beragam. Di tengah upaya menarik investor baru, pemerintah daerah mendorong pengembangan sektor potensial lain agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam.
Sekda Kaltim, Sri Wahyuni, mengakui sektor migas dan batu bara masih menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya diversifikasi investasi melalui pengembangan industri pengolahan, perkebunan, dan sektor ekonomi lainnya.
“Kaltim selalu berada di antara 10 besar daerah dengan investasi tertinggi dalam lima tahun terakhir dan selalu mampu mencapai target,” ujar Sri dalam Mahakam Investment Forum (MIF) di Samarinda, seperti dilansir dari laman resmi Pemprov Kaltim.
Menurutnya, Kaltim memiliki sejumlah keunggulan untuk menarik investasi, mulai dari sumber daya alam, posisi geografis strategis, hingga kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN). Potensi tersebut mencakup minyak dan gas bumi, batu bara, nikel, pasir kuarsa, serta perkebunan kelapa sawit yang luasnya hampir mencapai 1,5 juta hektare.
Namun, daya tarik investasi perlu diikuti pengembangan sektor usaha yang lebih beragam. Kehadiran IKN diharapkan membuka pasar baru sekaligus mendorong pertumbuhan sektor perdagangan, industri, logistik, dan jasa yang terhubung dengan kebutuhan pembangunan ibu kota baru.
Sri juga menyoroti posisi Kaltim di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II yang berpotensi memperkuat konektivitas dan perdagangan. Keunggulan geografis tersebut dapat menjadi modal untuk memperluas kegiatan usaha dan meningkatkan daya saing daerah dalam menarik investor.
Meski demikian, data yang disampaikan pemerintah provinsi menunjukkan realisasi investasi Kaltim pada semester I 2026 berada di peringkat ke-34 secara nasional. Pemerintah provinsi optimistis kinerja pada semester berikutnya membaik dan kembali membawa Kaltim ke jajaran 10 besar nasional. Melalui Mahakam Investment Forum 2026, pemerintah berharap investasi baru tidak hanya memperkuat sektor ekstraktif, tetapi juga mendorong diversifikasi ekonomi dan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. (*)