Ibu Ini Meninggal di Atas Motor, Sang Anak Hanya Bisa Menatapnya

Ibu Ini Meninggal di Atas Motor, Sang Anak Hanya Bisa Menatapnya
Saya menonton videonya. Air mata mengalir tanpa permisi. Dada terasa sesak. Di atas sepeda motor, seorang ibu tertunduk, kepalanya menempel di dasbor. Tubuhnya diam. Napasnya telah berakhir. Di dekatnya, seorang anak kecil memandang ibunya, seolah sedang menunggu perempuan itu bangun dan kembali memeluknya.
Ya Allah, mengapa pemandangan sesakit ini harus terjadi? Siapkan Koptagul dan tisu, lalu nikmati narasinya, wak!
Namanya Lu’luatun Nikmah. Di sebuah jalan biasa di Ponorogo, ia mengendarai sepeda motor untuk membeli obat. Bukan untuk mengejar kemewahan. Bukan pula untuk bersenang-senang. Ia hanya ingin membeli obat karena tubuhnya telah lama digerus sakit asam lambung.
Ia ingin sembuh. Ia ingin bertahan. Sebab di rumah, ada empat anak yang menunggunya.
Suaminya telah lebih dahulu meninggal dunia. Sejak itu, Lu’luatun menjalani hidup seorang diri, memikul tanggung jawab seharusnya ditanggung berdua. Ia harus menjadi ibu sekaligus ayah, menjadi pelindung sekaligus pencari jalan keluar ketika hidup terasa buntu.
Tetapi siapa yang merawat seorang ibu ketika ia sendiri jatuh sakit? Hari itu, anak bungsunya berusia sekitar satu setengah tahun ikut bersamanya. Nuan bayangkan tubuh mungil itu, yang seharusnya berada dalam pelukan hangat, justru menyaksikan saat paling menyedihkan dalam hidupnya.
Di tengah perjalanan, tubuh Lu’luatun melemah. Sesak menyerang. Ia menepi. Mungkin ia berharap bisa beristirahat sebentar, mengumpulkan tenaga, lalu melanjutkan perjalanan pulang.
Namun, ada perjalanan ternyata tidak pernah sampai ke tujuan. Motor berhenti. Kepala sang ibu tertunduk. Napas terakhir meninggalkan tubuhnya. Anak kecil itu masih berada di sana. Ia belum mengerti arti kematian. Belum memahami mengapa ibunya mendadak diam. Mungkin ia menunggu ibunya menoleh, mengusap kepalanya, atau mengajaknya pulang seperti biasa.
Tetapi kali ini, tak ada jawaban. Tak ada tangan menggendongnya. Tak ada suara menenangkannya. Tak ada pelukan membuat dunia terasa aman. Hanya seorang anak kecil dan ibunya tak akan pernah bangun lagi.
Ampun, Ya Allah. Bagaimana mungkin hati kita tidak remuk membayangkannya? Empat anak kini kehilangan kedua orang tua. Anak tertua baru kelas empat sekolah dasar. Si bungsu masih berusia satu setengah tahun. Mereka belum cukup besar untuk memahami mengapa rumah bisa kehilangan sosok selama ini menjadi pusat kehidupan mereka.
Kelak, anak-anak itu akan tumbuh. Mereka akan melihat teman-temannya berlari menyambut ibu sepulang sekolah. Mereka akan mendengar panggilan “Ibu” dari mulut anak-anak lain. Mungkin suatu hari, si bungsu bertanya, “Ibu, aku dulu digendong siapa?”
Siapa yang akan menjawabnya tanpa menahan tangis? Kita tidak mengetahui seluruh penderitaan Lu’luatun. Namun, tragedi ini seharusnya membangunkan nurani kita. Jangan biarkan belasungkawa berhenti sebagai kalimat di layar. Empat anak itu membutuhkan perlindungan, pendidikan, dan tangan-tangan nyata yang membantu mereka melanjutkan hidup.
Semoga Allah memeluk Lu’luatun dengan rahmat-Nya, di tempat yang tak mengenal sakit, sesak, atau air mata. Semoga anak-anaknya tidak pernah berjalan sendirian. Sebab hari itu, seorang ibu pergi ketika sedang berusaha membeli obat agar bisa terus hidup. Ia tidak sedang meninggalkan anak-anaknya. Ia sedang berjuang agar tetap bisa bersama mereka.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani