Hujan Tekan Kasus Karhutla di PPU, BPBD Tetap Waspadai Titik Panas

Timur Media, Penajam – Curah hujan yang mulai meningkat di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) berdampak pada menurunnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski aktivitas pemadaman mulai berkurang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU tetap mengintensifkan pemantauan karena sejumlah titik panas atau hotspot masih terdeteksi.

Kepala BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan kondisi cuaca yang lebih basah belum sepenuhnya menghilangkan ancaman kebakaran. Karena itu, petugas tetap diminta melakukan pengawasan dan pengecekan langsung, terutama di lokasi yang terindikasi memiliki titik panas.

“Turunnya hujan tidak berarti intensitas terjadinya karhutla hilang. Beberapa hari terakhir masih ditemukan hotspot, sehingga fungsi pemantauan dan pengecekan langsung ke lapangan,” kata Nurlaila.

Ia menjelaskan, jumlah laporan karhutla yang diterima BPBD dalam beberapa hari terakhir mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Penanganan kebakaran di sejumlah lokasi juga dapat dilakukan lebih cepat melalui dukungan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) yang memiliki pos pemadam terdekat.

Kendati situasi mulai terkendali, pemerintah daerah tetap mempertahankan status siaga darurat bencana hingga 31 Desember 2026. Kesiapsiagaan tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali karhutla maupun potensi bencana lainnya.

Di sisi lain, perubahan cuaca turut meningkatkan perhatian terhadap ancaman bencana hidrometeorologi. Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah PPU juga disertai angin kencang. Bahkan, pada Minggu dini hari, sejumlah pohon dilaporkan tumbang dan beberapa rumah warga mengalami dampak akibat terpaan angin.

Menurut Nurlaila, kondisi tersebut membutuhkan langkah antisipasi bersama, terutama untuk mengidentifikasi kawasan rawan dan memastikan keselamatan masyarakat. Pemerintah desa, kelurahan, hingga pengurus RT diminta aktif memantau kondisi lingkungan serta melaporkan apabila ditemukan kerusakan rumah atau potensi bahaya.

” Jika RT atau Lurah setempak menemukan rumah warga terdampak atau potensi bahaya, segera laporkan kepada BPBD dan Disperkimtan agar bisa ditangani bersama,” ujarnya.

BPBD juga mengingatkan pentingnya kesiapan personel dan peralatan menghadapi peningkatan potensi bencana menjelang puncak musim hujan. Berdasarkan perkiraan yang disampaikan Nurlaila dengan merujuk informasi BMKG, curah hujan diprediksi meningkat pada Desember dan berlanjut hingga Januari-Februari.

Sementara itu, potensi fenomena El Nino disebut masih dapat berlangsung hingga 2027. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah perlu menyiapkan langkah antisipasi terhadap kemungkinan perubahan cuaca yang berdampak pada berbagai jenis bencana.

“Prediksi BMKG seperti itu. Harapannya kita bersama seluruh stakeholder benar-benar mengoptimalkan kesiapsiagaan, baik dari sisi peralatan maupun personel. Penanganan harus disiapkan untuk menghadapi berbagai potensi bencana,” tutupnya.

Melalui penguatan pemantauan dan koordinasi lintas sektor, BPBD PPU berharap penanganan bencana dapat dilakukan lebih cepat dan terarah. Upaya kesiapsiagaan tersebut menjadi penting agar penurunan kejadian karhutla tidak membuat kewaspadaan masyarakat dan petugas mengendur, sekaligus mengantisipasi dampak cuaca ekstrem di wilayah PPU. (ADV)

 

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page