HAN ke-42, DP3AP2KB PPU Perkuat Perlindungan Anak dan Cegah Perkawinan Anak

Timur Media, Penajam – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) untuk kembali memperkuat komitmen melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan, eksploitasi, diskriminasi hingga perkawinan anak.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Penggerakan dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), serta Pencegahan Perkawinan Anak di Daerah, yang dirangkaikan dengan peringatan HAN ke-42.

Kegiatan digelar di SLB Negeri Penajam Paser Utara, Kamis (16/7/2026), dengan menghadirkan berbagai unsur yang memiliki peran penting dalam perlindungan anak. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten PPU beserta jajaran, Ketua DPC PP-PAUD Kabupaten PPU beserta jajaran, Kepala SLB Negeri PPU, Forum Anak Kabupaten PPU, serta para orang tua dan wali murid.

Kegiatan juga menghadirkan narasumber Dr. Dwi Prasada dan Dian Wijayanti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, untuk memberikan penguatan pengetahuan kepada peserta mengenai perlindungan anak dan pentingnya membangun ketahanan mental sejak dini.

Sekretaris DP3AP2KB Kabupaten PPU, Mualimin dalam sambutannya mengatakan HAN bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi menjadi pengingat bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama.

“Hari Anak Nasional merupakan momentum untuk memperkuat komitmen kita bersama dalam memenuhi hak-hak anak serta memberikan perlindungan dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, eksploitasi, dan penelantaran,” ujarnya.

Mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” dengan subtema “Bangun Ketahanan Mental Anak, Wujudkan Generasi Tangguh dan Berdaya”, peringatan HAN tahun ini menempatkan ketahanan mental anak sebagai salah satu perhatian penting.

“Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama dalam membentuk karakter anak. Karena itu, pola asuh yang positif, komunikasi yang terbuka, dan pendampingan yang penuh kasih sayang sangat penting untuk membangun ketahanan mental anak,” katanya.

Ia menambahkan, perhatian tersebut juga harus diberikan kepada anak berkebutuhan khusus. Dukungan keluarga, layanan pendidikan yang inklusif, terapi yang tepat, serta lingkungan sosial yang ramah menjadi bagian penting agar setiap anak dapat tumbuh dan mengembangkan potensinya.

“Bagi anak berkebutuhan khusus, dukungan keluarga dan lingkungan yang ramah menjadi sangat penting. Kita harus memastikan mereka mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkembang, belajar, dan berpartisipasi tanpa diskriminasi,” lanjutnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, TPPO, penanganan ABH, pencegahan perkawinan anak, serta pendampingan bagi anak berkebutuhan khusus.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh hari ini. Pesan tentang perlindungan anak harus dibawa pulang, diterapkan dalam keluarga, dan disampaikan kembali kepada lingkungan sekitar agar semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa anak harus dilindungi,” imbuhnya.

Peringatan HAN ke-42 di SLB Negeri PPU juga menjadi ruang untuk berbagi kebahagiaan bersama anak-anak sekaligus memperkuat kedekatan antara pemerintah, lembaga pendidikan, orang tua, dan Forum Anak.

Momentum tersebut sekaligus menegaskan bahwa setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, memiliki hak yang sama untuk memperoleh rasa aman, pendidikan, kasih sayang, perlindungan, serta kesempatan untuk berkembang secara optimal.

DP3AP2KB Kabupaten PPU terus memperkuat perlindungan perempuan dan anak melalui edukasi, advokasi, sosialisasi, penguatan jejaring, serta peningkatan kapasitas masyarakat. Upaya tersebut diarahkan untuk membangun lingkungan yang aman, ramah, inklusif, dan bebas dari kekerasan.

“Kita ingin membangun lingkungan yang membuat anak merasa aman untuk berbicara, didengar, dihargai, dan dilindungi. Ketika keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat bergerak bersama, maka upaya mewujudkan lingkungan yang ramah anak akan semakin kuat,” pungkasnya. (ADV)

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page