Hadapi Potensi Super El Nino 2027, Perumda AMDT PPU Siapkan Cadangan Air di Lawe-Lawe

Timur Media, Penajam – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kemarau ekstrem yang diperkirakan terjadi pada 2027. Salah satu upaya yang disiapkan adalah mengoptimalkan Embung Lawe-Lawe sebagai sumber cadangan air baku.

Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT) PPU mengusulkan pengerukan dan penyiapan kolam cadangan di kawasan tersebut. Langkah itu dinilai penting untuk memperkuat ketersediaan air ketika musim kemarau mulai berlangsung.

Direktur Perumda AMDT PPU Abdul Rasyid mengatakan, peninjauan Embung Lawe-Lawe dilakukan bersama pemerintah daerah dan DPRD untuk melihat langsung potensi kawasan tersebut sebagai sumber cadangan air.

Menurut dia, kebutuhan air masyarakat berpotensi meningkat ketika kemarau. Kondisi tersebut perlu diantisipasi lebih awal agar gangguan pasokan tidak membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air melalui layanan tandon.

“Hari ini kita tinjauan, bahwa ada wilayah yang bisa kita garap untuk cadangan air. Mumpung masih menjadi lokasi yang dipinjam pakai oleh pemerintah, akan sangat naif jika kita tidak memaksimalkan apalagi dengan kondisi saat ini,” jelas Rasyid.

Ia menyebut rencana tersebut juga berkaitan dengan antisipasi potensi super El Nino pada Maret 2027, sebagaimana informasi yang diterima pemerintah daerah dari BMKG dan BRIN.

“PDAM melihat rencana ini sebagai antisipasi menghadapi potensi super El Nino pada Maret 2027, sebagaimana pengumuman dari BMKG dan BRIN,” ucap dia.

Pengembangan Embung Lawe-Lawe diarahkan untuk mendukung Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM). Kawasan tersebut memiliki luas sekitar 17 hektare dan pemanfaatannya mendapat dukungan melalui skema pinjam pakai lahan dari Pertamina kepada pemerintah daerah.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah PPU Nicko Herlambang mengatakan, pemanfaatan embung menjadi salah satu alternatif karena pembangunan bendung baru membutuhkan anggaran yang besar.

“Menggunakan skema bendung itu biayanya cukup besar. Dengan keterbatasan anggaran, kita coba maksimalkan embung yang sudah ada,” jelas Nicko.

Namun, air yang tertampung di embung tidak dapat langsung dialirkan kepada masyarakat. Air tetap membutuhkan proses pengolahan atau treatment agar memenuhi persyaratan kualitas dan aman digunakan.

Selain Lawe-Lawe, pemerintah daerah juga membahas alternatif cadangan dari embung di wilayah Buluminung. Kawasan tersebut dinilai memiliki sumber air eksisting yang dapat dimanfaatkan setelah melalui proses pengolahan.

“Ada opsi yang juga kita diskusikan yakni embung dari wilayah Buluminung, itu sudah ada exsisting air yang bisa digunakan, tentu dalam prosesnya memenuhi treatmen sehingga layak secara lingkungan hidup dan aman digunakan,” katanya.

Pemerintah daerah bersama Perumda AMDT masih menyiapkan skema teknis pemanfaatan sumber air tersebut. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pasokan air bersih PPU sebelum memasuki periode kemarau 2027. (ADV)

 

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page