Di Usia ke-129, Balikpapan dan Ruang Bernapas Generasinya

Di Usia ke-129, Balikpapan dan Ruang Bernapas Generasinya
Memasuki usia ke-129 tahun, Balikpapan terus bertumbuh sebagai kota modern. Perumahan meluas, pusat ekonomi bergerak cepat, dan infrastruktur semakin berkembang. Namun di tengah laju itu, ada pertanyaan yang tak kalah penting: di mana ruang bagi generasi mudanya untuk tumbuh?
Di kawasan Balikpapan Selatan yang semakin padat, ruang terbuka hijau menjadi lebih dari sekadar elemen tata kota. Ia adalah ruang bernapas—bagi lingkungan sekaligus bagi anak muda yang membutuhkan tempat untuk bergerak, berekspresi, dan membangun jejaring sosial di luar ruang-ruang komersial.
Ketua LPM Sepinggan Baru, Wahyullah Bandung, menilai usia kota tidak hanya dihitung dari capaian fisik, tetapi dari kualitas ruang hidup yang disediakan bagi warganya, terutama generasi muda.
“Ruang terbuka itu harus dimakmurkan. Anak-anak muda butuh tempat untuk beraktivitas dan menyalurkan energi positif. Kalau hanya dibangun tanpa dihidupkan, orang tidak akan merasa memiliki,” ujarnya.
Menurutnya, taman kota bisa menjadi ruang alternatif yang sehat bagi remaja dan komunitas kreatif. Di ruang terbuka, anak muda bisa berlatih tari, bermain musik, berolahraga, berdiskusi, hingga sekadar berkumpul tanpa tekanan untuk berbelanja. Ruang seperti ini penting agar interaksi sosial tidak selalu bergantung pada handphone, mal atau kafe.
Ia melihat kecenderungan pembangunan kota yang lebih berfokus pada infrastruktur vertikal—gedung dan fasilitas komersial—sementara ruang horizontal seperti taman belum sepenuhnya menjadi prioritas strategis. Padahal di kota yang kian panas dan padat, ruang terbuka hijau justru menjadi fondasi keseimbangan sosial dan ekologis.
Selain menjadi ruang ekspresi, taman juga berfungsi sebagai ruang pencegah. Ketika anak muda memiliki tempat berkegiatan yang positif, potensi aktivitas negatif dapat ditekan. Ruang publik yang aktif dan terawat menciptakan rasa aman sekaligus kebanggaan kolektif.
“Ruang publik itu milik bersama. Pemerintah membangun, tapi masyarakat—termasuk anak muda—yang menghidupkan dan menjaga,” kata Wahyullah.
Di usia ke-129 ini, Balikpapan menghadapi tantangan baru sebagai kota yang terus berkembang. Pertanyaannya bukan lagi sekadar seberapa tinggi bangunan berdiri, tetapi seberapa luas ruang yang disediakan untuk generasinya tumbuh sehat—secara sosial, mental, dan lingkungan.
Di antara beton dan aspal yang memanjang, ruang terbuka hijau menjadi simbol keseimbangan. Di sanalah anak-anak berlari, remaja berekspresi, dan warga saling menyapa. Di sanalah kota menemukan denyut manusianya.
Sebab kota yang matang bukan hanya tentang percepatan pembangunan, melainkan tentang keberanian menyediakan ruang bagi masa depannya. Dan masa depan itu, hari ini, adalah anak-anak muda yang membutuhkan tempat untuk bergerak dan bermimpi.
Red.
