Demi Kampung Haji, Indonesia Beli Hotel Novotel dengan 1.461 Kamar

Demi Kampung Haji, Indonesia Beli Hotel Novotel dengan 1.461 Kamar

Bagian ini, tidak omon-omon. Keinginan Prabowo membangun Kampung Haji Indonesia Mekkah, mulai terealisasi. Jamaah haji tahun 2026 akan merasakan kampung besutan presiden ke-8 itu. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Dalam ibadah haji, niat adalah segalanya. Untuk sekali ini, niat pemerintah Indonesia tampaknya tidak berhenti di lisan, tapi benar-benar sampai ke ihram, lalu berjalan mantap menuju tawaf kebijakan. Kita boleh jujur, selama ini urusan haji sering terasa seperti sai yang kepanjangan, bolak-balik, capek, tapi tujuan terasa jauh. Namun kabar tentang Kampung Haji Indonesia di Mekah ini layaknya wukuf singkat di Arafah. Ini membuat kita berhenti sejenak, merenung, lalu berkata, “Oh, ternyata bisa juga begini.”

Indonesia kini membeli hotel Novotel Thakher Makkah. Bukan sekadar mampir, tapi menetap dengan akta. Tiga tower, 1.461 kamar, daya tampung 4.383 jemaah, berjarak hanya 2,5 kilometer dari Masjidil Haram. Ini jarak yang bagi jemaah lansia bukan lagi jihad betis, melainkan rahmat lutut. Kalau selama ini sebagian jemaah harus menempuh jarak seperti lempar jumrah dari luar kota, kini jaraknya terasa lebih manusiawi, seperti langkah ringan dari Safa ke Marwah.

Tapi ihram kebijakan ini tidak berhenti di satu putaran. Di depan hotel, Indonesia mengamankan lahan 4,4–5 hektare, yang akan dibangun 13 tower baru berisi 6.025 kamar, lengkap dengan pusat perbelanjaan. Total kapasitasnya nanti 23.000–24.000 jemaah. Ini bukan lagi sekadar hotel, ini sudah menyerupai Mina versi Nusantara. Maka lahirlah istilah yang tidak lebay, Kampung Haji Indonesia, sebuah kawasan terpadu, bukan tambal sulam.

Soal biaya, jangan kaget seperti melihat harga kambing dam. USD 500 juta untuk pembelian hotel dan lahan, lalu USD 700–800 juta untuk pembangunan lanjutan. Mahal? Tentu. Tapi bukankah haji memang ibadah yang menuntut pengorbanan? Bedanya, kali ini yang berkorban bukan hanya jemaah, melainkan negara. Proyek ini digerakkan Danantara Indonesia, dengan dukungan pemerintah melalui Menteri Investasi Rosan Roeslani. Negara yang biasanya dituduh hanya pandai berniat, kini tampaknya sudah masuk rukun.

Belum cukup? Ada Terowongan/Jembatan Al-Hujun yang sedang dibangun, ditargetkan rampung 2026. Fungsinya menghubungkan langsung Kampung Haji Indonesia dengan Masjidil Haram. Ini seperti membuat jalur khusus thawaf kebijakan lebih lurus, lebih cepat, lebih aman. Jemaah tak perlu lagi berdesakan di jalur padat, tak perlu tersesat seperti jamaah yang kehilangan rombongan saat sai. Akses dipangkas, kelelahan dikurangi, pahala tetap utuh.

Sekarang mari bertalbiyah dengan jujur. Kuota haji Indonesia 2025 mencapai 241.000 jemaah, terbesar di dunia. Kampung Haji Indonesia “hanya” menampung sekitar 10%. Jadi ini bukan solusi total, bukan pula akhir manasik. Tapi ini rukun penting, basis strategis yang bisa diprioritaskan untuk lansia, jemaah kebutuhan khusus, dan kelompok tertentu. Ini juga simbol kehadiran Indonesia di Mekah, bukan sekadar tamu musiman, tapi pemilik ruang ibadah.

Masih ada wacana lanjutan, bidding lahan tambahan hingga 80 hektare. Jika terwujud, jangan heran bila suatu hari jemaah berkata, “Kita sudah masuk wilayah Indonesia,” lalu tersenyum sebelum tawaf.

Maka, untuk sekali ini, mari kita tahallul dari kebiasaan sinis. Kritik tetap perlu, tapi apresiasi juga bagian dari akhlak. Karena ketika negara mampu mengubah wacana menjadi bangunan, dan keluhan menjadi jarak yang lebih dekat, rasanya sah jika kita berkata, ini haji kebijakan yang mabrur niatnya, tinggal kita kawal amalnya.

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page