Dari Limbah Menjadi Nilai

Dari Limbah Menjadi Nilai: Jalan Sunyi Siswa Madrasah Menembus Panggung Ekonomi Syariah
Di antara deretan stan pelaku usaha mikro dalam gelaran Pekan Ekonomi Syariah Nusantara (PEKAN) 2026 di Penta City Mall Balikpapan, perhatian pengunjung tak hanya tertuju pada produk makanan atau kerajinan. Sebuah sudut sederhana justru menawarkan gagasan yang lebih jauh: bagaimana sampah organik sekolah dapat berubah menjadi komoditas bernilai ekonomi.
Stan itu milik MTsN 2 Balikpapan.
Lewat ekstrakurikuler Green Generation (GG), para siswa memamerkan hasil olahan yang seluruh proses produksinya mereka kerjakan sendiri. Ada pupuk kompos, Mikroorganisme Lokal (MOL), hingga bibit kelor (Moringa oleifera) yang dibudidayakan menggunakan pupuk dan nutrisi hasil pengolahan limbah organik sekolah. Bagi mereka, produk-produk tersebut bukan sekadar barang pameran, melainkan buah dari proses belajar yang menghubungkan pengetahuan, kepedulian lingkungan, dan semangat berwirausaha.
Pembina Green Generation, Kamaruddin, mengatakan kegiatan itu dirancang agar siswa tidak berhenti pada pembelajaran di ruang kelas. Mereka diajak memahami bahwa ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi karya yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi.
“Kami ingin siswa tidak hanya belajar teori biologi atau ekonomi, tetapi benar-benar mempraktikkannya menjadi produk yang berguna bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.
Pilihan mengembangkan tanaman kelor bukan tanpa pertimbangan. Tanaman yang dikenal sebagai superfood itu dinilai memiliki prospek ekonomi karena kandungan gizinya yang tinggi dan semakin diminati masyarakat. Bibit kelor yang dipasarkan merupakan bagian dari sistem budidaya ramah lingkungan yang dibangun para siswa, memanfaatkan kompos dan MOL hasil olahan sendiri.
Gagasan tersebut menarik perhatian Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, saat meninjau stan pameran. Menurutnya, potensi yang dimiliki MTsN 2 Balikpapan layak dikembangkan menjadi model usaha berbasis lingkungan yang berkelanjutan. Dukungan terhadap pemanfaatan lahan sekolah, menurut dia, dapat membuka ruang lahirnya produk kreatif dengan nilai ekonomi yang terus tumbuh.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan, Masrivani. Ia menilai madrasah dan pondok pesantren kini memikul peran yang lebih luas dari mengajarkan ilmu agama. Lembaga pendidikan juga dituntut membentuk generasi yang memiliki kecakapan hidup dan kemandirian ekonomi. Karena itu, pendampingan kewirausahaan terus diberikan kepada para pelajar dan santri agar mampu mengolah potensi di sekitarnya menjadi usaha yang produktif.
Kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan sektor perbankan menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Harapannya, keterampilan yang diperoleh siswa sejak dini tidak berhenti sebagai proyek sekolah, tetapi berkembang menjadi usaha yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Keikutsertaan MTsN 2 Balikpapan dalam PEKAN 2026 memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium atau perusahaan besar. Di tangan para siswa madrasah, limbah organik dapat berubah menjadi pupuk, bibit, dan peluang ekonomi. Sebuah pelajaran bahwa keberlanjutan bukan sekadar slogan, melainkan kebiasaan yang ditanamkan sejak bangku sekolah.
red.
https://kaltim.kemenag.go.id/