Damayanti Ingatkan Kekerasan Anak di Kaltim Jadi Alarm

TIMURMEDIA, SAMARINDA – Data kasus kekerasan anak di Benua Etam bersifat fluktuatif. Meskipun sempat terjadi penurunan 167 kasus dari 1.108 kasus tahun lalu, ancaman peningkatan tahun ini tetap ada. Jenis kekerasan tertinggi yang terjadi adalah kekerasan seksual, diikuti oleh kekerasan fisik dan psikis. Data itu dirilis Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim.
Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim, Damayanti, menyatakan membangun akhlak dan etika sejak dini merupakan pondasi penting untuk mencegah kekerasan maupun tindakan perundungan. Keluarga, lanjutnya, memiliki peran sentral dalam mengajarkan adab serta membentuk karakter anak.
“Jika orang tua tidak atau belum siap dengan pengetahuan tentang parenting, maka risiko terjadinya kekerasan semakin besar, sehingga edukasi keluarga sangat penting,” ungkapnya, belum lama ini.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menegaskan, meningkatnya kasus kekerasan anak di Kaltim harus menjadi alarm bagi semua pihak. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, serta masyarakat dinilai menjadi kunci utama untuk menekan angka kekerasan.
“Ini sekaligus memastikan anak-anak dapat tumbuh dalam suasana yang sehat, aman, dan penuh kasih saying,” ucapnya.
Dengan penguatan pendidikan karakter sejak usia dini, dia berharap generasi muda Kaltim dapat tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, beretika, serta mampu menghadapi tantangan masa depan. “Itu semua harus bisa dirasakan korban tanpa terbebani trauma akibat kekerasan di masa lalu,” ujar Damayanti. (tm/adv)