Cemara Laut di Manggar Baru

Cemara Laut di Manggar Baru
Ketika pesisir terancam abrasi, mangrove hampir selalu disebut sebagai jawaban. Padahal, tidak semua pantai cocok untuk mangrove. Di pantai berpasir, ada pohon lain yang justru lebih sesuai: cemara laut (Casuarina equisetifolia). Pohon berdaun menyerupai jarum itu bukan sekadar penghias pantai. Ia tumbuh di tanah berpasir yang miskin unsur hara, tahan terhadap semprotan garam, dan mampu menghadapi terpaan angin laut. Sistem akarnya membantu mengikat pasir, sementara tajuknya memecah angin dan menangkap sebagian pasir yang terbawa udara.
Dalam bentang pesisir, kemampuan itu penting. Vegetasi pantai dapat membantu menahan erosi, menstabilkan gumuk pasir, sekaligus menciptakan sabuk hijau yang melindungi kawasan di belakangnya. Karena itu, hutan pelindung pantai tidak semestinya dipahami sebatas program penghijauan. Ia merupakan bagian dari pertahanan alami menghadapi tekanan pesisir dan perubahan iklim.
Kesalahan dalam rehabilitasi pesisir sering bermula dari satu anggapan sederhana: semua pantai bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Padahal karakter pantai berbeda-beda. Ada pantai berlumpur, ada pantai berpasir. Ada kawasan pasang-surut, ada daratan yang lebih tinggi di belakang garis pantai. Ada pesisir yang masih alami, ada pula yang sudah berhimpitan dengan permukiman, tambak, jalan, dan ruang aktivitas warga.
Mangrove memiliki habitatnya sendiri. Cemara laut juga demikian. Karena itu, rehabilitasi pesisir semestinya dimulai dari mengenali karakter pantai. Jenis vegetasi dipilih bukan karena sedang populer, melainkan karena sesuai dengan kondisi tanah, gelombang, salinitas, dan bentang alam tempat ia akan tumbuh. Sebab pohon yang salah tempat tidak akan menjadi benteng. Ia hanya akan menjadi bibit yang menunggu mati.
Pelajaran itu relevan bagi Balikpapan. Kota ini tumbuh bersama pesisir. Laut bukan sekadar latar belakang kota, melainkan bagian dari ruang hidup warga. Di sejumlah kawasan, kampung, rumah, tambak, tempat mencari ikan, kawasan wisata, hingga jalan berada tidak jauh dari garis pantai. Bagi warga kampung pesisir, abrasi bukan istilah dalam laporan teknis. Ia bisa berarti pasir yang bergeser, halaman yang menyempit, pohon yang tumbang, jalan yang semakin dekat dengan air, atau ruang bersama yang perlahan hilang.
Pemerintah Kota Balikpapan telah mengidentifikasi sejumlah kawasan pesisir sebagai wilayah yang memiliki kerawanan abrasi. Di sisi lain, berbagai upaya penanaman mangrove terus dilakukan di sejumlah kawasan. Namun Balikpapan tidak memiliki satu jenis pantai. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan mangrove atau cemara laut. Pertanyaannya: pohon apa yang tepat untuk pantai tertentu, dan bagaimana warga dapat menjaganya tetap tumbuh?
Pantai Cemara Manggar Baru: Sebuah Contoh dari Kampung
Jawabannya barangkali bisa dilihat dari Manggar Baru. Di kawasan ini, keberadaan cemara laut telah menjadi bagian dari wajah Pantai Cemara. Pohon-pohon yang tumbuh di tepian pantai bukan hanya membentuk lanskap hijau, tetapi juga menciptakan ruang yang digunakan warga dan pengunjung. Di sini, cemara laut memperlihatkan fungsi yang lebih luas. Ia memberi keteduhan, memperkuat karakter pantai, sekaligus mempertemukan fungsi ekologis dengan kehidupan sosial warga.
Pantai Cemara Manggar Baru menarik dilihat sebagai contoh lokal: bahwa pohon pantai dapat menjadi bagian dari identitas sebuah kampung. Tentu, keberadaan cemara tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan abrasi. Perlindungan pesisir tetap membutuhkan kajian mengenai arus, gelombang, sedimentasi, tata ruang, dan kondisi ekosistem setempat. Namun contoh Manggar Baru memberi satu pelajaran sederhana: perlindungan pesisir dapat tumbuh dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan warga.
Di kampung pesisir, cemara laut dapat ditempatkan sebagai bagian dari ruang hidup, bukan sekadar proyek penghijauan. Deretan cemara di belakang garis pantai dapat membentuk sabuk hijau. Akarnya membantu mengikat pasir, tajuknya memberi perlindungan dari angin, sementara ruang di bawahnya dapat menjadi tempat berteduh, berjalan, atau berkumpul. Lebih dari itu, pohon dapat menjadi batas hidup antara laut dan kampung.
Ini penting karena warga pesisir merupakan kelompok yang paling dekat dengan perubahan pantai. Mereka yang setiap hari melihat kondisi pasir, mengetahui titik yang mulai terkikis, dan menyadari ketika air laut datang lebih jauh dari biasanya. Karena itu, keberhasilan rehabilitasi tidak seharusnya dihitung hanya dari jumlah bibit yang masuk ke tanah. Bibit yang mati tidak menjadi sabuk hijau. Pohon yang tidak dirawat tidak menjadi benteng. Dan kegiatan tanam yang selesai ketika kamera berhenti memotret hanya akan menjadi seremoni.
Yang dibutuhkan adalah perawatan, pemantauan, penyulaman, dan yang paling penting, keterlibatan warga. Pemerintah dapat membuat kebijakan, komunitas dapat menggerakkan penanaman, dunia usaha dapat memberikan dukungan. Tetapi warga yang tinggal paling dekat dengan laut adalah penjaga pertama setelah semua kegiatan selesai.
Balikpapan membutuhkan pendekatan semacam itu: mengenali karakter masing-masing pantai, memilih vegetasi yang sesuai, lalu menjadikan warga sebagai bagian dari perawatannya. Pantai Cemara Manggar Baru dapat menjadi salah satu titik belajar. Bukan untuk mengatakan bahwa semua pantai harus ditanami cemara, melainkan untuk menunjukkan bahwa ketika pohon, pantai, dan warga berada dalam satu ekosistem, perlindungan pesisir dapat memiliki wajah yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sebab menjaga pesisir tidak selalu dimulai dengan proyek besar. Kadang ia dimulai dari beberapa bibit yang ditanam di tempat yang benar. Kita sering baru sibuk menyelamatkan pantai setelah pantainya hilang. Ketika rumah mulai terancam, jalan tergerus, barulah abrasi masuk daftar rapat dan anggaran.
Cemara laut menawarkan pekerjaan yang jauh lebih sederhana: menanam sebelum terlambat, merawat sebelum menjadi berita. Warga tidak perlu menunggu pantai terkikis untuk tahu bahwa pesisir sedang berubah. Satu pohon memang tidak akan menghentikan laut. Tetapi membiarkan pantai kehilangan pohon demi pohon, lalu berharap beton menyelesaikan semuanya, mungkin adalah cara paling mahal untuk mengakui bahwa kita terlambat.
Sebelum laut mengambil kampung sedikit demi sedikit, barangkali sudah waktunya warga menanam sesuatu yang bisa tumbuh lebih dulu.
Kar
Pokja Pesisir