Bupati PPU Dorong Pelestarian Budaya Lokal sebagai Penyeimbang Kemajuan Teknologi

Timur Media, Penajam – Di tengah gempuran teknologi dan maraknya permainan digital, Bupati Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) Mudyat Noor menyerukan pentingnya menjaga warisan budaya bangsa melalui permainan tradisional. Pesan itu ia sampaikan dalam penutupan Festival Permainan Tradisional “Back to 80’s” yang digelar di Halaman Rumah Adat Kuta Rekan Tatau, Penajam, belum lama ini.
Menurut Mudyat, kegiatan tersebut merupakan pengingat penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda, bahwa nilai-nilai sosial dan gotong royong dapat tumbuh dari hal sederhana termasuk dari cara mereka bermain.
“Bermain tidak selalu harus bersentuhan dengan teknologi. Justru melalui permainan tradisional, anak-anak belajar interaksi sosial, kerja sama, dan sportivitas secara langsung,” ujarnya.
Mudyat Noor menilai, di tengah era digital yang serba cepat, masyarakat sering terjebak dalam individualisme. Anak-anak lebih akrab dengan gawai daripada bermain di lapangan. Melalui festival semacam ini, ia berharap muncul kesadaran baru untuk menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan pelestarian nilai-nilai sosial.
“Tawa anak-anak, semangat para orang tua, dan kekompakan panitia selama festival menjadi bukti bahwa kebersamaan masih sangat hidup di tengah kita. Itu modal sosial yang harus terus dijaga,” tegasnya.
Bupati PPU itu juga menekankan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan secara kaku, melainkan bisa dikemas secara kreatif dan relevan dengan zaman. Ia mengapresiasi panitia dan komunitas lokal yang mampu menghidupkan kembali permainan seperti engklek, egrang, dan tarik tambang, yang kini mulai jarang ditemui di lingkungan anak-anak.
Menurutnya, permainan tradisional tidak hanya soal hiburan, tetapi juga mengandung filosofi mendalam tentang karakter bangsa. Di dalamnya ada nilai kerja sama, kejujuran, tanggung jawab, dan ketahanan sosial yang perlu diwariskan lintas generasi.
“Permainan tradisional adalah warisan nilai. Di situ anak-anak belajar berkompetisi tanpa permusuhan, bermain sambil menghargai orang lain, dan bergembira tanpa harus bergantung pada teknologi,” kata Mudyat.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten PPU akan terus mendukung kegiatan yang berorientasi pada pelestarian budaya lokal, termasuk menjadikan festival permainan tradisional sebagai agenda tahunan. Hal ini sejalan dengan semangat pembangunan manusia yang berkarakter di tengah transformasi menuju kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kita ingin anak-anak PPU tumbuh bukan hanya cerdas secara digital, tapi juga berkarakter kuat dan punya akar budaya,” tutupnya. (ADV / NO)