Atap, Ingatan Arsitektur Kalimantan Timur

Percakapan tentang genting di Kalimantan Timur sebetulnya membuka arsip yang lebih tua dari negara itu sendiri. Jauh sebelum seng dipasang massal, jauh sebelum genting tanah liat diperdebatkan sebagai simbol keindahan, atap-atap di wilayah ini telah lebih dulu menemukan bentuknya—melalui kerajaan, kesultanan, dan relasi panjang manusia dengan alam tropis.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalimantan Timur, Wahyullah Bandung, menyebut wacana gentingisasi tak bisa dilepaskan dari sejarah material bangunan lokal. “Genting itu bukan kultur yang tumbuh di Kalimantan Timur,” ujarnya, Sabtu, 7 Februari 2026. “Arsitektur kita lahir dari material yang tersedia dan cocok dengan iklim.”

Jejak itu terlihat jelas pada arsitektur Kerajaan Kutai, Kerajaan Paser, dan Kesultanan Berau. Tiga entitas politik yang berbeda, tetapi berbagi satu kesamaan mendasar: atap bukan perkara gaya, melainkan strategi bertahan hidup.

Di wilayah Sungai Mahakam, pusat kekuasaan Kutai Martadipura dan Kutai Kartanegara tumbuh mengikuti alur air. Istana dan bangunan bangsawan berbentuk rumah panggung dari kayu keras, terutama ulin. Atapnya menggunakan sirap kayu, disusun berlapis dengan kemiringan tajam. Menurut Wahyullah, pilihan ini sangat rasional. “Sirap lebih sejuk, lebih ringan, dan lebih sesuai dengan struktur rumah panggung,” katanya. Dalam iklim dengan hujan panjang dan kelembapan tinggi, atap harus bekerja lebih keras dibandingkan dinding.

Pola serupa tampak di wilayah selatan, tempat Kerajaan Paser atau Sadurangas berkembang. Bangunan kerajaan berdiri di atas panggung, menyesuaikan kondisi rawa dan pasang surut. Atap sirap atau daun menjadi pilihan utama. Genting tanah liat nyaris tak dikenal. “Di Kaltim, tanah liat bukan material utama. Jadi wajar kalau genting tidak berkembang,” ujar Wahyullah.

Di pesisir timur, Kesultanan Berau—dengan pusat Sambaliung dan Gunung Tabur—menunjukkan arsitektur yang lebih terbuka terhadap pengaruh luar. Unsur Melayu dan Bugis hadir dalam tata ruang dan ornamen. Namun satu hal tetap bertahan: atap sirap kayu. “Walaupun ada pengaruh luar, prinsip atapnya sama,” kata Wahyullah. “Atap harus sejuk, ringan, dan tahan hujan.”

Dari Kutai, Paser, hingga Berau, terlihat satu benang merah. Arsitektur kerajaan di Kalimantan Timur tidak mengenal genting sebagai simbol kemajuan. Ia mengenal kesesuaian. Atap dipilih berdasarkan ketersediaan material, kenyamanan termal, dan kemampuan struktur bangunan. Keindahan hadir sebagai akibat, bukan tujuan. Ketika kayu kemudian menipis dan sirap tak lagi mudah diperoleh, masyarakat beralih ke seng.

Wahyullah menyebut peralihan ini sebagai kompromi. “Seng itu bukan pilihan ideal, tapi pilihan yang tersedia,” katanya. Murah, ringan, dan mudah dipasang—meski membawa persoalan panas.

Dalam konteks itulah, ia menilai wacana mengganti seng dengan genting perlu dibaca secara hati-hati. Genting memang lebih sejuk, tetapi bobotnya jauh lebih berat. Banyak rumah di Kaltim dibangun dengan rangka ringan yang tidak dirancang menahan beban genting. “Kalau rangkanya harus diganti juga, biayanya akan jauh lebih mahal,” ujarnya. “Itu harus dihitung secara holistik.”

Karena itu, Wahyullah lebih memilih istilah atapisasi berbasis lokal ketimbang gentingisasi. Pendekatan ini mendorong pengembangan material atap dari sumber daya setempat—baik melalui riset tanah lokal, inovasi material baru, maupun penguatan industri rakyat. “Prinsipnya bukan genting atau seng,” katanya. “Atap harus mereduksi panas, ramah lingkungan, dan meningkatkan ekonomi masyarakat.”

Arsitektur kerajaan Kutai, Paser, dan Berau, memberi pelajaran penting bagi kebijakan hari ini. Atap bukan sekadar penutup rumah, melainkan bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Mengubahnya berarti masuk ke percakapan panjang antara sejarah, iklim, dan kehidupan sehari-hari.

Di Kalimantan Timur, atap selalu lebih dulu bicara tentang hujan, panas, kayu, dan sungai. Baru kemudian soal rupa. Jika mau diubah, ia perlu dipahami terlebih dahulu—bukan diseragamkan.

red.

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page