Air Higienis Pesan Kapitalisme

Air Higienis Pesan Kapitalisme

Waktu kecil, saya terbiasa minum air hujan. Tentu dimasak dulu. Sekarang saya, termasuk ente wak, mungkin sudah jijik membayangkan minum air yang jatuh dari langit. Kenapa? Karena kita sudah dirasuki satu mantra sakti: “Higienis.” Mari kita bongkar sambil seruput Koptagul, wak!

Nenek moyang kita dulu kalau mau minum tidak buka kulkas, apalagi pesan galon. Pagi-pagi nyalakan api, air hujan ditampung, air sumur ditimba, masuk panci, lalu direbus sampai bergolak seperti demonstran melihat harga kebutuhan naik.

Begitu dingin, dimasukkan ke kendi tembikar, diminum, seger. Selesai.

Kalau sedang di hutan dan dikejar babi hutan, barulah air mentah diminum. Itu pun karena pilihannya cuma dua, minum air atau menjadi menu makan malam.

Sekarang zaman sudah canggih. Air hujan dicurigai. Air sumur ditakuti. Air sungai jangan dibahas. Lalu datanglah kapitalisme membawa solusi, air kemasan!

Air biasa diberi plastik, stiker, merek, lalu dipasarkan dengan satu kata keramat, Higienis!

Iklannya pun meyakinkan. Artis tersenyum sambil minum air galon seolah baru menemukan mata air keabadian. Pesannya halus, “Air rumahmu tidak layak. Beli punya kami.”

Kita pun menurut. Gentong ditinggalkan. Ceret pensiun. Panci kehilangan pekerjaan. Kebiasaan merebus air perlahan masuk museum.

Padahal nenek moyang kita cuma punya panci dan kayu bakar. Tidak punya dispenser digital, filter tujuh tahap, apalagi galon dengan desain futuristik. Mereka tetap minum.

Sekarang coba hitung. Dulu satu galon Rp8.000. Sekarang Rp10.000. Kalau satu keluarga menghabiskan 8–12 galon sebulan, pengeluaran air mencapai Rp80.000–Rp120.000. Selisihnya dengan harga lama sekitar Rp16.000–Rp24.000 per bulan. Setahun? Bisa hampir Rp300.000.

Bagi horang kaya mungkin cuma recehan. Bagi keluarga pas-pasan, itu bisa jadi beras, telur, atau uang sekolah anak. Masalahnya, harga air tidak pernah punya janji untuk turun. Kalau permintaan naik, harga ikut naik. Kemarau datang, dompet pun ikut mengalami kekeringan.

Yang lucu, sumber air galon itu sering kali tetap berasal dari mata air atau kawasan pegunungan. Lho? Bukankah nenek moyang kita juga mengambil air dari alam? Bedanya cuma satu. Dulu masuk panci. Sekarang masuk plastik. Airnya mungkin sama. Persepsi kita yang sudah berubah.

Kita dibuat takut pada kuman, bakteri, dan segala macam ancaman. Padahal air hujan yang ditampung dengan benar, menggunakan wadah bersih dan tertutup, lalu direbus hingga mendidih, bisa menjadi alternatif untuk kebutuhan rumah tangga tertentu.

Tentu, kualitas air tetap harus diperhatikan. Tidak semua air hujan otomatis aman diminum. Tetapi kapitalisme punya persoalan sederhana, air rebusan susah dijual. Tidak ada merek. Tidak ada logo. Tidak ada iklan artis. Tidak ada galon harus dibeli berulang-ulang.

Maka yang dijual bukan sekadar air. Yang dijual adalah rasa aman, kenyamanan, dan ketakutan. Kita malas merebus 15 menit. Beli galon cuma dua menit.Kapitalisme paham betul manusia lebih rela kehilangan uang dari kehilangan kenyamanan. Akhirnya kita membayar air yang sebenarnya berasal dari alam.

Air turun dari langit secara gratis, tetapi kita tetap antre membeli air dalam galon. Ini namanya kemajuan, wak. Air gratis ditolak. Air berplastik dibayar. Dompet menjerit, tetapi kita tersenyum sambil berkata, “Yang penting higienis.”

Sehat mungkin. Dompet? Belum tentu. Akal sehat? Nah, itu yang perlu direbus dulu. Nenek moyang kita minum air dari langit. Kita minum air dari plastik. Mereka punya panci. Kita punya galon. Mereka tidak membayar Rp10.000 untuk air. Kita membayar sambil mengeluh harga naik.

Ironisnya, hujan masih turun. Gratis pula. Mungkin alam sedang bertanya, “Saya sudah kasih air gratis, kenapa kalian masih beli?” Jawabannya sederhana, karena kita sudah terlalu lama diajari, sesuatu baru terasa aman kalau ada mereknya.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page