Nasib Rotan Ada di Tangan Para Lansia Long Pahangai I Mahulu

TIMURMEDIA.com, Mahulu – Di tengah keterbatasan bahan baku dan tantangan menjaga tradisi, sembilan perajin lansia di Kampung Long Pahangai I, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), terus merawat warisan leluhur melalui anyaman rotan. Mereka tergabung dalam kelompok PEJIIQ KENAP, yang berarti “Bersatu Hati”, sebuah nama yang mencerminkan semangat kebersamaan dalam mempertahankan keterampilan tradisional sekaligus sumber penghasilan ekonomi.

Bagi Masrah (65), salah satu anggota kelompok tersebut, menganyam bukan sekadar kegiatan mengisi waktu. Keterampilan yang diwariskan turun-temurun itu menjadi bagian dari kehidupannya, sekaligus sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, mempertahankan tradisi tidak selalu mudah. Ketersediaan rotan sebagai bahan baku utama semakin terbatas. Para perajin bahkan harus menempuh perjalanan berjam-jam, hingga berhari-hari melalui jalur sungai, untuk mendapatkan rotan yang sesuai.

Kondisi tersebut membuat mereka terkadang menggunakan gulungan plastik sebagai bahan alternatif. Pilihan ini menjadi bentuk penyesuaian terhadap ketersediaan bahan dan kebutuhan pasar, tanpa menghilangkan semangat untuk terus berkarya.

Meski demikian, penggunaan plastik bukan berarti meninggalkan budaya, melainkan bentuk penyesuaian terhadap kebutuhan pasar dan sulitnya mendapatkan rotan yang kini harus dicari hingga berjam-jam bahkan berhari-hari perjalanan melalui sungai.

Bagi kelompok PEJIIQ KENAP,Produk seperti anjat dan tikar rotan dibuat secara manual melalui proses yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Mulai dari membersihkan, membelah, meraut, hingga menganyam, setiap tahap dikerjakan dengan cermat. Satu produk bahkan dapat memerlukan waktu satu minggu atau lebih hingga selesai.

Kelompok yang awalnya beranggotakan 17 orang tersebut kini tersisa sembilan perajin. Selain menghadapi keterbatasan pendapatan, minimnya ketertarikan generasi muda menjadi tantangan bagi keberlanjutan tradisi ini.

Para perajin berharap adanya dukungan pemerintah kampung, terutama dalam penyediaan bahan baku, peralatan produksi, serta akses pemasaran. Dengan dukungan tersebut, mereka berharap hasil karya dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan memberikan nilai ekonomi yang lebih baik.

Dalam konteks program Dana Karbon FCPF-CF, keberadaan PEJIIQ KENAP menjadi gambaran pentingnya penguatan ekonomi masyarakat yang berjalan seiring dengan pelestarian hutan dan budaya lokal. Rotan sebagai hasil hutan bukan kayu memiliki nilai lebih dari sekadar bahan kerajinan. Ketersediaannya juga berkaitan erat dengan keberlanjutan sumber daya alam dan mata pencaharian masyarakat adat.

Bagi Masrah dan rekan-rekannya, menjaga anyaman rotan berarti menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman. Lebih dari itu, kegiatan ini memberi ruang bagi para lansia untuk tetap produktif, memiliki penghasilan, dan menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.

Di Long Pahangai I, setiap helai rotan yang dianyam bukan hanya membentuk sebuah karya, tetapi juga merangkai harapan: agar tradisi tetap hidup, hutan tetap terjaga, dan para perajin tetap memiliki kesempatan untuk berkarya serta sejahtera. (*)

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page