Ketika Zine Jadi Wadah Perlawanan Algoritma, Sensor dan AI

TIMURMEDIA – Di tengah hiruk-pikuk arus informasi digital yang serba cepat, suara derik mesin fotokopi dan aroma tinta cetak murah justru kembali menemukan tumpuannya di Kota Samarinda. Zine—media cetak independen berskala kecil yang dibuat secara mandiri—kini tengah mengalami fase kebangkitan.
Dikenal sejak lama sebagai wahana perlawanan budaya, kehadiran zine hari ini berdiri tegak sebagai sebuah antitesa. Ia hadir menantang dominasi permainan algoritma media sosial, membentur tembok sensor ketat sepihak, hingga menawarkan oase autentik di tengah ledakan konten kecerdasan buatan (AI) yang kian mekanis dan berulang.
Itu musababnya, zine di era sekarang bukan lagi sekadar memorabilia nostalgia dari masa lalu. Pun, ia tak hanya berhenti menjadi wadah penampung kemarahan dan kemuakan anak muda. Lebih dari itu, kertas-kertas yang dilipat dan distaples secara bersahaja ini telah bertransformasi menjadi ruang paling politis untuk merebut kembali kebebasan berekspresi yang sejati.

Kehangatan perbincangan mengenai marwah dan masa depan zine ini mengemuka dalam forum bertajuk Bincang Zine Akhir Pekan (ZAP!) yang digelar di Kedai Arukohi, Jalan Cendana, Gang 4, Nomor 33, akhir pekan kemarin.
Suasana diskusi berlangsung intim dan interaktif. Dipandu oleh Rio Rahardjo dari Samar Projek, forum tersebut menghadirkan dua figur wartawan lokal sebagai pemantik gagasan: Faisal Rahman dan Sucipto.
Sebagai informasi, Faisal merupakan wartawan yang telah berkecimpung di dunia pers selama 18 tahun lebih. Tahun ini, ia merilis zine “Harram Jaddah” edisi kedua bersama newsletter “Basa-Bashit!” setelah 4 tahun mengalami hiatus. Sementara Sucipto merupakan jurnalis Kompas. Ia sendiri merilis zine Oikos dan menjadi kontributor zine bernama Klamonski. Zine itu sendiri diawaki Reza, Rendy dkk.

Dalam pemaparannya, Sucipto menjelaskan, lanskap zine hari ini telah jauh berkembang. Zine tak lagi melulu diidentikkan atau berputar secara khusus pada subkultur punk dan skena underground sebagaimana sejarah mulanya.
Kini, zine telah bertransformasi dengan muatan isi yang kian beragam dan inklusif. Lembaran-lembarannya mulai diisi oleh sorotan isu sosial-politik yang kritis, esai personal, hingga karya visual berupa narasi foto dan cerita komik. “Saya sendiri menulis zine berawal dari keresahan,” ujar Sucipto di hadapan para peserta yang hadir.
Lebih jauh, Sucipto menerangkan, fleksibilitas inilah yang menjadi kekuatan utama zine. Transformasi bentuk dan isi dapat terjadi dengan sangat cair justru karena zine tidak pernah terikat oleh aturan baku—baik dari segi format, definisi, maupun peruntukkannya. Tidak ada editor yang menyunting ideologi, tidak ada pakem tata letak yang membatasi, dan tidak ada kurasi industri yang menentukan layak atau tidaknya suatu karya diterbitkan.
Bagi para pembuatnya, kebebasan mutlak dalam memindahkan gagasan ke atas kertas ini memberikan efek katarsis tersendiri di tengah tekanan zaman. “Zine bisa juga kita sebut sebagai antidepresan,” akunya, menegaskan peran zine sebagai penawar ketegangan psikologis dan media pemulihan atas himpitan realitas media arus utama.
Senada, Faisal Rahman, mengatakan jika zine di masa kini telah mengalami perkembangan yang signifikan. Ia sendiri mengambil contoh sejumlah zine yang dikoleksinya sejak beberapa tahun terakhir. Salah satunya seperti zine “Sorak-Sorai” yang berisi tulisan tentang dunia sepak bola Indonesia hingga internasional. “Memang sekarang tidak terbatas lagi tentang underground secara umum,” tegasnya.
Menurut Faisal, antara zine dulu dan sekarang sejatinya tak jauh berbeda. Isu yang diangkat dalam halaman biasanya sangat spesifik. “Ini yang sebenarnya membuat zine menjadi media eksklusif. Karena hanya diakses oleh individu-individu tertentu saja. Kalau ada pihak eksternal yang mengakses, saya menganggap bonus saja,” ulasnya.
Faisal menggaris bawahi, ketiadaan motif keuntungan komersial dalam produksinya membuat isi zine terasa sangat jujur, berani, dan tanpa kompromi terhadap kepentingan pasar atau sponsor periklanan. Meski saat ini, banyak pula zine dengan tampilan yang menarik dan laik untuk dibeli. “Kita tidak bisa mengabaikan faktor itu. Kalau zine ‘Harram Jaddah’ sendiri konsepnya memang gratisan, mengikuti prinsip dalam subkultur punk,” urainya. (*)