Hacker Korut Bobol Binance, Rp114 Triliun Raib

Hacker Korut Bobol Binance, Rp114 Triliun Raib
Duh, MU disikat Chelsea 0-2, lalu Persija digeprek Dewa United juga 1-2. Maaf keceplosan.
Kalian patut bersyukur masih menyimpan duit di bawah bantal. Dijamin aman dari hacker! Mau Kim Jong Un mengerahkan seluruh pasukan sibernya, lengkap dengan rudal balistik dan parade militer di Pyongyang, tetap saja harus berhadapan dengan kasur kapuk dan guling kesayangan. Tengok Binance, wak! Uang sekitar Rp114 triliun dibobol hacker yang dikaitkan dengan Korea Utara. Duit segunung itu raib, sementara uang di bawah bantal paling banter dicuri istri untuk belanja daster.
Sambil menunggu memberikan materi pelatihan menulis di Hotel Meldi Sanggau, simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Korea Utara memang negara penuh kejutan. Internet rakyatnya terkenal sangat dibatasi, tetapi hacker-nya sanggup mengacak-acak sistem keuangan dunia. Kim Jong Un mungkin sibuk mengawasi parade rudal, sementara kelompok Lazarus Group sibuk mengawasi dompet digital orang sedunia. Satu mengurus senjata, satu mengurus saldo. Kolaborasi bikin bank internasional ingin pindah profesi menjadi penjual gorengan.
Kabarnya, serangan terhadap Binance pada 2026 menyebabkan kerugian US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun. Angka ini kalau dibelikan nasi Padang, mungkin seluruh penduduk Indonesia makan rendang sampai cucu cicitnya. Binance menyatakan akan menanggung kerugian pengguna melalui dana perlindungan SAFU. Sebagian aset berhasil dibekukan, tetapi tidak semua transaksi blockchain bisa dihentikan.
Yang bikin geleng-geleng, cara masuknya bukan menggunakan teknologi alien atau komputer buatan laboratorium rahasia Kim Jong Un. Diduga bermula dari laptop pribadi seorang insinyur DevOps yang terinfeksi. Satu laptop bermasalah bisa membuka jalan menuju sistem bernilai triliunan rupiah.
Ibarat rumah punya pagar setinggi Monas, CCTV, satpam, anjing galak, dan pintu baja. Namun maling masuk karena seseorang membukakan pintu sambil berkata, “Silakan, Pak, teman bos!” Brankas pun terbuka. Duit terbang. Satpam masih sibuk mencari sandal.
Indonesia ternyata sudah pernah merasakan tamparan digital serupa. September 2024, Indodax dibobol sekitar US$20 juta. CEO Oscar Darmawan menyebut serangan itu terindikasi terkait Korea Utara. Deposit dan penarikan dihentikan. Pemulihan layanan memakan waktu sekitar 80 jam. Delapan puluh jam, wak! Kalau menunggu tukang memperbaiki atap, mungkin rumah sudah tiga kali kehujanan.
Dalam kasus itu, perusahaan keamanan asing seperti SlowMist dan Cyvers ikut membantu analisis teknis. Indonesia punya BSSN dan Dittipidsiber Polri, tetapi menghadapi kelompok peretas internasional membutuhkan kemampuan, teknologi, dan kerja sama lintas negara.
Masalahnya, Indonesia belum meratifikasi Konvensi Budapest tentang kejahatan siber. Padahal, kecepatan memperoleh bukti digital lintas negara sangat penting. Hacker bisa memindahkan aset dalam hitungan menit, sedangkan birokrasi kadang masih mencari pejabat berwenang membubuhkan tanda tangan.
Memang, polisi pernah menangkap hacker lokal berinisial HS pada 2025 yang diduga mencuri US$398.000 dari Platforms.com. Cold wallet berisi lebih dari 260.000 USDT turut disita. Oktober 2026, Indodax juga mendeteksi peningkatan upaya serangan dan menghentikan sementara layanan. Kali ini tidak ada kehilangan dana dilaporkan.
Pelajarannya jelas. Keamanan digital tidak cukup bermodalkan antivirus gratis dan doa sebelum menyalakan komputer. Perlu sistem berlapis, tenaga ahli, serta kerja sama internasional.
So, silakan simpan uang di bank, dompet digital, atau di bawah bantal. Namun, ingat, kalau Kim Jong Un sudah mengerahkan Lazarus Group, bantal mungkin menjadi satu-satunya benteng terakhir. Itu pun kalau istri tidak lebih dahulu melakukan operasi penggerebekan!
Di Korea Utara ada rudal balistik, di Indonesia ada saldo bikin panik. Bedanya, rudal bisa terdeteksi radar, duit raib kadang baru ketahuan setelah pemiliknya membuka aplikasi sambil mengucapkan istigfar!
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM