Eropa Membara, Demonya Seram, Perang Tiada Akhir

Eropa Membara, Demonya Seram, Perang Tiada Akhir

Kalau lihat Eropa hari ini, rasanya bersyukur masih tinggal di negeri ini. Walau pun sering kesal, tapi tidaklah membara kayak Prancis, Italia, Belgia, Albania, dan Portugal. Ditambah lagi perang tiada usai, Rusia vs Ukraina. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Perang Rusia versus Ukraina tak kunjung damai. Kiev terus dibombardir, Ukraina membalas serangan. Sedangkan sejumlah negara Eropa mulai kesulitan membantu karena kekurangan dana. Senjata sibuk bekerja, diplomasi seperti kehabisan pulsa. Perang belum selesai, harga energi bikin rakyat megap-megap. Rupanya, penderitaan Eropa dijual dalam paket bundling!

Prancis membuka pertunjukan. Kementerian Dalam Negeri mencatat 550.000 demonstran, sementara serikat pekerja mengklaim 800.000. Selisih 250.000 orang itu mungkin demonstran dari dimensi gaib. Lebih dari 100 demonstrasi berlangsung. Balai kota Limoges dibakar, toko Champs-Élysées dijarah, bank dan kendaraan diserang. Sekitar 400 orang ditangkap, meski sejumlah laporan menyebut lebih dari 1.200. Ratusan polisi terluka. Harga bahan bakar naik, emosi rakyat ikut naik sampai menembus orbit Jupiter.

Italia tak mau kalah. Mahasiswa dan serikat pekerja memprotes mahalnya energi serta pemotongan dana pendidikan. Milan, Turin, dan Bologna berubah menjadi arena lempar batu. Di Turin, toko buku dijarah. Ajaib! Mahasiswa menuntut pendidikan, tetapi buku malah dibawa kabur. Slogan mereka, “lebih banyak ruang kelas, lebih sedikit bom,” seolah menyindir dunia yang lebih gampang membeli amunisi dari membiayai kecerdasan. Puluhan hingga lebih dari 100 polisi terluka.

Belgia ikut menggoreng waffle politik. Sekitar 30.000–50.000 orang turun ke jalan, termasuk guru dan mahasiswa. Sejumlah orang berpakaian hitam membakar skuter listrik, merusak halte, dan melempar batu. Polisi membalas dengan meriam air dan gas air mata. Puluhan orang ditangkap. Protes penghematan malah membakar barang. Logika sudah kabur, mungkin sedang mencari suaka politik.

Portugal menawarkan wisata tidur beratapkan langit. Harga properti melonjak lebih dari 124% pada 2015–2024, sekitar dua kali rata-rata Uni Eropa. Sewa kontrak baru hampir dua kali lipat sejak 2017. Seorang peneliti berusia 26 tahun dengan beasiswa €1.300 menghadapi kenaikan sewa dari €716 menjadi lebih dari €1.200.

Di Lisbon, sewa apartemen T3 mencapai €2.561, sementara gaji bersih rata-rata €1.408. Pasangan yang sama-sama bekerja mungkin hanya menyisakan €253 sebulan setelah membayar sewa. Cukup membeli pastel de nata sambil berdoa agar pemilik rumah tidak menaikkan harga udara.

Puluhan ribu orang mendirikan tenda di Lisbon, Porto, dan Coimbra. Operasi polisi dini hari di Porto disebut penyelenggara melukai sekitar 39 demonstran, dua serius.

Albania menjadi babak paling absurd. Resor mewah pesisir terkait Jared Kushner, menantu Trump, memicu tuduhan perusakan lingkungan dan penjualan tanah ilegal. Lahir “Revolusi Flamingo”, kemudian protes melebar ke biaya kuliah, buku mahal, korupsi, dan skandal “negara narkoba”. Setelah lebih dari 100 hari demonstrasi damai, Oktober 2026 meledak. Gedung pemerintah dibakar, bom molotov dilempar, polisi menggunakan gas air mata, meriam air, dan untuk pertama kalinya peluru karet. Data resmi mencatat lebih dari 150 orang terluka dan lebih dari 160 ditangkap. Perdana Menteri Edi Rama, berkuasa sejak 2013, dituntut mundur. Pemerintah menuding campur tangan asing, oposisi menuntut pengunduran diri.

Kesimpulannya, wak, Eropa sedang menerima rapor merah. Perang berkepanjangan, energi mahal, sewa menggila, upah tertinggal, dan rakyat kehilangan kepercayaan.

Turis mencari Menara Eiffel, rakyat mencari rumah, pemerintah mencari kambing hitam. Rusia dan Ukraina belum berdamai, demonstran belum berhenti, dompet rakyat sudah lebih dulu menyerah.

“Bang, pemerintah kita patut bersyukur, rakyat selalu sabar walaupun biaya hidup juga tinggi.”

“Orang kita memang penyabar tiada duanya, wak”

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page