Dunia Dilanda Demo, Jangan-Jangan Alien Sudah Turun Gunung!

Dunia Dilanda Demo, Jangan-Jangan Alien Sudah Turun Gunung!

Kita ke luar negeri lagi, wak. Di dalam negeri masih sibuk rapat. Coba perhatikan dunia saat ini, sejumlah negara dilanda demo besar. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah alien turun gunung? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kita mulai dari Pranccis. Pada 17 Oktober 2026, sekitar 550.000 orang turun ke jalan. Serikat pekerja bahkan mengklaim jumlahnya mencapai 800.000. Mereka menuntut biaya hidup murah dan pendidikan layak. Lebih dari 1.000 orang ditangkap, penjarahan terjadi, gedung dibakar, bahkan balai kota Limoges nyaris dilalap api. Jangan-jangan baguette sudah dipasangi mikrocip Macron, hasil kerja sama dengan alien Mars!

Di Albania, mahasiswa di Tirana menuntut Edi Rama mundur. Polisi membalas dengan peluru karet, gas air mata, dan water cannon. Pemicu kemarahan antara lain proyek resor mewah dikaitkan dengan menantu Donald Trump. Dalam teori konspirasi kelas warkop, ini bukan hotel, melainkan markas rahasia pengendali pikiran. Padahal, yang harus diperiksa adalah proyeknya, bukan bentuk telinga pemiliknya.

Italia ikut meramaikan pesta. Di Milan dan Bologna, polisi menembakkan gas air mata kepada demonstran “No Meloni Day” yang mempersoalkan biaya hidup. Konon, dalam rapat imajinasi global, Colosseum sudah dijual kepada BlackRock untuk dijadikan pusat kendali otak manusia. Besok, kalau kita mengantuk saat rapat, jangan-jangan terkena sinyal satelit Italia!

Argentina lebih heboh. Ribuan hingga hampir satu juta orang, menurut klaim penyelenggara, memprotes pemotongan dana universitas oleh pemerintahan Javier Milei. Polisi menggunakan gas air mata dan water cannon, sementara 25 orang ditangkap. Mahasiswa menuntut anggaran pendidikan, tetapi teori konspirasi menyebut mereka hendak dijadikan hamster percobaan ekonomi. Hamster berlari di roda, pemerintah menyebutnya pertumbuhan!

Di Yaman Selatan, puluhan ribu orang berkumpul di Aden pada 14 Oktober untuk mobilisasi rakyat membela Selatan dari Houthi. Southern Transitional Council ikut memainkan peran penting. Jangan-jangan mereka sedang membuka portal dimensi paralel untuk memanggil tentara bayangan. Kalau portal terbuka, yang pertama dicari rakyat mungkin sandal tertinggal.

Portugal menyusul dengan puluhan ribu demonstran di Lisbon, memprotes krisis perumahan dan biaya hidup. Harga rumah dilaporkan naik dua kali lipat sejak 2017. Belgia pun bergolak di Brussels dan Liège, diwarnai gas air mata serta water cannon. Eropa seperti festival tahunan, tiket gratis, sirene jadi musik, air mata menjadi suvenir.

Spanyol menghadapi protes perumahan berminggu-minggu hingga pemerintah mengumumkan pemilu dini. Di India, gerakan yang disebut Cockroach Janta Party menuntut kepala komisi pemilihan mundur terkait revisi daftar pemilih yang diklaim menghapus ratusan juta nama. Klaim sebesar itu perlu diverifikasi. Jangan salahkan kecoak, Wak, binatang itu saja sudah dianggap oposisi kalau masuk dapur!

Tunisia juga bergolak. Pada 17 Oktober, ribuan orang, termasuk anggota serikat pekerja UGTT, turun menentang Kais Saied. Aksi itu disebut sebagai salah satu demonstrasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Prancis, Albania, Italia, Argentina, Yaman Selatan, Portugal, Belgia, Spanyol, India, Tunisia. Kompak betul jadwalnya! Apakah ini operasi “Great Awakening 2.0” yang dirancang dewan naga Antartika? Apakah alien sedang mengumpulkan energi manusia untuk membuka gerbang dimensi kelima?

Tentu belum ada bukti semua ini dikendalikan alien. Penyebab demonstrasi setiap negara berbeda. Namun, ada benang merah yang lebih nyata: biaya hidup, perumahan mahal, anggaran pendidikan, dan ketidakpercayaan terhadap pemerintah.

So, jangan buru-buru membeli jimat anti-alien. Periksa tuntutan rakyat dan kebijakan pemerintahnya. Sebab, kalau seluruh dunia berteriak, mungkin bukan bulan sedang tertawa, melainkan rakyat sudah terlalu lama mengeluh tanpa didengar.

Kalau alien benar-benar datang, jangan-jangan mereka melihat bumi lalu memutar pesawatnya. “Waduh, planet ini belum layak dikunjungi. Penghuninya sendiri belum selesai berkelahi soal ijazah!”

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page