Peraih Nobel Sudah Diumumkan, Indonesia Kembali Menonton

Peraih Nobel Sudah Diumumkan, Indonesia Kembali Menonton

Saya bermimpi bisa meraih Nobel Prize atau hadiah nobel. Eh, ternyata memang bermimpi. Ternyata yang lain juga masih bermimpi. Para peraih hadih nobel 2026 sudah diumumkan. Sayangnya, warga negeri ini kembali menjadi penonton. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Nobel 2026 mengumumkan para pemenangnya. Fisiologi atau Kedokteran diberikan kepada Karl Deisseroth dari Amerika Serikat, Peter Hegemann dan Georg Nagel dari Jerman atas kontribusi dalam optogenetika dan penelitian saluran ion yang dikendalikan cahaya. Mereka menerangi rahasia otak. Kita masih sibuk menerangi jalan menuju ruang rapat, sebab keputusan penting kadang lebih sering lahir di sana dari di laboratorium.

Nobel Fisika diberikan kepada Francis Halzen, ilmuwan Belgia-Amerika membangun Observatorium Neutrino IceCube dan menemukan neutrino berenergi tinggi dari astrofisika. Partikel misterius dari angkasa bisa ditemukan. Anggaran penelitian di negeri sendiri terkadang malah menghilang tanpa jejak. Neutrino saja kalah misterius!

Nobel Kimia diraih Henri B. Kagan dari Prancis dan Kenso Soai dari Jepang atas kontribusi dalam kimia asimetris, termasuk efek nonlinier dan autokatalisis. Mereka memecahkan misteri molekul. Kita masih memecahkan misteri proposal penelitian yang tebalnya seperti bantal, tetapi anggarannya setipis kerupuk. Tanda tangan pejabatnya lebih banyak daripada hasil penelitiannya.

Nobel Sastra diberikan kepada Anne Carson dari Kanada. Sementara itu, Pramoedya Ananta Toer memiliki Tetralogi Buru yang diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa dan kerap disebut layak menerima Nobel. Sayangnya, Pram wafat tanpa pernah membawa pulang penghargaan tersebut.

Nobel Perdamaian diberikan kepada Navi Pillay dari Afrika Selatan atas kiprahnya dalam perdamaian dan hukum internasional, termasuk pengakuan kekerasan seksual sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Nobel Ekonomi biasanya diumumkan 12 Oktober. Masih ada kesempatan, meskipun kita sudah terlatih menjadi penonton.

Indonesia sebenarnya punya sejarah Nobel. Christiaan Eijkman meneliti beri-beri di Batavia dan menerima Nobel Kedokteran 1929 atas penelitian yang menghubungkan kekurangan vitamin B1 dengan penyakit tersebut. Willem Einthoven, penemu elektrokardiografi, meraih Nobel 1924 dan lahir di Semarang. Tanah kita pernah menjadi tempat penelitian dan tempat kelahiran penerima Nobel. Kita menyediakan panggung, orang lain membawa piala.

Nobel Ekonomi 2019 diberikan kepada Abhijit Banerjee, Esther Duflo, dan Michael Kremer atas pendekatan eksperimental untuk mengurangi kemiskinan. Salah satu penelitian penting mereka berkaitan dengan Program Sekolah Dasar Inpres Indonesia pada 1970-an. Data kita membantu penelitian kelas dunia. Mereka membawa pulang Nobel, kita membawa pulang kenangan. Sampel lokal, medali internasional!

Sejak merdeka pada 1945, belum ada warga negara Indonesia yang memenangkan Nobel. Jusuf Kalla pernah dianggap berpotensi menerima Nobel Perdamaian karena perannya mendorong Perjanjian Helsinki 2005, tetapi tidak terpilih. Kepala BRIN pada 2026 mengakui jalan menuju Nobel sangat berat dan berkomitmen mendukung penelitian. Semoga bukan janji yang semangatnya meledak saat konferensi pers, lalu masuk ICU ketika pembahasan anggaran.

Lihat pula sistem pendidikan kita. Murid dijejali hafalan, guru dibebani administrasi, sekolah sibuk mengejar angka, sementara kreativitas kadang diperlakukan seperti tamu tak diundang. Anak bertanya mengapa, malah disuruh membuka halaman berikutnya. Padahal ilmu pengetahuan tumbuh dari keberanian mempertanyakan jawaban, bukan sekadar menghafal kunci jawaban ujian.

Politik juga punya pekerjaan rumah. Kita bisa menghabiskan energi berdebat soal kursi, jabatan, koalisi, dan siapa duduk di sebelah siapa. Namun, ketika bicara anggaran riset, mendadak semua menjadi ahli penghematan. Anggaran perjalanan rapat bisa melanglang buana, sedangkan anggaran laboratorium diminta berpuasa.

Tiongkok sudah memiliki penerima Nobel: Yang Zhenning dan Li Zhengdao pada 1957, serta Tu Youyou pada 2015. Tahun ini, Xue Qikun masuk daftar Citation Laureates berkat riset efek Hall kuantum anomali. Namun, prediksi bukan jaminan menang. Nobel Fisika 2026, menurut naskah ini, jatuh kepada Francis Halzen.

Masalah kita bukan kekurangan otak, melainkan ekosistem belum cukup subur untuk menumbuhkan penemuan kelas dunia. Kita membutuhkan laboratorium bermutu, guru dihargai, kebebasan akademik, dana riset berkelanjutan, dan birokrasi yang tidak membuat ilmuwan lebih sibuk mengisi formulir dari menguji hipotesis.

Jangan sampai ilmuwan sibuk meneliti, anggaran sibuk menghilang, politisi sibuk berpidato, murid sibuk menghafal, lalu bangsa sibuk bertepuk tangan untuk orang lain. Nobel bukan hadiah undian bagi negara yang paling rajin berpidato, melainkan penghargaan bagi kerja ilmiah yang berdampak nyata. Jangan sampai Nobel sudah mendarat di Mars, kita masih berdebat soal ijazah, keturunan nabi, qunut, rakaat taraweh, MBG, dan Kopdes.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page