Kalau Semua Manusia Berhenti Menyembah, Tuhan Masih Ada?

Kalau Semua Manusia Berhenti Menyembah, Tuhan Masih Ada?

Beberapa waktu lalu, saat memberikan kuliah di hadapan mahasiswa, saya bertanya, “Menurut kalian, apakah Tuhan itu ada?” Kelas mendadak sunyi. Seorang mahasiswa mengangkat tangan. “Tuhan itu diciptakan manusia, Pak.”

Brak! Bukan meja yang pecah. Kepala saya hampir meledak. Saya tersenyum. Kalimat sederhana itu membuka pintu menuju jurang filsafat, apakah manusia menemukan Tuhan atau menciptakan gagasan tentang Tuhan?

Mari mundur ribuan tahun. Di Mesir Kuno, Ra dipuja sebagai dewa matahari. Keyakinan menyatu dengan kehidupan masyarakat dan kekuasaan Firaun. Kuil dibangun, ritual dijalankan, persembahan diberikan. Firaun Akhenaton bahkan pernah mengutamakan pemujaan Aten sebelum tradisi lama dipulihkan setelah kematiannya.

Di Yunani Kuno, Zeus menjadi penguasa para dewa, pemegang petir dan penguasa langit. Kemudian Romawi mengagungkan Jupiter, padanan Zeus dalam tradisi mereka, sebagai dewa penting negara. Agama dan kekuasaan berjalan beriringan.

Namun, sejarah berubah. Kekristenan berkembang dan akhirnya memperoleh kedudukan resmi dalam Kekaisaran Romawi pada akhir abad keempat. Pemujaan terhadap dewa-dewa lama perlahan kehilangan dominasi.

Kini, Ra, Zeus, dan Jupiter lebih sering ditemukan dalam buku sejarah dan museum. Dulu manusia datang membawa persembahan. Sekarang wisatawan datang membawa kamera dan tongkat swafoto. Dulu ada berdoa di hadapan patung. Sekarang mahasiswa membuat makalah tentangnya sambil mengeluh karena tugas menumpuk.

Apakah perubahan itu membuktikan Tuhan tidak ada? Tidak sesederhana itu. Sejarah menunjukkan perubahan keyakinan manusia, tetapi tidak otomatis menyelesaikan persoalan keberadaan Tuhan.

Dalam Islam, Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Hingga kini, miliaran manusia menyebut nama-Nya dalam doa, ibadah, tangisan, kelahiran, dan kematian. Dalam teologi Islam, Allah tidak bergantung kepada manusia. Manusialah yang bergantung kepada Allah.

Namun, pertanyaan mahasiswa tadi tetap menggigit. “Jika manusia berhenti menyembah, apakah Tuhan ikut kehilangan keberadaan-Nya?”

Dunia modern memperlihatkan perubahan menarik. Menurut Pew Research Center, penduduk dunia tidak berafiliasi dengan agama meningkat dari sekitar 1,6 miliar pada 2010 menjadi 1,9 miliar pada 2020. Proporsinya naik dari 23% menjadi 24%. Kelompok ini mencakup ateis, agnostik, dan orang yang tidak mengidentifikasi diri dengan agama tertentu. Mereka tidak semuanya ateis.

Di Eropa, jumlah orang yang tidak berafiliasi dengan agama meningkat dari sekitar 139 juta pada 2010 menjadi 190 juta pada 2020. Proporsinya naik dari 18,7% menjadi 25,3%.

Di sejumlah negara, gereja menghadapi penurunan jemaat. Ada ditutup atau dialihfungsikan. Bangunannya masih berdiri, tetapi penghuninya berkurang. Lonceng bisa berbunyi, tetapi manusia datang tidak sebanyak dahulu.

Masjid pun ada lengang di luar waktu salat Jumat, Ramadan, atau hari raya. Namun, kondisi masjid tertentu tidak membuktikan, umat Islam di seluruh dunia semakin meninggalkan agama. Mayoritas penduduk dunia masih berafiliasi dengan agama.

Jangan buru-buru menyimpulkan dunia sedang menjadi ateis. Akan tetapi, perubahan cara manusia memandang agama memang layak direnungkan. Apakah mereka kehilangan kepercayaan kepada Tuhan, atau sekadar mengubah cara menjalankan keyakinan?

Pertanyaan itu semakin menarik ketika bencana datang. Pada Agustus 2026, banjir bandang melanda kawasan perbatasan Nepal–Tibet. Beredar video yang diklaim memperlihatkan warga Nepal membuang patung dewa ke sungai karena kecewa kepada Tuhan.

Narasinya dramatis. Seolah-olah manusia sedang menggelar sidang evaluasi terhadap penghuni langit. “Banjir datang, rumah hancur. Mengapa kalian tidak menolong kami?”

Namun, video tersebut ternyata memperlihatkan ritual Ganesh Visarjan di India, yakni prosesi menenggelamkan patung Ganesha dalam tradisi keagamaan Hindu. Video itu bukan bukti warga Nepal membuang patung karena kecewa setelah banjir.

Meski demikian, bencana tetap mengundang pertanyaan filosofis. Sebagian orang semakin mendekat kepada Tuhan. Sementara yang lain mempertanyakan keyakinannya. Korban bencana membutuhkan makanan, tempat tinggal, obat-obatan, dan pertolongan nyata. Ketika rumah hanyut, yang diperlukan adalah tangan menolong, bukan mikrofon untuk memenangkan debat agama.

Lalu datanglah kecerdasan buatan atau AI. Manusia menciptakan mesin bisa menjelaskan sejarah, filsafat, agama, bahkan membantu menulis skripsi. Dulu manusia bertanya di perpustakaan. Sekarang perpustakaan masuk ke saku. Dulu bertanya kepada guru. Sekarang mengetik, “Wak, menurutmu bagaimana?”

Manusia dahulu membuat patung dewa, sekarang membuat AI. Dulu mendatangi kuil, sekarang menatap layar. Bedanya, dulu bertanya kepada langit, sekarang bertanya kepada mesin.

Namun, AI bukan Tuhan. Mesin bisa salah, mengarang jawaban, dan terdengar meyakinkan meskipun keliru. Jangan sampai manusia menyerahkan akal sehat kepada algoritma hanya karena jawabannya terdengar cerdas. Dulu altar terbuat dari batu. Sekarang altar kita bercahaya enam inci di telapak tangan.

Kembali kepada pertanyaan mahasiswa tadi, apakah Tuhan diciptakan manusia? Dalam keyakinan Islam, Allah adalah Pencipta, bukan ciptaan manusia. Secara historis, manusia memang membangun simbol, ritual, dan lembaga keagamaan untuk menjalankan keyakinannya. Namun, membuat simbol tentang sesuatu tidak otomatis berarti menciptakan hakikat yang disimbolkannya.

Saya menatap mahasiswa itu. Kelas kembali sunyi. Matahari tetap terbit. Bumi tetap berputar. Alam semesta tidak menggelar jajak pendapat untuk menentukan apakah manusia masih percaya kepada Tuhan.

Manusia hanya makhluk kecil di sebuah planet kecil, tetapi kadang berbicara seolah-olah memegang notulen rapat penciptaan alam semesta. Kemarin manusia bertanya di kuil. Hari ini bertanya di layar. Besok entah di mana.

Namun, jika suatu hari seluruh manusia berhenti menyembah, rumah ibadah runtuh, buku menjadi debu, dan semua server padam, apakah Tuhan ikut menghilang? Dalam teologi Islam, Allah tidak bergantung pada makhluk-Nya. Filsafat mengajak kita merenungkan perbedaan antara keberadaan dan keyakinan manusia tentang keberadaan.

Maka, pertanyaan terakhirnya bukan sekadar apakah manusia mampu menciptakan mesin yang menjawab hampir semua pertanyaan. Melainkan, dari mana datangnya kemampuan manusia untuk bertanya tentang keberadaan itu sendiri?

Terakhir, saya bertanya, “Apakah kalian paham apa yang bapak jelaskan?” Rata-rata masih bingung. Ada geleng kepala. Ada tersenyum. Gimana dengan kalian, wak?

 

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page